Saturday, July 22, 2017
Home > Community > Moeljadi: ”Paper Bisu, Roti Setan, dan Kutub Selatan”

Moeljadi: ”Paper Bisu, Roti Setan, dan Kutub Selatan”

Dialah temanku yang suka bekerja keras. Moeljadi namanya. Aku sering memanggilnya dengan sebutan Moel saja. Meski Moeljadi atau Mulyadi adalah nama pasaran di tanah air, asal-usul nama Moel agak sedikit tidak lazim.

Saat awal-awal menikah, sebenarnya kedua orang tua Moel tak berniat punya anak. Segala macam alat kontrasepsi dicoba pasangan pengantin baru itu. Namun, apa daya Tuhan berkehendak lain –dan ini yang sering dibangga-banggakan Moel. “Banyak orang bilang anak itu ciptaan orang tua. Tapi gue, iya gue, ciptaan Tuhan, Bro! Biar bokap en nyokap gue ga berkehendak gue tercipta, eeh Tuhan tetep nyiptain gue,” kata Moel saat cuci baju di laundromat beberapa waktu lalu sambil melirik chicana dari Mexico yang sedang membungkuk mengeluarkan cuciannya dari mesin cuci.  

 

Nyokap-nya Moel tidak tahu bahwa gejala kehamilan salah satunya adalah mual alias ngidam. Suaminya mengira istrinya hanya masuk angin biasa karena semua alat kontrasepsi telah dicoba. Sampai akhirnya dokter tetangga bilang, “Ya kalau mual, pasti jadi.”

“Jadi apa?”

“Ya jadi anak!”

Singkat cerita, akhirnya ketika lahir si bayi laki-laki nan montok dan sehat itu diberi nama Moeljadi. Sebab si nyokap mual, ia jadi. Sungguh nama yang berdasarkan filosofi agung dan fakta yang nyata-tak terbantahkan.

Moeljadi kerja di sebuah toko kelontong dengan sistem franchise: Toko 9-Eleven. Cabangnya ada di banyak negara. Termasuk di Indonesia. Bedanya, beli kopi di 9-Eleven di Amerika masih terjangkau kelas bawah, sedang di Indonesia hanya bisa dijangkau kelas mewah.

 


Suatu saat Moel pernah berkata, “Tas, loe tahu ga bahwa toko-toko seperti 9-Eleven itu menciptakan ketergantungan pada customer-nya?”

“Gimana caranya?” tanyaku.

“Customer-customer gue tuh, tiap hari ke toko gue sebagai bagian dari kehidupan mereka.”

“Ah lebay luh!”

“Beneran, Tas! Semua promo di 9-Eleven atau Wewe (pesaing 9-Eleven) selalu at least tiga hari sampai dua minggu. Dia sengaja kasih kopi plus donat dengan harga murah. Tiga hari aja itu orang beli kopi dan donat murah, pasti jadi balik terus. Sampai dia ngerasa kalau ga ke toko gue sehari aja sesuatu hilang dari hidupnya,” katanya dengan mata berbinar-binar.

“Mulai dari penataan toko sampai pernak-pernik toko dibuat agar orang beli sesuatu dan beli lagi. Rak disusun untuk menarik hati customer biar beli terus. Gue sampai hafal customer A belinya apa saja dan customer B belinya apa saja. Mereka baru sampai parkiran aja, barangnya udah gue siapin.”

“Masak?

“Iya, Tas. Itu orang baru keluar mobil, rokok yang dia beli tiap hari udah gue siapin. Pas dateng ke kasir, gue baru keluarin. Dia bilang, ‘Oohh you stole my heart…’ Dalam hati sih gue bilang, ‘Yes, I steal your heart to pull out your money’.”

Ya. Konsumerisme memang keras dan merayu. Iklan dimulai saat kita membuka mata saat bangun hingga saat kita menutup mata lagi. Iklan mengintai kita mulai dari kita buka fesbuk atau sosial media, mengamati kita sepanjang jalan dari billboard, poster, dan lain sebagainya, di dalam kereta subway, di koran yang kita baca, di e-mail yang kita buka, di radio yang kita dengarkan, atau di siaran tv yang kita lihat. Iklan dan perintah untuk belanja menghantui otak kita pagi, siang, dan malam. Iklan mengubah yang laknat menjadi nikmat. Rokok yang membunuh diidentikan dengan kegagahan dan petualangan. Politisi yang busuk dan korup menjadi pahlawan yang menggerakan perubahan.

“Iklan itu seperti Dajjal,” kata Habib Tindiq Shikat.

“Dajjal menawarkan api sebagai air dan air sebagai api. Orang percaya dan meminum air itu dan mereka makin kehausan. Sedangkan, air yang sebenarnya disiram api yang menguapkan-nya. Orang-orang pada tercekik kehausan dan tergantung pada si Dajjal,” kata si Habib yang konon masih keturunan Nabi Muhammad. Namun, tak jelas ia keturunan ke berapa.

 


Kembali ke si Moel.

Dia punya jam panjang kerja di 9-Eleven. Senin sampai Jumat Moel kerja di 9-Eleven yang letaknya di pinggiran kota Philadonesia. Sehari bisa 10 jam. Dengan waktu berangkat, pergi dan pulang kerja bisa memakan waktu hampir 2 jam. Sabtu dan Minggu digunakannya untuk kerja juga. Minggu kerja setengah hari. Setengah hari lagi digunakan untuk ke gereja dan cuci baju. Sisa waktu dipergunakan untuk video call dengan pacarnya di Indonesia. Ini penting. Pacar adalah penyemangat Moel untuk kerja, kerja, dan kerja. Selepas kerja harus nabung, nabung, dan nabung. Irit-irit pengeluaran di sini buat nabung di masa depan.

Moel datang ke Amerika berbekal visa turis. Dia sebenarnya cuma boleh tinggal 6 bulan. Namun kini bablas jadi 6 tahun. Para pemegang kebijakan di negeri Paman Samsul ini menyebut orang-orang seperti Moel sebagai undocumented immigrant (ini yang paling netral), illegal immigrant (ini yang agak menyakitkan), atau illegal alien (ini yang paling menyakitkan. Emang kita dari planet lain apa!).

Dikejar-kejar imigrasi sehingga harus pindah-pindah rumah, pakai nama berbeda ke orang yang baru dikenal, atau punya akun fesbuk pakai nama-nama adalah keseharian yang tak terpisahkan dari diri Moel.

Itu suatu kebutuhan. Dan dalam keseharian hidupnya. Untuk tetap bisa bertahan. Menjadi kuli dollar. Menjual tenaganya secara “ilegal” untuk memenuhi pundi-pundi uang para bilyuner di Amerika. Juga menyediakan healthcare dan food stamp bagi wara negara Amerika.

Moel pernah cerita. Ada orang Indonesia yang ditangkap imigrasi lalu diminta menyebutkan orang-orang yang dia kenal dan tidak bersurat. Lebih bagus jika pakai alamat lengkap sebagai data imigrasi untuk memburu orang-orang seperti Moel. Oleh karena itulah, nama palsu dan tempat tinggal berpindah diperlukan untuk menghapuskan jejak.

Tentu saja Moel punya dua atau tiga teman dekat yang tahu semua tentangnya. Selebihnya adalah pertemanan biasa yang hanya berbicara di permukaan. Meski pertemanan di gereja-gereja. Bagi Moel, “Setiap orang adalah orang lain.”

Sambil bercanda, Moel pernah bercerita waktu awal-awal sampai ke Philadonesia. Sungguh bayangannya mengenai Amerika berubah 180 derajat!

“Biasanya yang baru pindah ke Phila pernah merasakan kerja di tiga tempat: Paper Bisu, Roti Setan, dan Kutub Selatan,” katanya sambil tertawa.

“Hahaha… Apaan saja tuh, Moel?”

“Paper bisu itu kita kerja di mailing company atau percetakan. Kerjaannya menyusun halaman-halaman surat, booklet, atau yang lainnya secara berkelompok. Selama bekerja ga boleh ngomong. Kalau ngomong dimarahin sama group leader-nya. So no English needed! “

“Roti Setan itu kalau kita kerja di pabrik roti. Tugasnya simpel! Cuma ngeluarin roti dari oven. Panas-panas! Saking banyak dan panasnya itu roti, kita pasti mengumpat, “SETAN!”

“Tak ada yang bikin masuk angin selain kerja di Kutub Selatan atau kerja di Buah. Kerjaannya mensortir, mengepak, dan memindahkan buah-buahan untuk dijual di supermarket-supermarket di Pantai Timur Amerika. Namanya juga buah-buahan. Harus disimpan di warehouse yang dingin agar kalian para penikmat buah dan vegetarian bisa menikmatinya dalam kondisi segar. Kalau para konsumen tahu, gue muntah-muntah selesai kerja, mereka pasti berhenti makan buah segar. Hahahaha!”

Moel menerangkan dengan gaya serius tapi santainya.

Ya, Moel adalah salah seorang dari jutaan imigran lelaki jomblo yang bekerja di Amerika. Bahasa kerennya adalah single male immigrant. Hidupnya adalah kerja, kerja, kerja. Cinta dan pesta bisa menunggu di masa depan. Nikah? Entar kalau duit sudah terkumpul.

Segmen imigran macam Moel inilah yang selalu di bawah tanah. Tidak terbaca statistik dan media. Diam dan kerja. Tak termanfaatkan politisi-politisi yang menjual nama komunitas. Tak tertarik ikutan kumpul-kumpul. Hiburannya adalah chatting dengan pacar atau nonton TV streaming dari kamar kos mereka yang sempit dan pengap. Makan dari katering yang datang sore hari. Kerja sebagai kitchen helper, buruh pabrik, penjaga laundry atau toko, supir Uber/Lyft, dan beberapa profesi lainnya.   

Ya. Moel memberiku banyak inspirasi mengenai harapan dan kegigihan untuk masa depan. Tapi, sampai kapan? Banyak orang yang telah pulang, namun mereka akhirnya gagal dalam berbisnis, ditipu keluarga atau teman, usaha baru yang dirintis di tanah air kandas, dan sejuta kisah lainnya.
Moel sebenarnya jatuh hati pada Carisliana. Untuk menyamarkan kalau dia suka, biasanya dia memanggil perempuan itu dengan nama Carisle. Siapa Carisle? Ikuti kisahku selanjutnya.