Press "Enter" to skip to content

Kepada Kakak Ignas Kleden (Proficiat 19 Mei 1948 – 19 Mei 2018)

Oleh: Hermien Y. Kleden

****

Syukur pada Tuhan untuk kelahiran kembali.
Terimakasih untuk persembahan ilmu dan karya;
untuk membakar lilin talenta sepanjang hidup demi kemuliaan Tuhan, Gereja, Tanah Air serta kebaikan sesama.

Ad Maiorem Dei Gloriam

***

No Ite tercinta,

Tatkala “Narasi Reformasi”, tulisan opinimu muncul di harian Kompas edisi 15 Mei 2018, kita bertelponan sebentar di sela-sela saya bersiap mengajar. Kalimat yang terpatri dalam ingatan saya dari percakapan singkat pagi itu adalah: “Ema, ini kolom untuk merayakan ulang tahun saya.”

Ada seribu cara orang merayakan usia 70 – babak waktu signifikan dalam ziarah hidup manusia, suatu angka umur yang tercatat dalam Mazmur 90:10. Inilah waktu ketika sebagian orang merasa perlu menandainya sebagai suatu ekstravaganza: pesta-pesta akbar di hotel berbintang, peluncuran biografi ratusan halaman, pameran karya besar-besaran, hingga mengiklankan hari-jadinya di media massa.

Petang 15 Mei itu, tatkala saya membaca kembali dengan runut dan tenang “Narasi Reformasi”—satu dari ratusan, ribuan nomor tulisanmu yang telah dibaktikan untuk publik dalam sekitar 50 tahun terakhir – sembari mengingat kata-kata penulisnya beberapa jenak lalu, hati saya meluap oleh rasa syukur dan bahagia. Karena bahkan untuk menyambut usia istimewa itu — 70 tahun — No tidak tergoda untuk suatu showoff gemah-ripah, melainkan bersetia di jalan-sunyi: karya-lah yang dipersembahkan, bukan kegemilangan prestasi, pemikiran bagi masyarakat-lah yang didahulukan, bukan kisah sukses ilmuwan yang ditampilkan.

Bekerja di jalan-sunyi, sudah pasti bukan pilihan enteng – mengingat betapa mudahnya menguarkan kemampuan diri – dengan talenta berlimpah yang Tuhan berikan bagimu, No.

Walau tak pernah terucap langsung, saya yakin pilihan membebaskan diri dari unjuk-prestasi dan sejenisnya, serta mempersembahkan buah pikiran semata-mata bagi orang banyak – adalah suatu “pertempuran melawan diri” yang terus-menerus.

Maka dengan rendah hati, dengan berbahagia, izinkan saya mengatakan ini: Narasi Reformasi adalah suatu jendela kecil di mana kami melihatmu setidak-tidaknya telah memenangi “pertempuran” itu. Menuliskan refleksi Reformasi Indonesia serta realisasinya hingga lustrum keempat 2018 pada 15 Mei lalu, adalah suatu self-statement yang persisten tentang kesetiaan berjalan di jalan-sunyi.




No Ite tercinta,

Santo Ignasius Loyola, Bapa Pelindungmu — dan pelindung Paroki St. Ignasius Waibalun, kampung kita di Flores Timur — membaktikan diri seumur hidup bagi kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Motto-nya yang masyur – Ad Maiorem Dei Gloriam – melampaui zaman, menembus abad-abad, bukan hanya menjadi sumber inspirasi saudara-saudara Jesuit dan para misionaris.

Di dalam dirimu, kita juga menemukan “api Ignasian” yang memurnikan semangat itu: talenta yang Tuhan berikan kepadamu, telah engkau kembalikan dengan rendah-hati, dengan berani “melupakan diri” — karena engkau memilih mendahulukan pelayananmu untuk kemuliaan Tuhan, only and merely to the greater glory of God – sesuai teladan Bapa Pelindungmu.

No Ite tercinta,

Selamat berbahagia bersama Kaka Nuk, ananda Paskal Kleden dan Nina Trisna Adiwibowo nun di Australia, serta seluruh keluarga besar kita yang masih dalam ziarah-bumi. PaMama, Kaka Suster Stephani CIJ alias Alfa, No Kons, Kaka Werner, Tiga Kaka Bayi, serta para leluhur kita pasti berpekik gembira di Surga, menghujankan doa dari Langit Tuhan dan berbahagia oleh pencapaianmu hari ini: 70 tahun untuk Tuhan dan sesama.

Ad Maiorem Dei Gloriam



Mission News Theme by Compete Themes.