Hari Jazz Internasional 2017 & Sachal Jazz Ensemble Pakistan

Selamat Hari Jazz Internasional.

Jazz dilahirkan di bawah bintang ras, yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah masyarakat kulit hitam Afro-Amerika, dimana musik ini sangat mewakili ekspresi dan kultur masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat. Jazz sering disebut sebagai musik yang mewakili sebuah masyarakat yang terdiskriminasi. Karena perjalanannya yang panjang dan berliku jazz digadang-gadang akhirnya menjadi musik pembawa perdamaian.

Pada 2012 menjadi hari bersejarah bagi insan musik jazz dunia. Pasalnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menggelar rangkaian perayaan Hari Jazz Internasional untuk pertama kalinya yang diselenggakan di Paris, Perancis. Selain itu perayaan tersebut juga dilakukan di kota kelahiran jazz, New Orleans, Amerika Serikat. Puncak perayaan digelar konser besar-besaran di Markas Besar PBB di New York.

Pada November 2011 di Paris dilakukan pertemuan dalam sidang umum Badan PBB khusus untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO), dimana setahun kemudian tercetus hari jazz Internasional setiap 30 April. Lahirnya Hari Jazz Internasional merupakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan musik jazz, agar lebih banyak masyarakat perlu menyadari pentingnya musik jazz bagi pendidikan, sarana dialog dan kerja sama dalam masyarakat, hingga soal kesatuan dan perdamaian. Dalam hal ini UNESCO juga menekan pada posisi musik jazz yang menurut sejarah, musik jazz telah menjadi kekuatan bagi perubahan positif dalam masyarakat.

Perayaan Hari Jazz Internasional kala itu dimeriahkan musisi jazz internasional, antara lain Herbie Hancock, Terence Blanchard, Ellis Marsalis, Dianne Reeves, Kermit Ruffins, Bill Summers, Treme Brass Band, Jeff Watts, Wynton Marsalis, Tony Bennett, Chaka Khan, Angelique Kidjo, Hugh Masekela, Shankar Mahadevan, dan masih banyak lagi.

Meski dalam sejarahnya musik ini dipandang sebelah mata dan terdiskrimasi, saat ini jazz bisa di katakan sebagai genre yang begitu beragam, menjadi musik alternatif bagi sebagian orang, dan musik tradisional bagi yang lainnya, sedang pendengarnya bukan meluas layaknya musik-musik pop dan RnB, tetapi para pendengarnya cenderung mendalam. (kumparan.com)

.

Recent Posts

Lampion Merah di Museum Benteng Heritage

Oleh: Renville Almatsier Lampion merah bergantungan sepanjang gang sempit yang pendèk sekitar Museum Benteng Heritage…

2 weeks ago

Puasa, Dari Waktu Ke Waktu

Ramadan kali ini, di usiaku yang hampir 60 tahun, mengingatkanku akan perkembangan pemahamanku tentang makna…

3 weeks ago

Update Kasus Ponzi Diaspora Indonesia Senilai $24,5 Juta

Masih ingat kasus ponzi yang pelakunya diaspora dan WNI yang tinggal di New York? Kasus…

3 weeks ago

Prabowo dan AS Capai Komitmen Investasi USD38,4 Miliar

Kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Amerika Serikat pada Februari 2026 menandai fase baru dalam…

1 month ago

Senior Centers di Indonesia

Menua Itu Soal Tempat, Bukan Sekadar Umur. “Menua bukan hanya proses biologis. Ia sangat dipengaruhi…

1 month ago

SAVE America Act dan Ancaman bagi Pemilih AAPI

Organisasi advokasi pemilih Asian and Pacific Islander American Vote (APIAVote) menyatakan keprihatinan atas lolosnya SAVE…

1 month ago