New York Times Pasang Seribu Nama Korban Covid-19 di Halaman Utama

Menjelang jatuhnya korban Covid-19 yang ke 100 ribu, Harian New York Times punya cara tersendiri. Yakni memuat di halaman depan koran kondang tersebut, dalam edisi Minggu 24 Mei 2020.

Simon Landon, asisten editor disain grafis NYT awalnya ingin memasang begitu saja nama-nama para korban. Tapi, hal itu diurungkan, ”Memasang 10 ribu nama di koran, tidak bercerita banyak dan tidak berarti bagi kita sebagai sebuah bangsa,” tuturnya.

Karena itu, ia meminta Alan Delaqueriere, seorang ahli riset mencari biografi para korban dari iklan atau berita duka yang biasa dipasang dipasang di ratusan harian AS. Jumlah korbannya pun dibatasi hingga sekitar 1000 orang saja. Sebuah tim editor juga ditugasi untuk meneliti keunikan para korban.

Di antaranya adalah Theresa Elloie, 63, dari New Orleans, seorang konduktor dengan kemampuan pendengaran yang tajam. Atau Theresa Elloie, 63, New Orleans yang baru saja merenovasi ruang bisnisnya dengan pin dan korsase. Juga Florenco Almazo Moran, 65, New York, seorang tentara yang kesepian dan Coby Aldoph, 44, Chicago, pengusaha sekaligus petualang.

Yang tak kalah penting peranannya dalam proyek ini adalah Matt Ruby, deputy editor Digital News Design; Annie Daniel, ahli software, juga disainer grafis Jonathan Huang, Richard Harris dan Lazaro Gamio.

Hasilnya? Halaman depan New York Times dibuat seperti harian kuno yang terbit ratusan tahun lalu. Sejak terbit pertama tahun 1851, harian NYT tidak memiliki berita utama, seperti halnya koran-koran di abad modern. ”Seperti berita polos yang ditambahi sub judul,” tutur Tom Bodkin, direktur kreatif NYT. Dengan tampilan kali ini, ”Saya ingin agar pembaca di masa depan mampu melihat 100 tahun ke belakang, dan merasakan apa yang kita alami sekarang,” tutur Marc Lacey, redaktur rubrik Nasional NYT.

Para pembaca online bisa membaca nama-nama korban dan sedikit deskripsi serta opini yang ditulis Dan Barry, reporter dan penulis kolom NYT. Nama-nama para korban pun bisa dipastikan akan bertambah hingga seratus ribu jiwa, mengingat banyak pusat-pusat keramaian, seperti kasino dan pantai, didatangi warga AS di saat hari libur ‘Memorial Day’ atau Hari Pahlawan Senin 25 Mei 2020 ini. ”Kami sudah tidak tahan lagi tinggal di dalam rumah,” tutur Joe Soetara, salah seorang pengunjung tetap kasino di Las Vegas.

Sementara itu, seorang redaktur Indonesianlantern.com mencoba meneliti nama-nama keturunan Indonesia, dan belum ketemu. ”Saya sudah mencoba mencari korban berdarah Indonesia, belum ketemu,” tuturnya. Mungkin hanya sedikit korban yang dikenali lewat garis keturunannya. Padahal menurut data KJRI New York, korban keturunan Indonesia, di kawasan Pantai Timur AS, kurang dari 20 orang. (DP)

.

Recent Posts

Pesta Babi, Pembelajaran Demokrasi Kita

oleh: Nuria Soeharto Setelah tayang perdananya di Forum Papua Barat, di Auckland, Selandia Baru, pada…

5 days ago

Generasi DACA dan Siklus Ketidakpastian Setiap Dua Tahun

Bagi ratusan ribu imigran muda yang dikenal sebagai Dreamers, Amerika selama bertahun-tahun terasa seperti rumah,…

1 week ago

News Reimagined: The Creator Journalism Summit

Washington D.C. - On Monday, May 4th at the National Press Club, journalists, reporters, and…

2 weeks ago

AAPI Heritage Month Gala

On Friday, May 8th, at Xfinity Live! Casino & Hotel, business leaders, community members, and…

2 weeks ago

1PHL Startup Summit: Philly’s up and coming tech startups network

On Wednesday, May 6th, at Ballers Philadelphia, a social sports club in Fishtown, tech entrepreneurs…

2 weeks ago

Nonton World Cup di Philly? Pulangnya Gratis Naik SEPTA

Ketika banyak kota tuan rumah FIFA World Cup 2026 mulai menaikkan tarif transportasi umum demi…

2 weeks ago