Awas! Turis Kadaluwarsa Bakal Jadi Sasaran Petugas Imigrasi

Setelah memburu imigran non-dokumen, Presiden Trump kini mengalihkan perhatian pada imigran yang izin tinggalnya sudah kadaluwarsa. Terutama mereka yang berstatus sebagai pelajar, turis atau visa pekerja atau mereka yang mengantongi Visa B1 atau B2.

Harian The Wall Street Journal pekan lalu mengungkapkan, mereka yang akan dijaring adalah imigran dari beberapa negara yang jumlahnya cukup banyak. Yakni dari Amerika Tengah seperti Guatemala, Honduras dan El Savador. Departemen Keamanan Dalam Negeri juga bakal memperhatikan imigran dari Chad, Liberia, Nigeria dan Sierra Leon.

Negara-negara itu, menurut Wall Street Journal, telah diperingatkan untuk mengurangi jumlah warganya yang pura-pura jadi pelajar atau turis. Kalau masih membandel, mereka bakal dipersulit mendapatkan visa, bahkan sama sekali tidak diberi visa atau izin tinggal di AS.

Dalam berita itu, tak disebutkan negara-negara lain seperti China, Rusia, Arab yang tak kalah banyaknya. Sedangkan turis atau pelajar dari Indonesia yang mondok terlalu lama di AS, juga tidak disinggung sama sekali. Mungkin karena jumlahnya tidak signifikan sehingga tak tertangkap radar kantor imigrasi atau Departemen Keamanan Dalam Negeri, DHS.

Jumlah migran yang izin tinggalnya kadaluwarsa semakin meningkat. Menurut Center for Migration Study, pada tahun 2016, jumlah imigran gelap yang menyerbu AS sebesar 515 ribu. Setahun kemudian, pada 2017, jumlahnya meningkat menjadi 702 ribu. Tapi, jumlah itu cuma 1,33 persen dari 50 juta imigran asing yang tiba di AS, yang mengantongi visa AS. Artinya yang keterusan mondok tidak begitu signifikan.

Maklum, migran yang izin tinggalnya kadaluwarsa sulit dideteksi petugas imigrasi. ”Mereka baru bisa diketahui izin tinggalnya kelewat waktu sewaktu mereka hendak meninggalkan AS,” tulis situs The Atlantic. ”Sebelumnya, mereka tidak bakal ketahuan sama sekali. Seperti manusia bayangan yang hidup di kegelapan,” sambung situs tadi.

 

Dengan langkah barunya, Gedung Putih mengharapkan dapat menekan jumlah imigran ilegal di AS. ”Presiden Trump akan menempatkannya sebagai prioritas utama,” kata Hogan Gildey, jurubicara Gedung Putih kepada kantor berita Associated Press. Karena itu, diimbau agar warga Indonesia yang tergolong sebagai manusia bayangan, sebaiknya berhati-hati dan waspada serta berhemat untuk mempersiapkan diri bila mendengar kabar yang ”Ngeri-ngeri Sedap” seperti ini. (DP)

.

Recent Posts

AS Bongkar Jaringan Scam Asia Tenggara

Di balik pesan WhatsApp yang terdengar ramah, atau tawaran investasi yang terlihat “terlalu bagus untuk…

17 hours ago

Ketakutan dan Penipuan: Wajah Lain Krisis Imigrasi di Philly

Di tengah meningkatnya penegakan hukum imigrasi di Amerika Serikat, muncul ancaman lain yang tak kalah…

5 days ago

Bali Cafe Indo Brings Indonesian Flavors to Las Vegas

The Consul for Economic Affairs at the Consulate General of the Republic of Indonesia in…

6 days ago

Bayang Deportasi di Balik DACA

Di balik istilah hukum yang terdengar teknis, tersimpan kegelisahan yang sangat nyata bagi ratusan ribu…

1 week ago

Dari Saksi ke Tahanan: Kisah Lansia Indonesia di Philly

Di balik peristiwa penangkapan oleh agen U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) di luar Philadelphia…

2 weeks ago

The Sandwich Generation in Exile: Antara Karier di Amerika dan Bakti di Indonesia

Opini: Akmal Nasery Basral* Bagi diaspora Indonesia di Amerika Serikat, ada satu suara yang paling ditakuti…

4 weeks ago