Nick Swyter, Senior Program Manager for Philanthropic Partnerships
Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan kecil di sekitar Pondok Indah dan Kemang, berteman dengan anak-anak kampung, hingga kini berkarier di The New York Times. Namun, bagi Nick, Jakarta akan selalu menjadi “second home.”
Kalau media sosial sudah seramai sekarang pada awal tahun 2000-an, mungkin banyak orang akan menjuluki Nick Swyter sebagai “anak Jaksel.” Maklum, ia lahir, besar, bersekolah di Jakarta International School (JIS), dan tumbuh di lingkungan yang kini identik dengan sebutan tersebut.
Namun, ada satu hal yang membedakan Nick dari stereotip “anak Jaksel” yang sering muncul di media sosial. Ia mungkin adalah anak Jaksel yang lebih sering berlari menyusuri gang-gang kampung daripada menghabiskan waktu di pusat keramaian.
Sulit membayangkan bahwa seorang anak yang dulu berlari menyusuri jalan-jalan perkampungan di sekitar Pondok Indah dan Kemang, bermain karambol bersama anak-anak kampung, serta ngopi dan bersantai di Pondok Indah Mall ketika mal itu baru memiliki dua gedung, suatu hari akan menjadi bagian dari salah satu organisasi media paling berpengaruh di dunia.
Bagi Nick Swyter, semua itu bukan sekadar kenangan masa kecil.
Nick lahir di Jakarta dari keluarga multikultural. Ayahnya berasal dari Amerika Serikat, sementara ibunya berasal dari Panama. Sejak kecil ia hidup di persimpangan berbagai budaya, tetapi justru Indonesia menjadi tempat yang paling lama membentuk kesehariannya.
Sebagai warga negara Amerika Serikat, Nick menghabiskan masa kecil hingga lulus SMA di Jakarta International School, yang kini dikenal sebagai Jakarta Intercultural School. Selama bertahun-tahun, Jakarta bukan sekadar alamat tempat tinggal, melainkan ruang tempat ia belajar memahami keberagaman, membangun persahabatan, dan melihat dunia dari berbagai sudut pandang.
Ketika berbincang dengan Indonesian Lantern pekan lalu, Nick tidak ragu menggambarkan hubungannya dengan kota tempat ia dibesarkan.
“Jakarta is my second home,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Nick, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar nostalgia.
Setiap generasi memiliki tempat yang selalu membawa mereka kembali ke masa muda.
Bagi Nick, tempat itu adalah Jakarta Selatan.
Sepulang sekolah di Jakarta International School, ia kerap bersantai bersama teman-temannya di Pondok Indah Mall. Saat itu, mal ikonik tersebut baru memiliki dua gedung, PIM 1 dan PIM 2, yang menjadi salah satu tempat berkumpul favorit anak-anak muda Jakarta.
Namun, cerita Nick tentang Jakarta Selatan tidak berhenti di pusat perbelanjaan.
Jika banyak remaja seusianya lebih sering menghabiskan waktu di mal, Nick justru menemukan kebahagiaannya dengan cara yang berbeda.
Ia gemar berlari.
Bukan di treadmill.
Bukan pula hanya mengelilingi kawasan elite Pondok Indah.
Sepasang sepatu larinya membawanya menyusuri gang dan jalan-jalan kecil di sekitar Pondok Indah hingga Kemang. Di sanalah ia menemukan Jakarta yang berbeda, bukan Jakarta yang dikenal melalui gedung pencakar langit atau pusat perbelanjaan, melainkan Jakarta yang hidup lewat keramahan warganya.
Karena sering melewati rute yang sama, wajah Nick mulai dikenal oleh warga sekitar. Sapaan singkat berubah menjadi obrolan. Obrolan berkembang menjadi pertemanan. Tak lama kemudian, anak-anak kampung mulai mengajaknya ikut bermain.
Di bawah rindangnya pepohonan atau di halaman rumah yang sederhana, Nick belajar bermain karambol. Di kesempatan lain, ia juga dikenalkan pada congklak, permainan tradisional Indonesia yang mengajarkan strategi, kesabaran, dan kebersamaan.
Perbedaan bahasa maupun kewarganegaraan seolah tidak lagi menjadi batas. Yang ada hanyalah sekelompok anak yang tertawa bersama hingga matahari mulai tenggelam.
Pengalaman-pengalaman sederhana itulah yang paling membekas dalam ingatan Nick. Di gang-gang kecil Jakarta Selatan, ia belajar bahwa rumah tidak selalu ditentukan oleh tempat kita dilahirkan.
Rumah juga bisa lahir dari orang-orang yang menerima kita apa adanya.
Kini kawasan Pondok Indah telah banyak berubah. PIM telah memiliki gedung ketiga, jalan-jalan semakin ramai, dan wajah Jakarta Selatan terus berkembang. Namun bagi Nick, kawasan itu akan selalu menjadi tempat yang menyimpan sebagian kisah masa kecilnya.
Kenangan tentang Jakarta juga selalu hadir melalui rasa.
Jika ditanya makanan Indonesia favoritnya, Nick tidak perlu berpikir lama.
Martabak telur.
Kulitnya yang renyah, isi daging dan telur yang gurih, dipadukan dengan acar serta kuah cuka yang khas, masih menjadi salah satu makanan yang paling ia rindukan.
Di tengah beragam pilihan kuliner internasional yang kini mudah ditemui di Amerika Serikat, cita rasa martabak telur tetap memiliki tempat tersendiri dalam ingatannya.
Karena makanan sering kali bukan hanya soal rasa.
Ia juga menyimpan cerita.
Setelah menamatkan pendidikan di Jakarta International School, Nick melanjutkan studi ke University of Miami, Florida. Di sana ia mengambil dua bidang studi sekaligus, Broadcast Journalism dan International Studies, kombinasi yang mencerminkan minatnya pada dunia media dan isu-isu global.
Perjalanan profesionalnya kemudian membawanya ke berbagai organisasi media dan penerbitan di Amerika Serikat. Semua pengalaman tersebut akhirnya mengantarkan Nick bergabung dengan The New York Times, tempat ia kini menjabat sebagai Senior Program Manager for Philanthropic Partnerships. Dalam peran tersebut, ia membantu membangun dan mengembangkan kemitraan filantropi yang mendukung berbagai inisiatif jurnalistik organisasi berita tersebut.
Meski perjalanan kariernya membawanya ke berbagai tempat, sebagian cerita terpenting dalam hidupnya ternyata dimulai jauh sebelum semua itu, di jalan-jalan kecil Jakarta Selatan.
Jakarta telah berubah.
Pondok Indah Mall kini memiliki gedung ketiga. Kemang semakin ramai.
Gang-gang yang dulu sering dilewati Nick mungkin tak lagi persis sama.
Namun, ada satu hal yang tidak berubah.
Kenangan.
Ketika berbicara tentang Indonesia, Nick tidak mengingat gedung-gedung tinggi ataupun kemacetan ibu kota.
Yang ia ingat justru gang-gang kecil tempat ia bertemu teman-teman baru, permainan karambol dan congklak yang mengajarkannya arti kebersamaan, serta seporsi martabak telur yang hingga kini masih menjadi salah satu makanan favoritnya.
Di sanalah ia belajar bahwa rumah bukan hanya tempat kita dilahirkan.
Rumah adalah tempat yang menerima kita, membentuk kita, dan meninggalkan kenangan yang tak mudah dilupakan.
Dalam wawancara bersama Indonesian Lantern, Nick juga bercerita bahwa ia berencana kembali mengunjungi Jakarta pada Juli mendatang. Sekilas informasi itu mungkin terdengar seperti agenda perjalanan biasa. Namun bagi seseorang yang masih menyebut Jakarta sebagai “second home”, kepulangan itu terasa seperti menepati janji dengan sebuah kota yang telah memberinya begitu banyak kenangan.
Mungkin banyak orang mengenal Nick Swyter sebagai seorang profesional di The New York Times.
Namun bagi Jakarta, ia akan selalu menjadi anak yang pernah berlari menyusuri gang dan jalan sempit di Pondok Indah dan Kemang, bermain karambol bersama teman-teman kampung, menikmati martabak telur, dan menemukan arti rumah jauh dari negara yang tertera di paspornya.
Karena pada akhirnya, rumah bukan hanya tempat kita berasal.
Rumah adalah tempat yang selalu membuat kita ingin kembali.
Dan bagi Nick Swyter, tempat itu akan selalu bernama Jakarta.
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan hasil wawancara dengan Nick Swyter serta informasi biografis dari berbagai sumber yang tersedia untuk publik. Melalui kisah ini, Indonesian Lantern ingin menghadirkan perjalanan hidup seseorang yang sebagian terbentuk di Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa hubungan antara manusia, sebuah tempat, dan kenangan dapat tetap hidup meski dipisahkan oleh waktu maupun batas negara.
Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…
Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…
Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…
Sekitar 237 orang yang menjadi korban penipuan investasi bodong di AS, bisa bernafas sedikit lega.…
Datang ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya bukan hanya soal mengejar mimpi. Bagi banyak pendatang…
Komunitas Indonesia di Philadelphia kembali berduka. Nathali, seorang perempuan diaspora Indonesia berusia 72 tahun, meninggal…