Press "Enter" to skip to content

Partai Demokrat Bakal Menggoyang Trump Setelah Kuasai Kongres

Di luar dugaan, Partai Demokrat meraih mayoritas suara Kongres dalam pemilihan suara paruh waktu yang digelar Selasa 6 November 2018. Partai berlambang huruf D warna biru itu berhasil meraih mayoritas 435 kursi yang diperebutkan di Kongres. Bahkan sekitar 100 kursi di majelis tinggi itu diraih kaum perempuan AS, dari berbagai golongan. Mulai ibu rumah tangga, wanita Muslim, wanita asli berdarah Indian juga wanita transgender.

 

Dita Nasroel Chas

‘’Saya bangga Partai Demokrat berhasil meraih mayoritas Kongres,’’ tutur Dita Nasroel Chas, salah seorang pengurus Diaspora  Indonesia yang tinggal di Kota Leander, Texas. Dengan demikian, lanjut Dita, semakin banyak kalangan yang selama ini tidak dilibatkan oleh Partai Republik. ‘’Kalangan imigran, kulit berwarna, agama minoritas atau LGBT,’’ tambah Dita yang  menggunakan hak pilihnya di Leander Public Library 25 Oktober lalu.

Sejumlah pemilih asal Indonesia ikut mendorong kemenangan Partai Demokrat, partai yang terpuruk sejak Hillary Clinton kalah dalam Pemilu 2016 lalu. Satu di antaranya adalah Sinta Penyami. Perempuan asal Sulawesi Tengah tersebut memberikan suaranya bagi sejumlah calon legislatif dan eksekutif dari Partai

Demokrat agar dapat menguasai Kongres yang selama ini dikuasai Partai Republik. ‘’Saya memilih semua calon dari Partai Demokrat dengan harapan agar memenangkan Kongres dan Senat,’’ kata Sinta.

Sinta Penyami

‘’Saya yakin, bakal ada perubahan,’’ lanjutnya. ‘’Mungkin ini masih baby steps, but change is coming,’’ tambah Sinta yang memilih di Jeffersonville Presbyterian Church, West Norriton, Pennsylvania. 

Sementara itu, Abe Prawiradilaga sempat berharap Andrew Gillum, Gubernur Florida bakal menang. ‘’Kantor Petugas ICE di Florida akan ditutup sehingga para imigran ilegal bisa aman,’’ tulis Abe Prawiradilaga, pengusaha properti di Florida, asal Jawa Barat yang mencoblos di tempat pemilihan umum Orange Blososom, Naples, Florida.

Namun upaya para pemilih asal Indonesia tidak sia-sia. Partai Demokrat mampu berjaya kembali dalam pemilu paruh waktu kali ini, setelah kehilangan kursi Kongres dalam Pemilu 2010 lalu. Bahkan partai warna biru itu mampu mendudukkan kembali Nancy Patricia Pelosi, anggota Kongres Demokrat menjadi Ketua Parlemen AS, akan menggantikan Paul Ryan dari Partai Republik. 

Abe Prawiradilaga

Dengan demikian bisa ditebak, Nancy Pelosi bersama sekitar 100 wanita anggota Kongres lainnya akan melakukan sejumlah langkah penting saat mulai bertugas 1 Januari 2019 mendatang. Mereka yang akan terlibat, di antaranya Veronica Escobar dan Sylvia Garcia, dua anggota Kongres berdarah Amerika Latin; Ilhan Omar, anggota Kongres wanita Muslim; Ayanna Pressley anggota Kongres kulit hitam juga Sharice Davids anggota Kongres berdarah penduduk asli Indian.

Sejumlah isu penting yang kini digulirkan Presiden Donald Trump dan Partai Republik diperkirakan akan terganjal di Kongres. Seperti misalnya kebijaksanaan imigrasi: Trump ingin mencabut kewarganegaraan AS bocah-bocah imigran ilegal yang lahir di AS. Juga upayanya membatalkan Akta Perlindungan dan Perawatan Pasien atau Obamacare, serta pembangunan tembok pembatas AS-Mexico dan pembangunan infrastruktur yang menelan biaya cukup besar.

Malahan, mayoritas Kongres dari Partai Demokrat akan melakukan desakan terhadap Presiden Trump untuk mengungkap pengembalian pajak yang selama ini belum terbongkar. Juga kasus keterlibatan Rusia dalam Pilpres 2016. Dan yang tak kalah serunya adalah pemakzulan (impeachment) Presiden Trump atas kasus pelecehan terhadap sejumlah wanita sebelum menjadi orang terkuat AS. ‘’Mereka tidak suka pada lelaki yang tak menghargai wanita,’’ tutur Dita Nasroel Chas, yang dikenal sebagai pendukung wanita imigran untuk berkiprah di dunia politik. 

William Newbold

Setidaknya, kehadiran mayoritas Kongres oleh Partai Demokrat mampu menggusur Donald Trump dari Gedung Putih. ‘’Pokoknya presiden AS mendatang harus dari Partai Demokrat. Karena itu Demokrat harus menang,’’ ujar William Newbold, salah seorang pemilik apartemen elite Philadelphia, yang menikah dengan seorang ibu asal Purwokerto, Jawa Tengah.

Namun upaya pemakzulan itu dikesampingkan oleh Mitch McConnell, pemimpin Mayoritas di Senat dari Partai Republik. ‘’Saya dulu juga melakukan hal yang sama terhadap mantan Presiden Bill Clinton, tapi dia tetap berkuasa hingga dua periode,’’ tutur Mitch McConnell kepada wartawan. DP.

Mission News Theme by Compete Themes.