Press "Enter" to skip to content

Namaku Taskerianto Morriswari

Perkenalkan! Namaku Taskerianto Morriswari. Seorang muda yang tinggal di Amerika. Di sebuah kota yang bernama Philadonesia. Ya. Kusebut dia Philadonesia karena banyaknya saudara setanah air yang tinggal bersamaku di sini. Di kota inilah, semua mimpiku tentang Amerika dibalikkan oleh narasi-narasi tersembunyi dari balik Big Van yang berseliweran di pagi hari, tembok rumah yang berderet, dan suara mesin pabrik.

Sabar

Di cerita ini Anda akan menemukan apa makna Big Van (bis mini berisi sekitar 10 orang), tembok rumah, dan mesin pabrik bagi kami, orang Indonesia di Philadonesia. Ketiganya membalikkan narasi tentang American Dream dan mengubahnya jadi American Nightmare.

 

Aku akan mencatat setiap pengalaman dan perasaan selama tinggal di negerinya si Barry, yang katanya pernah menghabiskan masa kecilnya di Menteng Dalam, tempat kelahiranku. Meski sama-sama pernah tinggal di Menteng Dalam, kami tak pernah reunian di sini. Orang Jakarta memang hebat. Mereka mampu meramal masa depan. Jalan raya dekat Menteng Dalam dinamai Casa Blanca, yang dalam Bahasa Inggris disebut dengan White House. Orang Jakarta tahu bahwa si Barry suatu saat akan tinggal di White House!

Ah, sudahlah! Itu cuma uthak athik gathuk ala orang Jawa.

Kembali ke Philadonesia.  

Aku jadi ingat puisinya M. Aan Mansyur,

“Tidak ada New York hari ini.
Tidak ada New York kemarin.
Aku sendiri dan tidak berada di sini.
Semua orang adalah orang lain.”

Senada dengan mereka yang tinggal di New York, di Philadonesia aku juga merasakan kesepian dan setiap orang adalah orang lain. Meski banyak orang Indonesia di sini. Mulai dari politisi tak berisi hingga seniman yang senang berkawan. Mulai dari para pekerja keras, yang bekerja tiga shift pagi, siang, malam. Hingga para pemalas yang menghabiskan uangnya di kasino-kasino, seperti Sugar House dan Atlantic City. Cerita-cerita mengenai karakter orang-orang di kota Philadonesia ini akan ku publikasikan di blog-ku. “Tulis karena kertas gersang. Tenggorokan yang kering sedikit mau basah,” sebagaimana kata-kata Chairil Anwar.




Ya. Kami di sini kehausan. Lelah bekerja menjadi kuli dollar yang mengumpulkan tiap 7.25 dollar satu jam, yang kadang dipotong oleh agency dan sub-agency. Kami hanya makan sisa-sisa. Sebab utamanya kami kumpulkan dan kirimkan untuk keluarga via MoneyGram atau Ria. Ditipu adalah hal biasa. Kecewa adalah perasaan yang kita semua maklum. Kaki bengkak dan pegal karena berdiri seharian adalah hal yang tak bias ditawar. Semua itu sudah biasa.

Kami hanya makan sisa-sisa. Dihisap para pemodal yang ingin kami non-stop bekerja dan agency yang setia mengambil selisih dari upah kerja. Kami sapi perahan yang hanya makan sisa-sisa. Tapi kami masih dikejar-kejar imigrasi oleh karena tak punya surat yang bernama visa dan izin kerja. Uang cash yang kami dapatkan, kami simpan dibalik bantal. Kadang diambil teman sekamar atau serumah yang tak amanah. Kadang terpaksa kami bawa kemana-mana. Membuat kami diburu mereka yang berniat jahat di jalan-jalan Philadonesia.

Banyak di antara kami yang pergi ke gereja. Melepaskan penat hidup di hadapan Pak Pendeta. Bernyanyi dalam nama Tuhan dan untuk menguatkan semangat esok hari. Ya, kami perlu semangat dan ketegaran untuk kami untuk kembali bekerja (baca: diperas dan dihisap). Untuk berbulan-bulan. Untuk bertahun-tahun. Hingga kami lupa bahwa kami makin menua. Tubuh mulai ringkih dan kaki mulai bergetar. Napas juga akan mulai sesak.

Aku tahu akan tiba masanya. “Ada tanganku akan jemu terkulai. Dan mainan cahaya di air hilang bentuk dalam kabut. Dan suara yang kucintai kan berhenti membelai.”   

Selamat menikmati kisahku di kota Philadonesia.

Mission News Theme by Compete Themes.