Perdagangan berlian dunia terpuruk gara-gara pandemi COVID-19. Menurut Business Insider, para pedagang masih menimbun persediaan berlian bernilai total $ 3,5 miliar, bahkan bisa sampai $ 4,5 miliar. ”Hanya sepertiga dari penjualan tahunan,” tulis Bloomberg, berdasar pengamatan konsultan berlian Gemdax.
Permintaan yang merosot, menyebabkan produser berlian terbesar De Beers di London misalnya cuma mampu menjual $ 35 juta hingga Mei lalu. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, De Beers mampu menjual hingga $ 416 juta.
Gara-gara kebijaksanaan lockdown yang diterapkan di seluruh dunia, seluruh pedagang berlian dan permata menutup toko mereka. Bahkan, Bloomberg melaporkan para pengrajin emas pertama di India kehilangan pekerjaan karena pembeli harus tinggal di rumah.
Produser berlian berukuran kecil juga terpaksa menurunkan harganya, Sementara Anglo American, unit penambangan De Beers dan saingannya Alrosa dari Rusia dikabarkan masih bertahan, tak mau menurunkan harga jualannya.
Meskipun para penambang mengurangi produksinya, namun persediaan berlian masih menumpuk jika penambangan tidak dihentikan. Besar kemungkinan para pedagang berlian akan memangkas harga permata hingga 25%. ”Seperti halnya para pedagang berlian di Belgia,” kata sumber Bloomberg.
Awal pekan ini, Blue Rock Diamond, salah satu penambang berlian di Inggris dikabarkan menjual sejumlah batu-batu berliannya senilai $ 700 ribu. Harga itu, sekitar 15% lebih murah ketimbang harga yang berlaku di pasaran, sebelum serangan pandemi COVID-19.
”Para penambang berlian terpukul dua kali. Harga yang melemah dan merosotnya nilai penjualan produknya,” tutur Sergey Donskoy, analis dari Societe General kepada Bloomberg. (DP)
Di tengah meningkatnya penegakan hukum imigrasi di Amerika Serikat, muncul ancaman lain yang tak kalah…
Di balik istilah hukum yang terdengar teknis, tersimpan kegelisahan yang sangat nyata bagi ratusan ribu…
Di balik peristiwa penangkapan oleh agen U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) di luar Philadelphia…
Opini: Akmal Nasery Basral* Bagi diaspora Indonesia di Amerika Serikat, ada satu suara yang paling ditakuti…
Pada Sabtu, 28 Maret, City of Philadelphia menggelar Power Up Philly: Community Tech Expo, salah…