Friday, April 20, 2018
Home > Burqa > Maroko melarang penjualan busana Muslim Burqa

Maroko melarang penjualan busana Muslim Burqa

Kerajaan Maroko mengeluarkan larangan penjualan busana muslim Burqa, sebagai upaya untuk menghabisi kelompok militan. Bahkan, The Telegraph mengabarkan Kamis (12/1/2017), sebuah seruan lewat surat dikirim ke seluruh pembuat pakaian muslimah, untuk menarik seluruh penjualan burqa di tokonya, dalam waktu 48 jam.

 

Belum diketahui, apakah larangan itu diberlakukan pula bagi kaum perempuan Maroko yang mengenakan Burqa, pakaian Muslimah yang menutup seluruh tubuh kaum hawa.

‘’Kami mengambil langkah pengamanan, dengan melarang impor, memproduksi dan menjual pakaian burqa di seluruh kota dan wilayah Kerajaan Maroko,’’ tutur seorang pejabat tinggi Pemerintah Maroko kepada sebuah situs berita le360. Sementara itu, departemen luar negeri menekankan bahwa Kerajaan Maroko yang menjadi tujuan wisata 600 ribu turis Inggris, sangat rawan atas serangan terorisme.

Raja Mohammed VI yang menduduki Tahta Kerajaan Maroko, pernah menyatakan bahwa Maroko lebih cenderung Islam moderat dan berupaya membasmi terorisme yang tumbuh di dalam negeri. ‘’Mereka yang terlibat terorisme menggunakan nama Islam, bukan Muslim,’’ kata Raja Mohammed VI, Agustus 2016 lalu. ‘’Mereka menggunakan ayat-ayat Islam untuk membenarkan aksi kejahatan mereka,’’ sambung penguasa Maroko itu.

 

Pelarangan penjualan Burqa menimbulkan kritik dari kaum Salafi yang dianut di antara warga Maroko. Namun banyak pula yang mendukung keputusan rajanya. ‘’Bagi kami, mengenakan burqa mencerminkan kepatuhan kaum hawa,’’ ujar Saida Drissi, ketua Asosiasi Perempuan Demokratik Maroko. ‘’Kelompok Salafi bebas menggunakan mobil, telepon pintar, tapi mereka membelenggu para istrinya di balik burqa,’’ sambungnya.

Departemen dalam negeri Maroko mengungkapkan telah memberangus 160 sel teror sejak 2002. Jauh lebih baik dibandingkan negara-negara Afrika Utara. Sekitar 1.500 warga Maroko berangkat ke Suriah dan Irak mendukung ISIS. Salah Abdeslam, salah satu pelaku pengeboman Paris, November 2015 lalu, adalah warga Prancis, keturunan Maroko.