Mengunjungi Makam Kehormatan Belanda Ereveld di Menteng Pulo, Jakarta

Oleh: Nuria Soeharto

Perang. Ada yang menginginkan dan mengambil keuntungan (bisnis) darinya.  Tetapi mayoritas penduduk dunia akan melihatnya sebagai momok yang  menakutkan. Sepertinya tidak ada kesan baik yang tertinggal dari perang  karena bahkan pihak yang berteriak menang pun kehilangan banyak, terutama  uang dan manusianya, baik para prajurit atau warga sipil.  

Tidak ada juga yang bisa menggantikan kehadiran mereka yang telah pergi  mendahului kita. Kepercayaan kita mengatakan bahwa hanya doa dan perilaku  baik yang membantu memudahkan jalan mereka menuju keabadianNya. Dan  itulah yang dilakukan Oorlogsgravenstichting (OGS) atau Yayasan Makam  Kehormatan Belanda yang menangani lebih dari 50 makam korban perang di  berbagai belahan dunia.

Tujuh pemakaman yang mereka miliki, di antaranya  ada di Indonesia, Pulau Jawa tepatnya, yang salah satunya adalah  Pemakaman Ereveld di Menteng Pulo, Jakarta. Seperti namanya (Ereveld atau eer veld bisa diartikan lapangan kehormatan dalam bahasa Belanda), keseluruhan tujuan dan desain pemakaman ini menunjukkan penghormatan dan penghargaan pada kemanusiaan, khususnya korban-korban Perang Dunia II.

Sekitar 4000 makam berjajar di lahan yang terbagi menurut agama, yaitu Islam, Kristen, Budha, dan Yahudi. Bukan hanya tentara Belanda tetapi juga para anggota Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL), tentara kerajaan Hindia-Belanda yang anggotanya adalah penduduk Indonesia. Penghormatan atas para korban perang  terlihat pula dari tatanan lahan yang rapi dan  bersih terawat.

Sebuah aula dimanfaatkan tidak saja untuk ibadah misa gereja tetapi juga kegiatan agama-agama lain. Menara dengan empat tiang yang mengacu pada masing-masing agama, berdiri tegak di samping bangunan Kolumbarium yang mengayomi guci-guci kecil keramik berisi abu kremasi para korban perang, di pinggir kolam ikan yang cantik dan hijau segar. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun diangkat dengan penuh cinta di pemakaman ini.

Sebuah patung yang menggambarkan kondisi anak-anak di masa perang, mengingatkan kita akan risiko perang yang membahana, yang menghancurkan kehidupan anak-anak kita, yang dengan kata lain, membinasakan masa depan dunia ini. Perang memang tidak pernah menjanjikan kemenangan mutlak. Selalu ada berlimpah kehilangan di semua pihak yang bertikai. Berapa banyak para terkasih yang mati mengenaskan? Berapa banyak kerugian mater yang harus ditanggung? Berapa besar terpuruknya psikologis masing-masingnya? Berapa besar dan berapa lama kemampuan para pihak membangun kembali segala yang telah porak-poranda? Semua tampak kabur dan tidak nyata.

Namun persahabatan dan kerja sama yang dilakukan setelah damai diberlakukan, patut dihargai. Selain pemakaman Ereveld di tanah milik Indonesia yang diurus dengan baik oleh Belanda, berapa banyak mahasiswa Indonesia yang memperoleh beasiswa untuk belajar di Belanda? Berapa banyak warisan Indonesia yang dikembalikan pemerintah Belanda ke Indonesia? Berapa banyak orang Indonesia yang hidup layak di Belanda?

Penghormatan dan penghargaan pada kemanusiaan kini telah terjadi di negara-negara pasca Perang Dunia II, terutama di Belanda maupun di Indonesia. Meskipun demikian, bukankah akan lebih baik bila segala penghormatan dan penghargaan itu dilakukan tanpa perlu berperang? (Foto & Artikel: Nuria Soeharto

 

 

 

.

View Comments

Recent Posts

Generasi DACA dan Siklus Ketidakpastian Setiap Dua Tahun

Bagi ratusan ribu imigran muda yang dikenal sebagai Dreamers, Amerika selama bertahun-tahun terasa seperti rumah,…

2 days ago

News Reimagined: The Creator Journalism Summit

Washington D.C. - On Monday, May 4th at the National Press Club, journalists, reporters, and…

1 week ago

AAPI Heritage Month Gala

On Friday, May 8th, at Xfinity Live! Casino & Hotel, business leaders, community members, and…

1 week ago

1PHL Startup Summit: Philly’s up and coming tech startups network

On Wednesday, May 6th, at Ballers Philadelphia, a social sports club in Fishtown, tech entrepreneurs…

1 week ago

Nonton World Cup di Philly? Pulangnya Gratis Naik SEPTA

Ketika banyak kota tuan rumah FIFA World Cup 2026 mulai menaikkan tarif transportasi umum demi…

1 week ago

Mengenang James F. Sundah, Sang Penulis “Lilin-Lilin Kecil” yang Menyalakan Harapan Generasi

Dunia musik Indonesia kembali kehilangan salah satu sosok pentingnya. Kabar wafatnya James F. Sundah pada…

2 weeks ago