Sunday, December 17, 2017
Home > Achievement > Antara Terry Rombot & Para Investor China ke Indonesia

Antara Terry Rombot & Para Investor China ke Indonesia

Terry Rombot akhirnya dibebaskan dari tahanan imigrasi, setelah gugatannya terhadap keputusan Presiden Trump, dikabulkan pihak pengadilan Distrik Boston, Massachussets. ‘’Dia boleh keluar dari pengadilan sekarang juga,’’ tutur Patti Saris, Hakim kepala Distrik New Hampshire, Kamis (2/11/2017). ‘’Beginilah seharusnya dia diperlakukan. Dia diberi kesempatan untuk mengurus masalah keimigrasiannya, tanpa harus dibelenggu,’’ tambah Patti Saris.

Terry Rombot, 55 tahun yang tampaknya terkejut dengan keputusan hakim, tak sempat berganti pakaian umum dan masih mengenakan seragam tahanan imigrasi berwarna biru tua. ‘’Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pengacara, pastor dan semua teman-teman,’’ kata Terry Rombot, warga Indonesia asal Manado itu.

Gugatan Terry, lewat pengacaranya, tampaknya cukup ampuh melawan upaya deportasi Trump. Dalam surat gugatannya, pengacara Terry meminta agar kliennya diizinkan melakukan proses hukum, sesuai dengan kesepakatan tahun 2010. Kesepakatan itu dicapai oleh Terry dan sekitar 40 warga Indonesia lainnya, dengan pihak imigrasi AS, yang intinya tetap mengizinkan mereka tinggal di AS, asalkan melapor dalam kurun waktu tertentu. Bisa sebulan sekali, tiga bulan sekali atau setahun sekali.



Namun, setelah Donald Trump menduduki Gedung Putih, perjanjian itu dibatalkan. Trump menginstruksikan petugas imigrasi, ICE untuk mendeportasi seluruh warga asing tanpa dokumen ke tanah airnya. Berbekal instruksi itulah, petugas ICE menangkap dan menahan belasan warga Indonesia saat melapor ke kantor imigrasi New Hampshire.

Terry Rombot bersama warga Indonesia lainnya meninggalkan tanah air saat terjadi Kerusuhan 1998. Dengan alasan keamanan, mereka akhirnya menetap di New Hampshire. Sekitar 2.000 etnis Tionghoa asal Indonesia melarikan diri ke New Hampshire, karena ketakutan terhadap persekusi yang terjadi setelah kerusuhan 1998. Mayoritas dari mereka masuk ke Amerika Serikat menggunakan visa turis, dan tinggal lama di AS serta menjadi penduduk tanpa dokumen.

Pihak Kejaksaan Agung mempertimbangkan untuk melakukan naik banding ke tingkat lebih tinggi. Jajaran petugas imigrasi, ICE, menilai bahwa izin tinggal yang diberikan kepada puluhan warga Indonesia itu hanya bersifat sementara saja. ‘’Kesepakatan yang dicapai tahun 2010, menunjukkan bahwa mereka boleh tinggal sementara sampai kondisi Indonesia kembali normal,’’ tutur sebuah sumber.

 

Lalu bagaimana sebenarnya kondisi di Indonesia dewasa ini? Kondisi ekonomi Indonesia jauh berbeda dibandingkan akhir tahun 2000-an. Buktinya bisa dilihat dengan banyaknya investor asing, terutama dari China, yang menanamkan investasinya ke Indonesia. Laman Techniasia.com mengabarkan, sejumlah perusahaan informasi teknologi dari Tiongkok tak ragu lagi ikut menjadi bagian ekonomi di Asia Tenggara, terutama Indonesia. Dalam laporannya Rabu 1 November 2017, sejumlah perusahaan raksasa seperti Alibaba, Tencent, Chuxing, Didi dan JD menggelontorkan dana jutaan dolar untuk mendanai dan mendirikan bisnis di Indonesia.

‘’Indonesia beruntung memiliki pangsa pasar yang cukup besar,’’ kata Adrian Li, managing partner Convergence Venture, perusahaan VP (Venture Capital) yang bekerjasama dengan Baidu. Ini adalah mesin pencari terbesar di daratan Tiongkok. ‘’Saya merasakan bahwa Indonesia seperti China 20 tahun lalu. Sangat banyak terbuka kesempatan untuk berbisnis,’’ kata Tony Qu, managing partner di ATM Capital saat berbicara di panggung Tech in Asia Jakarta 2017. ‘’Kalau kita bersabar, maka masa depan Indonesia akan cerah. Asalkan tidak dapat menahan sabar,’’ lanjut Tony Qu.

Hal yang sama juga diungkapkan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Berbicara di depan warga Indonesia di Philadelphia, Risma menungkapkan bahwa [ara ibu rumah tangga Surabaya kini disebut sebagai Pahlawan Ekonomi. Sebab, di bawah bimbingan Kotamadya Surabaya, kini terbentuk  6.750 kelompok usaha kecil dan menengah. ‘’Bahkan beberapa di antaranya mendapat keuntungan sekitar Rp 600 juta hingga $ 1 milyar per bulan,’’ tutur Risma, yang makin menyebabkan pengunjung melongo. Belum terhitung hasil pertanian lokal yang ditanam warga Surabaya, seperti cabe dan sayuran lainnya.

Sehingga Surabaya mampu menyediakan sekolah gratis, dan biaya kesehatan secara cuma-cuma kepada 4 ribu anak yatim dan cacat tubuh. Sekitar 16 ribu warga lanjut usia – dari berbagai badan sosial seperti masjid dan gereja – juga mendapatkan pelayanan gratis dan tempat khusus bagi mereka yang ingin kumpul-kumpul.

Belum lagi memberi tambahan makanan bagi 267 warga yang kekurangan. ‘’Kami menyediakan dokter yang datang ke tempat pasien bila tidak mampu berjalan. Kami sediakan pula kendaraan ambulans yang siap selama 24 jam!’’ kata Risma, insinyur lulusan Institut Teknologi 10 November, Surabaya.

Lalu apa yang menyebabkan warga Indonesia di AS takut kembali ke tanah air? Ini yang mengherankan banyak pihak. Trauma sekitar 20 tahun lalu, masih tersimpan dalam pikiran sebagian warga Indonesia. Mereka lebih suka main kucing-kucingan dengan petugas ICE (ada yang menyebut ‘Es Cendol’ karena ucapannya sama dengan S)  daripada hidup nyaman dan makmur di tanah air.

Seperti halnya ke-40 warga Indonesia di New Hampshire lainnya, tetap mengupayakan proses hukum tetap berlangsung, agar mendapatkan status imigrasi legal, walaupun langkah itu cukup panjang dan melelahkan. Dan belum tentu berhasil. DP.