Press "Enter" to skip to content

Qatar Terancam kekurangan pangan bila dikucilkan Timur Tengah

Qatar terancam kelaparan, setelah Arab Saudi, Mesir, Uni Arab Emirat, Bahrain dan  memutuskan hubungan, gara-gara Qatar mendukung kelompok militan Islam.

The Washington Post mengabarkan Senin (5/6/2017), bahkan Maldives mengumumkan berniat memutuskan hubungan juga. Kini, menurut harian kondang itu, yang terancam adalah 2,24 juta penduduk yang tinggal di Qatar. Gambar dan video yang beredar di linmasa menunjukkan deretan rak yang kosong di sejumlah pasar swalayan. Hal ini menandakan, penduduk mlai menimbun barang-barang dan makanan, karena khawatir situasi makin memburuk.

Theodore Karasik, penasehat senior dan pengamat Negara-negara Teluk di Washington DC mengungkapkan, ‘’99% bahan pangan diimpor dari luar negeri, melalui laut, udara dan darat,’’ katanya. ‘’Mereka sangat tergantung pasokan dari luar, terutama bahan pangan,’’ tutur Karasik. Sebagian besar makanan tradisional diimpor dari negara-negara Arab sekitarnya dan melewati Arab Saudi.

Meski pasar swalayan di Qatar sibuk menghadapi pembeli yang sibuk di bulan Ramadhan, namun laman Doha News mengabarkan, jumlah pembeli lebih banyak dari biasa. ‘’Saya tidak pernah melihat para pembeli menumpuk makanan di kereta dorong seperti ini,’’ tutur seorang penduduk. Bahkan menurut televisi Al Jazeera yang bermarkas di Doha, Qatar, sejumlah truk pembawa makanan diberhentikan di perbatasan Arab Saudi dan Qatar.

 


Ada kabar, Qatar telah melakukan langkah alternatif lain untuk menanggulangi bila terjadi krisis pangan. Menurut Kantor Berita Fars News dari Iran, seorang pejabat Iran mengungkapkan, Pemerintah Teheran akan mengirim bahan makanan ke Qatar. Reza Nourani, Ketua Eksportir Pertanian Iran menyatakan pihaknya siap mengirim bahan makanan dalam jangka waktu 12 jam.

Mission News Theme by Compete Themes.