Cristina Cifuentes, politikus wanita Spanyol mengundurkan diri sebagai Presiden Partai Populer, PP cabang Madrid, karena pernah mencuri krim anti keriput pada 2011 lalu.
The Telegraph mengabarkan Rabu (25/4/2018), dengan begitu peluang Cristina Cifuentes untuk tampil sebagai calon pemimpin Spanyol pun lenyap. Sebab Cristina, yang bergelar master itu berpotensi besar untuk mengganti Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajov. ‘’Ibu Cristina telah melakukan langkah yang seharusnya. Dan ini membuka era baru bagi Partai Popular di Madrid,’’ kata PM Mariano Rajov di depan Kongres.
Peristiwa memalukan yang terjadi 2011 itu, sebenarnya sudah lama terpendam. Namun kasus itu kembali ditampilkan oleh portal berita OK Diario, Rabu (25/4/2018). Dalam video yang diunggah menyertai berita itu, Cristina tampak digiring Satpam ke sebuah ruangan belakang toko serba ada dan diminta membongkar seluruh isi tasnya.
‘’Saya tak sengaja, mengambil dua botol krim pelembab anti-keriput yang harganya 40 Euro, dan sudah saya bayar,’’ tutur Cristina. ‘’Rekaman video itu digunakan untuk tujuan politik,’’ sambung Cristina.
Dalam penjelasannya kepada wartawan Cristina Cifuentes merasa tidak diperlakukan adil, karena ia bertekad membasmi korupsi dan menyerang kelompok oposisi. ‘’Pembasmian korupsi tanpa toleransi harus dibayar mahal. Saya menjadi korban kampanye penganiayaan politik yang melanggar batas. Tapi saya tetap berjalan dengan kepala tegak,’’ kata Cristina Cifuentes.
‘’Saya tidak mau melukai perasaan keluarga saya. Saya harus mengambil keputusan untuk memikul penderitaan dan salib ini ke Gunung Kalvari. Bukan mereka,’’ ujar Cristina. ‘’Dan hal ini merupakan langkah terbaik bagi warga Madrid dan Partai Populer,’’ sambungnya.
Banyak nada pesimis dan rasanya jauh panggang dari api! Bagaimana tidak, sejak Golden Visa Indonesia…
Immigration and Customs Enforcement (ICE) kembali menjadi sorotan publik. Lembaga federal yang selama bertahun-tahun dikenal…
Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengumumkan penghentian sementara pemrosesan visa imigran untuk warga dari 75…
Lebih dari 10.000 pencari suaka di New York berisiko dideportasi pada tahun 2025 tanpa pernah…
Isu biaya hidup, inflasi, dan imigrasi kerap mendominasi pemberitaan media di Amerika Serikat. Di tengah…