Masih ingat kasus ponzi yang pelakunya diaspora dan WNI yang tinggal di New York?
Kasus yang sempat mengguncang komunitas Indonesia dan Indo-Amerika ini kembali menjadi sorotan setelah adanya perkembangan terbaru terkait para terpidana.
Seorang warga negara Indonesia terlibat dalam skema Ponzi bernilai sekitar $24,5 juta yang menjerat ratusan investor, terutama dari komunitas Indonesia dan Indo-Amerika di Amerika Serikat.
Berdasarkan dokumen pengadilan dan rilis resmi Kejaksaan AS Distrik Timur New York, Francius Marganda mengaku bersalah atas dakwaan penipuan sekuritas dan pencucian uang terkait operasi investasi palsu yang menjanjikan keuntungan tinggi kepada investor. Dalam menjalankan operasinya, Francius dibantu oleh dua orang kakak-beradik, Theresia Jaya dan Imanuelly Jaya.
Skema ini berlangsung dari Mei 2019 hingga Mei 2021 melalui program investasi bernama Easy Transfer dan Global Transfer yang menjanjikan imbal hasil tinggi dalam waktu singkat. Namun, pada kenyataannya, program tersebut merupakan struktur Ponzi, di mana keuntungan investor lama dibayarkan menggunakan dana dari investor baru. Ketika aliran dana baru berhenti, skema tersebut runtuh.
Akibat penipuan ini, banyak korban kehilangan tabungan dalam jumlah besar, termasuk dana pensiun dan dana usaha. Beberapa korban dilaporkan mengalami kesulitan finansial serius akibat kerugian tersebut.
Pada 3 April 2025, hakim federal di Brooklyn menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara kepada Francius Marganda serta memerintahkan pembayaran restitusi dan penyitaan aset untuk mengganti kerugian korban. Saat ini Francius ditahan di FCI Otisville, New York.
Sementara itu, Theresia Jaya dijatuhi hukuman 1 tahun penjara dan Imanuelly Jaya 5 tahun penjara, dengan tambahan masing-masing 3 tahun masa pembebasan bersyarat (supervised release) setelah menjalani masa hukuman penjara mereka. Per 27 Februari 2026, keduanya sudah berada di Federal Correctional Institution (FCI) Waseca, Minnesota.
Mawar (nama samaran), salah satu korban yang tinggal di negara bagian Pennsylvania, mengaku sangat senang karena akhirnya para pelaku berada di balik terali besi. “Semoga mereka kapok dan tidak menipu lagi,” ujar ibu yang kehilangan $40 ribu ini.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat agar selalu berhati-hati terhadap tawaran investasi dengan imbal hasil tinggi yang tidak disertai transparansi dan legalitas yang jelas.
Ketika Diaspora Memilih Indonesia untuk Menjalani Masa Pensiun Keinginan untuk pulang biasanya datang perlahan. Mula-mula…
Aturan baru dapat membuat penggunaan sejumlah bantuan pemerintah ikut dipertimbangkan dalam permohonan green card. Namun,…
Beberapa waktu terakhir, beberapa teman menerima email dengan subjek “U.S. Visa Revocation Notice…” yang dikirim…
Departemen Kesehatan Masyarakat Philadelphia (Philadelphia Department of Public Health/PDPH) merilis laporan terbaru mengenai tingkat kematian…
Pemerintahan Donald Trump menggunakan ancaman “public charge” untuk menghentikan visa imigran dari 75 negara. Namun,…
Semangat kemerdekaan tak selalu dirayakan dengan upacara atau perlombaan tradisional. Di Philadelphia, komunitas tenis Indonesia…