Wednesday, December 13, 2017
Home > Around the world > Pangeran Al Waleed bin Talal yang ditangkap di Arab Saudi

Pangeran Al Waleed bin Talal yang ditangkap di Arab Saudi

Penangkapan 11 pangeran Arab Saudi Jumat akhir pekan lalu, memang mengejutkan dunia. Apalagi, salah satu di antaranya adalah Pangeran Al Waleed bin Talal, salah seorang pangeran yang dikenal sebagai pemegang saham sejumlah perusahaan AS. Termasuk Twitter, Uber, CIticorp dan lainya. Siapakah Pangeran Al Waleed bin Talal bin Abdulazis al Saud?

Pangeran berusia 62 tahun itu, diperkirakan memiliki kekayaan sebesar 17,3 miliar Dolar AS atau setara Rp 224,9 triliun. Selain kaya, Alwaleed juga aktivis sosial terkemuka di Arab Saudi Sifat pendobrak Alwaleed dimulai sejak dia berpikir tentang bisnisnya mengelola Kingdom Holding Company (KHC), perusahaan investasi miliknya.

Perusahaan ini dijalankan Alwaleed dengan menggunakan visi di luar mainstream bisnis Kerajaan Saudi yang mengandalkan minyak. KHC melakukan ekspansi ke berbagai lini usaha seperti teknologi, media, dan properti yang beroperasi di seluruh dunia. Lewat KHC, Alwaleed memiliki saham di Twitter dan Ebay, ikut memiliki beberapa hotel terkenal, dan ikut terdaftar sebagai pemilik Citigroup. Alwaleed menggambarkan dirinya dalam laman pribadinya, alwaleed.com.sa sebagai “Penganut keyakinan beragama yang konservatif, namun mendukung gagasan liberal yang menyesuaikan konteks dengan kehidupan kontemporer.”

Quran menjunjungi tinggi perdamaian dan toleransi. Oleh karenanya, semua agama harus dihormati,” kata Alwaleed. Sebagai seorang tokoh yang menjunjung kebebasan, Alwaleed ingin mewujudkan reformasi sosial di Arab Saudi. Budaya masyarakat Timur Tengah telah terjebak pada gaya berpikir yang kaku,’’ kata dia.



Gaya berpakaian hanya salah satu wujud pemikiran moderat Alwaleed. Pada satu kesempatan, dia bisa menggunakan jas kasual, dan pada kesempatan lain dia mengenakan celana pendek santai. Sangat berbeda dibanding dengan keluarga Kerajaan Saudi lainnya.

Keterbukaan yang dianut Alwaleed juga terlihat ketika dia mengunggah tulisan berjudul ‘’Its High Time to Started Women to Driving Car.’’ Dalam tulisannya tersebut, dia mendorong pemerintah Kerajaan Saudi untuk memperbolehkan perempuan menyetir mobilnya sendiri.

Aturan Kerajaan Saudi melarang perempuan untuk mengemudikan kendaraan sendiri, dan ini ditentang Alwaleed. ‘’Melarang perempuan berkendara adalah bentuk pelanggaran hak asasi yang sangat mendasar. Sama halnya ketika kita melarang hak mereka memperoleh pendidikan dan menjadi identitas yang berdaya,’’ tulis Alwaleed yang dikutip dari laman pribadinya.

‘’Hal tersebut adalah bentuk ketidakadilan yang dianut oleh masyarakat tradisional,’’ tegasnya. Alwaleed kemudian mengaitkan argumen tersebut dengan pembaruan ekonomi Saudi yang tengah diperjuangkan oleh Kerajaan, di mana Saudi berniat melepaskan diri dari ketergantungan minyak. Alwaleed menyebut bahwa membiarkan perempuan berkendara adalah bentuk upaya peningkatan ekonomi Saudi. Namun gagasan semacam itu tidak ada hubungannya dengan religiusitas.

Alwaleed bukan sosok yang meninggalkan nilai-nilai keislaman dan budaya luluhur bangsa Arab. Ketika diwawancarai BBC pada 15 Juli 2011, saat ia duduk di kapal pesiar pribadinya dengan busana santai bercelana pendek, Alwaleed tidak seperti pangeran yang bergaya hidup kebarat-baratan. Selama wawancara dengan wartawan, tangan Alwaleed tak lepas dari tasbih, sementara mulutnya melafalkan zikir sembari menjawab pertanyaan sang jurnalis. (kumparan.com)