Press "Enter" to skip to content

Tri Rismaharini Yang Membuat Philadelphia berdecak kagum

Dengan trampil Tri Rismaharini menaiki kendaraan penyapu jalan berwarna kuning. Setelah diberi beberapa petunjuk, Risma menyapu sepanjang jalan Hicks Street di Philadelphia menggunakan mesin penyapu jalan bermerk Tennats, dibantu sejumlah warga Indonesia. Sampah yang berserakan di jalanan tampak disedot belalai mobil penyapu itu sampai bersih.

 

Itulah salah satu kegiatan Walikota Surabaya, saat berkunjung ke Philadelphia, salah satu kota yang banyak dihuni warga Jawa Timur, Sabtu 28 Oktober 2017. Setelah beristirahat sebentar dan menikmati makan pagi di Warung Surabaya di Hicks Street, Risma menuju ke Gedung Bethany Indonesian Church, salah satu gereja Kristen warga Indonesia di Philadephia.

Di ruang serba guna yang tampak megah itu, Risma menyatakan senang bertemu dengan warga Indonesia di Philadelphia. ‘’Saya ke AS, karena diundang untuk berbicara di hadapan sekitar 400 orang di acara 12th Global Forum on Human Settlements, GFHS ’’ tutur Risma. Dan, yang tak kalah pentingnya, Kota Surabaya mendapat penghargaan Sustainable Cities and Human Settlements, SCAHSA yang diberikan kepada Tri Rismaharini di Gedung PBB, pada hari Senin, 30 Oktober 2017.

Penghargaan tingkat internasional itu layak diterima Tri Rismaharini. Perempuan kelahiran Kediri berusia 55 tahun yang menjadi Walikota Surabaya tahun 2010 itu, berhasil mengubah wajah Surabaya yang dulu dikenal dengan ‘Gang Dolly’ – tempat pelacuran terbesar di Asia Tenggara – menjadi kota paling bersih dan asri di Asia Tenggara, menyaingi Singapura. Surabaya kini memiliki 372 buah taman di berbagai lokasi. Satu di antaranya adalah Taman Siola, terletak di atas jembatan penyeberangan. Termasuk Taman Dolly yang kini tampak asri, karena ditanami banyak bunga warna-warni. ‘’Bunga Sakura di Surabaya lebih banyak jenisnya dibandingkan di AS,’’ kata Risma bangga.

 

Sekitar 1.400 perpustakaan dan Taman Bacaan Masyarakat telah dibangun, sehingga para bocah terlantar dapat belajar secara gratis hingga pukul 21.00. Banyak di antaranya yang menjadi juara kelas, karena dibimbing oleh para mahasiswa dan pelajar seniornya.

‘’Perpustakaan itu kini menjadi tempat tujuan kawula muda karena di sana tersedia saluran internet secara gratis. Kami juga bisa mengontrol mereka,’’ kata Risma yang disambut decak kagum para pengunjung. ‘’Jumlah anak-anak miskin lebih dari 60%, kini kurang dari 5%,’’ sambungnya. Para mahasiswa pun dapat mencetak kertas kerjanya secara gratis di printer  yang tersedia di perpustakaan umum.

Kantor Walikota Surabaya juga menerapkan disiplin tinggi bagi anak-anak usia sekolah di Surabaya. ‘’Bagi para bocah yang berkeliaran di Mall atau tempat keramaian pada jam belajar akan ditangkap,’’ kata Risma. Orang tua dan guru mereka akan dipanggil. ‘’Biasanya mereka tidak takut pada orang tuanya, tapi takut pada gurunya,’’ tandas Risma, ibu seorang putra dan putri itu.

Para ibu rumah tangga Surabaya kini boleh disebut sebagai Pahlawan Ekonomi. Sebab, di bawah bimbingan Kotamadya Surabaya, kini terbentuk  6.750 kelompok usaha kecil dan menengah. ‘’Bahkan beberapa di antaranya mendapat keuntungan sekitar Rp 600 juta hingga $ 1 milyar per bulan,’’ tutur Risma, yang makin menyebabkan pengunjung melongo. Dari lokasi kampung Dolly yang dindingnya berhias gambar warna-warni, kini dihasilkan barang-barang ekspor seperti Sepatu Dolly, Batik Dolly.

Urban Farming, menjadi bagian dari seluruh keluarga di Surabaya. Mereka menanam sejumlah sayuran dan cabe organik di pot-pot bunga dan di halaman. Kini, bercocok tanam di perkotaan menjadi mata pencarian baru, dan setiap hari menghasilkan 60 ton hingga 80 ton cabe. ‘’Cabe Made yang banyak beredar di Indonesia, adalah produksi Kelurahan Made, Surabaya,’’ ujar Risma. ‘’Sampai sebulan tidak busuk, karena organik,’’ sambungnya. Bahkan petani garam di Surabaya berhasil memproduksi 140 ribu ton dalam tahun 2017 ini. ‘’Harga garam dan harga cabe tidak pernah naik di Surabaya,’’ tegas Risma.

 

Tak cuma itu. Pihak Kotamadya Surabaya menyediakan sekolah gratis, dan biaya kesehatan secara cuma-cuma kepada 4 ribu anak yatim dan cacat tubuh. Sekitar 16 ribu warga lanjut usia – dari berbagai badan sosial seperti masjid dan gereja – juga mendapatkan pelayanan gratis dan tempat khusus bagi mereka yang ingin kumpul-kumpul. Belum lagi memberi tambahan makanan bagi 267 warga yang kekurangan. ‘’Kami menyediakan dokter yang datang ke tempat pasien bila tidak mampu berjalan. Kami sediakan pula kendaraan ambulans yang siap selama 24 jam!’’ kata Risma, insinyur lulusan Institut Teknologi 10 November, Surabaya.

Fasilitas Kotamadya Surabaya yang serba elektronik, menjadikan pembuatan Kartu Tanda Penduduk butuh waktu kurang dari  tiga hari. Surat izin usaha, pendirian perusahaan, akte kelahiran misalnya, bisa diselesaikan dalam beberapa menit, karena surat izin itu dikirim langsung ke email atau telepon genggam dan dapat dicetak sendiri. Sedangkan akte nikah butuh lebih lama karena menggunakan hologram.



Untuk menerima pengaduan masyarakat, Kotamadya Surabaya menyediakan Jalur Darurat bernomor 112. Di nomor inilah, mereka yang membutuhkan bantuan akan dilayani. Tak peduli apakah mereka bukan warga Surabaya. Seperti yang dilakukan seorang tenaga kerja Indonesia di Hong Kong yang orang tuanya harus berobat ke RS Dr. Sutomo.

‘’Kami jemput dari Nganjuk agar bisa dirawat di Surabaya,’’ tutur Risma. ‘’Lalu apakah saya yang berasal dari Aceh boleh menjadi warga Surabaya?’’ tanya Cut Sahara Hamzah, warga AS berdarah Aceh yang menetap di Philadelphia. ‘’Boleh. Setiap orang boleh menjadi warga Surabaya,’’ ujar Risma menegaskan.

Menurut Risma, sumber dana operasional Kotamadya Surabaya, berasal dari dalam kota. ‘’Jika dulu sekitar 70% dana didapat dari Pemerintah Pusat, maka kini hanya 40% saja. Sisanya yang 60% kami dapatkan dari usaha dan pajak serta anggaran belanja Kota Surabaya,’’ tutur Risma yang tak pernah mengganggu perusahaan-perusahaan yang akan beroperasi di Surabaya.

 

‘’Semuanya dilakukan serba elektronik, sehingga menghindari terjadinya penyelewengan,’’ kata Risma yang mendapat sejumlah penghargaan. Antara lain menjadi salah satu dari 10 Most Inspiring Women 2013 oleh Forbes Indonesia. Dan salah satu penerima 50 greatest leaders by Fortune Magazine, serta Ideal Mother Award 2016 dari Cairo University oleh Islamic Educational Scientific and Cultural Organization ISESCO.

Risma yang disertai rombongan dari Surabaya dan diantar oleh Abdulkadir Jailani, Konsul Jenderal RI New York, menikmati makan siang yang disediakan oleh Pecel Ndeso. Jasaboga milik Aditya Setyawan dan Irza Noer Hajati ini, menyajikan makanan di atas daun pisang, sehingga para tamu Lunch Gathering – termasuk pengusaha Indonesia di Philadelphia – semakin menikmati makanan khas Jawa Timur, lengkap dengan jajan pasarnya.

Rombongan Tri Rismaharini juga sempat berkunjung ke Masjid Al Falah, masjid warga Muslim Indonesia di Philadelphia dan Gereja Katedral Basilika Santo Petrus dan Paulus, di Pusat Kota Philadelphia. Pada Senin 30 Oktober 2017, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, menghadiri Pemberian Sustainable Cities and Human Settlements, SCAHSA dan berpidato serta menerima penghargaan dari Badan Internasional  PBB. (Foto: Bono-Mata Independen & Hani White. Video: Wiharta Lim)



Mission News Theme by Compete Themes.