Wednesday, December 13, 2017
Home > Achievement > Oleh-oleh dari Lindau Nobel Laureate Meetings 2017

Oleh-oleh dari Lindau Nobel Laureate Meetings 2017

Oleh: Lily G. Nababan

Walk on your feet, dan tetaplah lakukan penelitian-penelitian meskipun skala kecil. Nasihat salah seorang pemenang penghargaan Nobel untuk bidang kimia tahun 2016, Bernard L Feringa, ini disampaikan dalam  presentasinya yang berjudul The Joy of Discovery pada acara Lindau Nobel Laureate Meeting 2017 (LiNo17) akhir Juni lalu. Feringa memenangkan hadiah Nobel bersama Jean-Pierre Sauvage dan Sir Fraser Stoddart atas hasil karya yang berkaitan dengan desain dan sintesis dari mesin molekuler.

Bernard Feringa (Lily G. Nababan/Cannon)

Feringa (66) menemukan molekul pertamanya yang belum pernah dibuat oleh seorang pun di dunia pada usia 20 tahun. Presentasi yang sarat dengan pengalamannya sebagai scientist, berbagai tips dan info tentang temuan-temuan di masa depan yang berasal dari molekul tersebut disimak oleh sekitar 420 orang ilmuwan (scientist) muda dan 28 pemenang Nobel bidang kimia.

Para ilmuwan muda yang berasal dari 78 negara ini terdiri dari mahasiswa berprestasi, sarjana dan mahasiswa post-doc yang berusia di bawah 35 tahun dengan kekhususan penelitian di bidang kimia. Sebanyak 45% dari jumlah itu adalah perempuan dan 55% pria. Tak heran suasana pertemuan kerap menjadi marak dengan keceriaan dan obrolan sesama orang muda, juga dengan para pemenang Nobel yang kebanyakan berusia 30 – 40 tahun di atas mereka.

Salah satu ilmuwan termuda, Jana Kobeissi, berasal dari Libanon. Tahun depan dalam usianya yang ke-21, Jana akan lulus sarjana (undergraduate) dari American University of Beirut. Berbeda dengan Feringa yang termotivasi oleh guru SMAnya yang percaya pada skill sainsnya, Jana sudah jatuh cinta pada dunia sains dari melihat siaran sains dan film national geographic di televisi sejak usia sekolah dasar.

 

“Saya tidak selalu bermimpi menjadi ahli kimia, karena saya suka semuanya: matematika, fisika, biologi dan kimia; susah memilih salah satu,” tutur Jana dengan mata berbinar-binar. Suaranya bersemangat dan wajahnya berseri-seri saat bercerita tentang alasannya akhirnya memilih kimia. “Kimia itu dekat pada semua ilmu dan dalam kimia kita harus memecahkan masalah yang akhirnya berkaitan dengan metoda yang menggunakan matematika, dan bisa berhubungan dengan fisika dan biologi juga,” paparnya.

Jana Kobeisi (Foto: Lily G. Nababan/Cannon)

Saat ini Jana sedang bekerja di laboratorium profesornya mengenai interaksi antara syntehesised silver/micro-structure complex dan bakteri. Bentukan (complex) ini menjanjikan (promises) mempunyai peran dalam pemurnian karena perak (silver) menunjukkan aktivitas antibakteri dan bentukan itu sendiri mudah disaring.

Menurut Jana, penelitiannya ini penting karena saat ini kebersihan air merupakan isu serius berkaitan dengan konsekuensi kesehatan manusia. “Saya sangat excited dengan proyek ini karena saya suka bekerja dengan bakteri sebab mereka hidup, sensitif dan butuh banyak perhatian,” tutur Jana, “Kita harus memberi mereka makan, memastikan tempat mereka bersih agar tidak terkontaminasi apapun. Ini seperti merawat bayi,” lanjutnya seraya tertawa. Ia merasa beruntung karena sebagai satu-satunya mahasiswa di proyek tersebut, profesornya mengijinkan dan terus mendorong dia melakukan eksperimen-eksperimen namun tetap independen dan berkontribusi terhadap proyek tersebut.

Sai Pyae Sone Aung (20 tahun), scientist termuda asal Myanmar juga sangat mencintai sains sejak duduk di bangku sekolah menengah. Alasannya, ia tidak pernah menyerah menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan dan angka-angkanya selalu tinggi dalam mata pelajaran sains. “Meskipun saya memilih spesialisasi kimia, saya juga tertarik pada subyek sains lainnya,” tutur pemuda yang sedang kuliah untuk BSc di Universitas Yangon dan kini sedang mencari beasiswa untuk Master dan Ph.Dnya.

Sai Aung mengaku senang mengerjakan penelitian yang berkaitan dengan sains lingkungan (environmental science). Menurutnya, banyak masalah lingkungan di dunia, dan ia ingin menemukan solusi baru dan jawaban yang lebih baik untuk memecahkan masalah-masalah tersebut dari sudut kimia sebanyak-banyaknya. Selain itu ia tertarik dalam penelitian food science, agricultural science dan synthesis of biopolymers. “Saya juga tertarik dalam produksi material-material yang lebih berguna dari barang-barang bekas atau limbah,” katanya.

Saat ini Sai Aung sedang meneliti sejenis pupuk organik dengan penggunaan chitooligossachharides (cell of the crab/shrimp, red.) kemudian mengujinya di sawah. Sepulangnya dari Lindau Meeting ia juga mengerjakan proyek berbagi tentang penggunaan kembali (reusing) dan daur ulang (recycling) plastik kepada masyarakat. “Plastik adalah salah satu isu besar di Myanmar,” ungkapnya.

Sai Aung (Lili G. Nababan/Cannon)

Pemuda yang menyukai olahraga basket ini mengaku ketertarikannya pada limbah adalah sejak 4 tahun lalu saat banjir besar melanda sebagian besar Myanmar. “Saya belajar tentang environment dan tertarik pada materi limbah; dalam penelitian saya juga menggunakan beberapa limbah organik dari sawah,” tutur Sai Aung. Myanmar sedang membangun pertanian organik dan ini sejalan dengan penelitiannya. “Saya berharap penelitian saya dapat menolong para petani dan juga masyarakat,” harap Sai Aung.

Tidak ada isu gender dalam bidang sains di negaranya, namun menurut Sai Aung pemerintah tidak banyak mendukung sains. “Karena itu kami tidak mempunyai cukup peralatan riset dan bahan percobaan, selain juga kekurangan dana untuk penelitian,” ungkap Sai Aung. Hal ini mengakibatkan tidak banyak penelitian. Di Myanmar lebih dari 90% mahasiswa memilih universitas negeri karena universitas swasta mahal dan tidak terlalu populer. Meski demikian sedang terjadi perubahan-perubahan yang baik dalam sistem pendidikan di Myanmar. Sai Aung berharap tidak lama lagi ada perkembangan baik bagi para scientist di negaranya.

Kaum perempuan di Libanon, menurut Jana, juga dapat mendapat hak yang sama dan bisa menjadi scientist. Tetapi tidak banyak perempuan yang mau meraih gelar tinggi. “Beberapa bisa bersekolah sampai tingkat Master, namun ada yang lulus S1 lalu jadi guru matematika atau natural science, ada juga yang kuliah kedokteran, tetapi di tingkat Ph.D lebih banyak kaum pria,” tutur Jana. Tidak mudah mencapai gelar PhD di Lebanon; siswa harus ke luar negeri dan butuh dana lebih banyak. “Di samping itu pada usia tertentu wanita di Libanon juga harus memulai keluarga, tidak boleh travelling sendirian,” lanjut Jana. “Namun keadaan ini pelan-pelan sedang berubah,” ujar Jana yang mendapat ijin orangtuanya pergi seorang diri ke Jerman. Ayah Jana adalah seorang arsitek dan ibunya seorang guru bahasa Inggris.

Jana yang baru pertama kali mengikuti pertemuan ini tampak bersemangat dan selalu terlihat asyik berbincang dengan sesama scientist muda atau para peraih Nobel. Ia mengaku sangat excited karena LiNo17 lebih dari ekspektasinya. “Para peraih Nobel itu sangat bersahabat, mau datang pada kita yang muda-muda, senang menerima pertanyaan dan senang bertanya tentang (penelitian) apa yang sedang kita lakukan,” kata Jana, “Saya sangat beruntung, dan ini juga pertama kalinya universitas saya mengirim orang ke pertemuan ini.”

Kendati di lingkungan seusianya scientist dianggap kurang keren (cool), namun Jana tidak terlalu peduli karena hatinya memang sungguh-sungguh menyukai sains; selain itu ia mempunyai banyak teman yang memiliki perspektif sama dengannya. “Mungkin awalnya kelihatan tidak keren (cool), tetapi kalau kamu sudah mendapat penghargaan Nobel seperti Bernard Feringa, maka kamu akan menjadi sangat sangat keren sekali!” katanya.

Jana menekankan pentingnya motivasi dari dalam diri sendiri ini bagi para scientist muda atau kaum muda yang ingin menjadi scientist. “Karena kalau sambil kuliah lalu masuk dalam proyek penelitian kadang-kadang tidak ada waktu untuk bersenang-senang,” ungkapnya, “Tapi percayalah, waktu kamu melihat hasil-hasil risetnya maka semua itu menjadi terbalaskan (worth it),” lanjut Jana yang mengaku selalu menjaga keseimbangan antara riset dan kuliah.

Lindau Lighthouse dan Bavarian Lion Sculpture (Lily G. Nababan/Cannon)

Dalam acara makan malam di Donier Museum Friedrichshafen yang sarat dengan sejarah pesawat terbang termasuk yang ada dalam film Star Trek, Sai Aung asyik membidikkan kamera DSLRnya ke beberapa pesawat terbang kuno yang ada di halaman museum. Pehobi fotografi ini juga merasa beruntung dapat hadir sebagai satu-satunya scientist muda dari Myanmar.

“Pertemuan semacam ini adalah salah satu cara terbaik untuk mengkomunikasikan sains kepada publik; suatu cara berbagi tentang apa yang dilakukan scientist di dunia ini,” ungkapnya. Menurutnya, para scientist tidak harus selalu berkutat di dalam laboratorium dan melakukan penelitian, melainkan juga membagikan atau menerapkan penelitian-penelitiannya ke bidang-bidang yang sesuai. “Saya sendiri selalu membagi penelitian saya kepada para petani di lingkungan saya,” lanjutnya.

Orang tua Sai Aung mencari penghidupan dengan berdagang barang-barang apapun yang sedang musim merupakan penyemangatnya untuk menekuni profesi scientist. “Hal yang menginspirasi saya adalah bekerja untuk negara saya dan meningkatkan ilmu-ilmu sains disini, karena masih banyak sekali yang tidak kita ketahui di jagad raya ini,” tuturnya saat diminta memberikan saran pada generasi seusianya, “Dan inilah tugas para scientist,” pungkasnya. (Teks & Foto-foto: Lily G Nababan/Sponsor: Cannon)

Leave a Reply