Ima Matul Maisaroh ternyata mampu tampil meyakinkan di panggung politik AS. Perempuan asal Gondanglegi, Malang itu, berhasil menyampaikan pidatonya di hadapan puluhan ribu delegasi yang menghadiri Konvensi Partai Demokrat di Stadion Utama Wells Fargo, Philadelphia, Pennsylvania, Selasa 26 Juli 2016.
Ima, mantan pramuwisma yang mengalami siksaan itu, mengungkapkan bahwa ia menemukan kenyaman di CAST, Coalition to Abolish Slavery & Trafficking, setelah melarikan diri dari bkas majikannya. ‘’Saya menemukan kembali kekuatan untuk mengorganisasi para mantan korban perbudakan dari seluruh AS,’’ tutur Ima yang tampil dengan setelan jas biru dan rok hitam.
Menurutnya, sebelum perdagangan manusia menarik perhatian kita. Sebelum ada hukum yang mencegah adanya perdagangan manusia. ‘’Bahkan sebelum saya melarikan diri dari bekas majikan saya, Hillary Clinton berhasil mengakhiri perbudakan modern,’’ kata Ima Matul Maisaroh yang malam itu tampil mengenakan kacamata merah. ‘’Sepanjang karirnya, Hillary tetap bertekad mengakhiri perbudakan,’’ sambung perempuan jebolan kelas I SMA Khoirudin, Gondanglegi, Malang.
Sebelum mengakhiri pidatonya yang singkat itu, Ima menaruh harapan pada Hillary Clinton. ‘’Saya memiliki secercah harapan, khususnya pada Hillary Clinton. Bila menjadi presiden AS, saya sebagai bekas korban perbudakan dan perdagangan manusia, berharap agar praktik perdagangan manusia dan perbudakan segera diakhiri,’’ kata Ima yang kepalanya masih terluka akibat siksaan. Suaranya menggema di Stadion Utama Wells Fargo, diiringi tepuk tangan riuh para hadirin.
Baca juga: Srikandi Indonesia Berpidato di Konvensi Nasional Demokrat
Pidato yang hanya beberapa menit itu, ‘’Terasa seperti lama dan berjam-jam,’’ tutur Ima yang hadir di arena sejak pukul 16.00, untuk melakukan latihan. ‘’Tapi baginya, pidato itu menjadi momen paling berharga selama hidupnya,’’ kata Myrna Pinkett, salah seorang ibu kulit hitam pendukung setia Hillary Clinton.
Karena banyaknya permintaan wawancara dari media Indonesia, Ima Matul menggelar jumpa pers, Rabu 27 Juli 2016. Acara ‘Bincang-bincang sambil Makan Pagi’ yang dimulai pukul 9.30 itu digelar hasil kerjasama CAST, Coalition to Abolish Slavery & Trafficking dengan Indonesian Lantern LLC, penerbit situs www.indonesianlantern.com.
Acara yang berlangsung di sebuah apartemen eksklusif di kawasan pusat Kota Philadelphia itu, dihadiri sejumlah media televisi Indonesia. Di antaranya TV-One, AN-TV, Viva.com, VOA Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris serta media lain yang mengikuti lewat streaming video, juga Prayoga, political affairs Kedubes RI Washington DC dan warga Diaspora Indonesia di Philadelphia. DP
Ingin merasakan sensasi terbang di atas punggung naga seperti dalam film How to Train Your…
Panggil saja ia Kembang. Gadis belia asal Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu menyimpan…
Lebih dari 1.000 pernikahan diduga direkayasa dalam jaringan penipuan imigrasi lintas negara. Dari pesta pernikahan,…
Kegiatan Kereta kencana yang membawa turis berkeliling di Time Square Garden, New York akan berhenti…
Program undian Kartu Hijau atau Green Card dibuka kembali oleh Pemerintah AS. Mulai 29 Oktober 2026,…
Di tengah tekanan ekonomi dan sulitnya mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan layak di Indonesia, impian bekerja…