Thursday, November 23, 2017
Home > Art > Buka bersama Masjid Al Falah, dengan para tokoh agama Philadelphia, Juni 2017

Buka bersama Masjid Al Falah, dengan para tokoh agama Philadelphia, Juni 2017

Indonesian Community of Greater Philadelphia (ICGP) menyelenggarakan acara buka puasa bersama Sabtu 10 Juni 2017. Acara yang berlangsung di Masjid Al-Falah ini selain dihadiri komunitas muslim Indonesia dan Amerika juga dihadiri tokoh agama Kristen dan Katolik, perwakilan East Point Breeze Neighbors (EPBN), New Sanctuary Movement, Permias (Persatuan Mahasiswa Indonesia Amerika) serta Modero Dance.

Acara diawali dengan sambutan Zoehelmy Husen selaku imam Masjid Al-Falah yang menyampaikan sejarah berdirinya masjid komunitas Indonesia ini pada tahun 2008 dan organisasi ICGP (Indonesian Community of Greater Philadelphia) yang memayunginya. Beliau menyampaikan alasan organisasi ini bernama ICGP bukan IMGP (Indonesian Muslim of Greater Philadelphia) karena organisasi ini terbuka tidak hanya bagi mereka yang beragama Islam melainkan seluruh komunitas Indonesia di Philadelphia dan sekitarnya.

Hani White, tokoh masyarakat Indonesia dikota ini  mengatakan bahwa  acara buka puasa lintas agama dimaksudkan agar kita semua dapat lebih kenal, lebih akrab dengan tetangga dari berbagai komunitas berbeda. Selain itu jika suatu hari nanti komunitas Indonesia ingin mengundang anggota DPRD Philadelphia untuk hadir dalam acara yang diselenggarakan maka akan lebih mudah karena mereka sudah mengenal kita.

Puasa Ramadhan yang lebih dari sekedar menahan lapar dan dahaga, merupakan anugerah besar Allah SWT untuk menempa diri menuju karakter muslim sejati tentunya memiliki tantangan tersendiri bagi diaspora Indonesia di Philadelphia.

 

 

Kepada penulis, Syarif Syaifulloh berbagi pengalaman. Pria yang bekerja dibagian dapur sebuah rumah sakit ini mengatakan tantangan utama yang dihadapi saat berpuasa adalah rasa haus.  Tugas beliau yang berdekatan dengan kompor membuat dahaga makin terasa, namun karena tekad dan ibadah maka tidak dihiraukannya terlebih jika waktu sudah melewati jam 3 sore.

Durasi puasa yang umumnya dua setengah jam lebih panjang dari di Indonesia juga tidak menjadi masalah baginya. Selama belasan tahun tinggal di Amerika Serikat, pria yang dikenal dengan julukan Pak Tani ini tidak pernah mendapat masalah untuk menjalankan ibadah puasa. Rumah sakit tempatnya bekerja menyediakan mushollah untuk salat dan berbuka puasa.

Seorang wanita diaspora Indonesia yang juga sudah belasan tahun menetap di Amerika mengatakan bahwa bulan puasa yang tidak selalu jatuh pada musim panas memiliki tantangan berbeda. Mengatasi rasa haus saat berpuasa dimusim panas dan  rasa lapar saat berpuasa dimusim dingin merupakan tantangan tersendiri, namun semuanya dapat dilalui dengan lancar.

 

Wanita bernama Ayu ini mengatakan bahwa  selama tinggal di Amerika beliau tidak pernah mendapat halangan apapun untuk menjalankan ibadah namun disayangkan sejak beberapa bulan terakhir ini berkembang Islamophobia dalam masyarakat. Ayu yang mengenakan jilbab ini mengatakan kerap mendengar ucapan yang tidak enak ditujukan pada dirinya oleh sebagian anggota masyarakat. Salah seorang kawannya yang juga berjilbab hampir memutuskan untuk menanggalkan jilbab tetapi dinasehati Ayu agar berserah kepada Allah.

Namun demikian Ayu menegaskan bahwa hanya segelintir orang yang terjangkit Islamophobia, suatu ketika ada beberapa orang yang datang menolong ketika Ayu hampir jatuh saat sedang berjalan (B.Anggono/mataindependen.blogspot.com)