Arab Saudi Izinkan Gedung Bioskop Beroperasi Tahun 2018

Kerajaan Arab Saudi akan membuka gedung bioskop komersial di seluruh Arab Saudi. Bloomberg.com mengabarkan Senin (11/12/2017), menurut kementerian kebudaayaan dan informasi Saudi, sejumlah gedung multiplex dijadualkan akan dibuka Maret 2018.

Dengan demikian, 2000 layar perak yang berada di 300 bioskop multiplex akan menayangkan film-film komersial pada tahun 2030 mendatang, sehingga industri perfilman Arab Saudi dapat memberikan kontribusi sebesar $ 24 miliar dan membuka 30 ribu bidang pekerjaan.

Untuk pertama kalinya sejak 35 tahun, Kerajaan Arab Saudi membuka kembali bisnis film komersial. Pada tahun 1980-an, Arab Saudi melarang pertunjukan film dan hiburan di tempat umum, setelah kelompok militan menyerbu Masjid Agung 1979. Hampir semua tempat hiburan diberangus dan para ulama diberi kekuasaan untuk mengontrol sekolah-sekolah, pengadilan dan kehidupan sosial lainnya.

Namun kini, setelah Pangeran Mohammed bin Salman mengambil alih seluruh kebijaksanaan Kerajaan Saudi, negara petro dolar itu berubah total. Gedung bioskop direncanakan ‘’Akan menjadi pusat informasi untuk mendorong kekayaan budaya Saudi,’’ bunyi pernyataan Departemen Kebudayaan dan Informasi Arab Saudi. Maklum selama ini Arab Saudi tidak memiliki gedung bioskop resmi. Warga Saudi menonton film dan video asing di rumah masing-masing walaupun hal itu dilarang.

Bisa dipastikan, gedung-gedung bioskop itu akan dibagi dua untuk para penonton pria dan wanita. Juga bagi para keluarga akan disediakan tempat khusus. Dan, film yang ditayangkan ‘’Akan mengalami sensor ketat agar sesuai dengan ajaran Syariah Islam,’’ bunyi pernyataan kementerian kebudayaan Saudi.

Sejumlah investor asing dikabarkan akan melebarkan sayapnya ke Saudi. Termasuk di antaranya Imax Corp dan AMC Entertainment Holding, yang menguasai pasar bioskop di AS. Sementara itu, Majid al Futtaim, pembangun mall dan fasilitas hiburan dari Dubai akan bekerjasama dengan Pemerintah Riyadh untuk membangun gedung bioskop Vox Cinema.

.

Recent Posts

Perempuan dan Masa Depan Diplomasi

Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang…

3 weeks ago

Wajar Bukan Berarti Benar

Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan…

3 weeks ago

Anak Jaksel Berkarier di The New York Times

Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…

1 month ago

40 Hari Mengenang James F. Sundah, Beasiswa Riset Hak Cipta Diluncurkan

Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…

1 month ago

Cerita Chef Diaspora Bikin Kuliner Nusantara Mendunia

Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…

1 month ago

Diaspora Global Summit 2: Dari Brain Drain Menuju Brain Gain

Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…

2 months ago