Wikileaks bongkar upaya Moscow Sadap Telepon warganya

Situs pembocor dokumen rahasia Wikileaks menerbitkan dokumen yang mengupas cara Moscow menggunakan alat penyadapnya untuk menyadap internet dan pembicaraan pengguna telepon genggam.

The Washington Post mengabarkan Selasa (19/9/2017), dokumen yang diberi judul ‘’Spy Files Russia’’ itu menandai adanya pergeseran badan intelijen pemerintah Moscow. Maklum selama ini organisasi intelijen Moscow enggan menerbitkan dokumen rahasia, karena akan memalukan Pemerintahan Kremlin.

Dalam dokumen yang diterbitkan Wikileaks Selasa itu, menunjukkan bagaimana cara kerja perusahaan teknologi Peter-Service yang berbasis di St. Petersburg. Perusahaan itu, antara lain membantu pemerintah Moscow menyadap pembicaraan pengguna telepon di Rusia, sebagai bagian dari pengintaian secara online yang lazim disebut Kegiatan Operasi Investigasi, SORM. ‘’Sistem itu sudah lama, walaupun dokumen Wikileaks menyebut beberapa spesifikasi baru,’’ tutur Ben Buchanan, peneliti di Harvard Kennedy School. ‘’Saya jadi penasaran, mungkin ada yang baru lagi,’’ tutur Buchanan, penulis buku ‘’The Cybersecurity Dilemma.’’

Meski begitu, banyak pihak yang pesimistis dengan langkah baru Wikileaks itu. Maklum, meski banyak membongkar rahasia negara lain, namun selama ini Wikileaks menolak menerbitkan bocoran Pemerintah Moscow. Saat menerbitkan dokumen Panama Papers misalnya, Wikileaks tidak membongkar nama-nama bank luar negeri yang menyimpan akun milik para pejabat Rusia, termasuk Presiden Vladimir Putin. Dalam wawancaranya, Julian Assange bersikeras ‘’Karena peniup peluit dan pembocor dokumen lebih suka membocorkannya lebih dulu ke media lokal,’’ katanya.

Alasan itu tidak dapat diterima oleh Andrew Weiss. Wakil presiden studi perdamaian internasional di Carnegie Endowment menyatakan Wikileaks di posisi yang sulit. ‘’Bagaimanapun Wikileaks tak dapat memisahkan diri atau menjauhkan diri, untuk bekerjasama dengan penguasa Rusia,’’ kata Andrew Weiss. ‘’Ini seperti upaya klasik yang dilakukan Wikileaks untuk mengubah materi pembicaraan,’’ lanjut Andrew Weiss.

Sementara itu, Andrei Soldatov, wartawan investigasi Rusia menyatakan, ‘’Dokumen baru Wikileaks itu tidak seluruhnya diungkap,’’ kata Andrei Soldatov. ‘’Memang ada beberapa detil yang diungkap, tapi tidak banyak,’’ sambung Andrei Soldatov penulis buku ‘’The Red Web: The Struggle Between Rusia’s Digital Dictators and the New Online Revolutionaries.

.

Recent Posts

Anak Jaksel Berkarier di The New York Times

Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…

5 days ago

40 Hari Mengenang James F. Sundah, Beasiswa Riset Hak Cipta Diluncurkan

Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…

2 weeks ago

Cerita Chef Diaspora Bikin Kuliner Nusantara Mendunia

Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…

2 weeks ago

Diaspora Global Summit 2: Dari Brain Drain Menuju Brain Gain

Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…

3 weeks ago

Dari Nol di Negeri Orang: Pelajaran Hidup dari Berbagai Pekerjaan di Amerika

Datang ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya bukan hanya soal mengejar mimpi. Bagi banyak pendatang…

4 weeks ago