Yono Purnomo Pensiun Setelah Berkarya 22 Tahun

Yono Purnomo memasuki masa pensiun setelah 22 tahun lebih menjadi chef kondang. Lelaki kelahiran Solo, Jawa Tengah, Indonesia berusia 70 tahun itu menyerahkan mayoritas sahamnya di Restoran DP An American Brasserie, ke tangan putranya Dominic Purnomo.

‘’Saya sangat bersyukur bersama kedua orang tuaku, yang mengajarkan banyak hal selama ini. Aku bangga berdampingan dengan pahlawanku selama 22 tahun,’’ tulis Dominic Purnomo. ‘’Selamat menikmati masa pensiun, ibu dan ayah. Love you,’’ sambung Dominic Purnomo yang dikenal dengan sebutan DP itu. 

Widjiono Yono Purnomo (Yono) memulai karirnya tahun 1971, tatkala menjadi pelayan restoran di Kapal Pesiar SS Rotterdam. Selama bekerja 5 tahun di kapal milik Holland America Cruise itu, Yono belajar memasak sambil belajar bahasa Inggris. Di atas kapal itulah, Yono bertemu dengan jodohnya Donna Metallo, salah seorang penumpang, dan mereka tinggal di Kota Albany, New York tahun 1978.

Di kota itu, Yono bekerja di beberapa restoran. Setelah dua tahun bekerja di resto Twenty-One, Yono ditawari untuk mengambil alih usaha itu. Plus modal awal $ 20 ribu dengan cicilan $ 600 tiap bulan. ‘’Siapa yang nggak mau. Ini kesempatan emas,’’ tutur Yono kepada Majalah Forbes.

Untuk meningkatkan keahliannya, Yono bergabung di perguruan tinggi American Culinary Federation and belajar memasak di bawah pengawasan Fritz Sonnenschmidt, Dekan perguruan tinggi itu yang dikenal sebagai salah satu perguruan kuliner dunia.

Tragedi kebakaran menimpa bisnisnya di tahun 1985, sehingga Yono bangkit membangun restoran baru bernama Yono’s dengan pinjaman $ 80 ribu di Albany, New York. Di tempat baru itulah, nama Yono makin kondang dan menjadi tempat makan para elite politik AS. Mulai dari para walikota New York dan tokoh-tokoh eksekutif lain, termasuk Hillary Clinton menjadi langganannya.

Tahun 1999, Yono memindahkan usahanya ke sebuah hotel baru, sebuah pusat hiburan bernilai $ 15 juta, yang dilengkapi dengan klub malam. Yono hanya meminjamkan namanya saja kepada para pengusaha lain. Tapi usaha ini jatuh bangkrut setelah berjalan 4 tahun dan Yono frustrasi.

Dia berniat pindah ke Florida untuk membuka usaha barunya, namun hal itu dicegah Walikota Albany, Gerald David Jennings dan pengusaha properti David Swawite yang menawari untuk membuka restoran di Hotel Hampton Inn Hotel.

Di hotel berkapasitas 165 kamar itu, Yono diberi lokasi di lantai bawah, dan pak walikota bersama pengusaha properti itu menanam modal sebesar $ 400 ribu, sehingga total investasi di usaha itu mencapai $ 1,2 juta. Bisnis ini cukup maju sehingga Yono membuka lagi usaha barunya dengan nama DP An American Brasserie, menggunakan nama Dominic Purnomo, di 25 Chapel Street, Kota Albany, NY 12210. Model restorannya yang santai, menawarkan jenis makanan kontinental dan Indonesia. ‘’Karyawan saya yang tadinya cuma 7 orang kini berkembang sampai 50 orang,’’ tutur Yono Purnomo bangga.

Tersedia 30 jenis makanan yang ditawarkan, mulai dari New York Strip Steak atau Maine Lobster, hingga makanan Indonesia seperti sate, nasi goreng, gado-gado dan lainnya. Bahkan ada menu rijsttafel terdiri dari lima jenis makanan. 

Dibantu Dominic Purnomo, putranya, ahli minuman anggur, restoran DP An American Brasserie semakin dikenal di New York bahkan sering diundang Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York untuk menyediakan masakan khas Indonesia dalam sejumlah pertemuan bersama para diplomat asing. 

Bahkan nama Yono Purnomo dikenal secara luas di seluruh Amerika Serikat, dan sering tampil di acara televisi. Salah satu di antara dalam program Today Show stasiun televisi ABC dan The Food Network, dan sempat tampil di program acara James Beard House, salah satu juru masak kondang AS. 

‘’Jika anda mendirikan restoran yang bagus dan bercita rasa tinggi, maka pelanggan akan datang,’’ tutur Yono Purnomo yang kini meraih pendapatan hingga $ 1,8 juta dari dua restorannya. Di masa pensiunnya, Yono Purnomo dikabarkan akan lebih aktif di sebuah yayasan ahli memasak dan bisnis restoran di Bandung, Jawa Barat. Beberapa mahasiswanya diberi beasiswa atau belajar ke AS. (DP)

.

View Comments

  • Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.

Recent Posts

Perempuan dan Masa Depan Diplomasi

Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang…

17 hours ago

Wajar Bukan Berarti Benar

Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan…

3 days ago

Anak Jaksel Berkarier di The New York Times

Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…

2 weeks ago

40 Hari Mengenang James F. Sundah, Beasiswa Riset Hak Cipta Diluncurkan

Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…

3 weeks ago

Cerita Chef Diaspora Bikin Kuliner Nusantara Mendunia

Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…

4 weeks ago

Diaspora Global Summit 2: Dari Brain Drain Menuju Brain Gain

Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…

4 weeks ago