Categories: AchievementDiaspora

Di balik Peristiwa Lalu M. Zohri Tanpa Sang Saka

Bendera merah putih yang tidak sempat dibawa Lalu Muhammad Zohri usai memenangkan lomba lari 100 meter di ajang IAAF world U20 di Tampere, Finlandia, mengundang kritik berbagai pihak di media sosial. Bahkan ada yang menyebut, Zohri dipinjami bendera tim Polandia yang berwarna putih merah.

Padahal cerita yang terjadi tidak begitu dramatis. Menurut Miranti Hirschmann, wartawati TVOne yang pernah meliput lomba lari tahun 2009, tim olahraga yang menyertai pemain dilarang berada di dekat venue. Demikian juga pelatih dari PB PASI, Kikin Ruhuddin dan Erwin Renaldo Maspaitela yang menyertai Lalu M Zohri dan Halomoan Edwin Binsar Simanjuntak, pelari lari gawang pemecah 4 rekor nasional. Kedua pelatih itu hanya merekam jalannya pertandingan sebagai bahan evaluasi, menghadapi pertandingan Asian Games bulan depan, di tempat duduk mereka di kejauhan.

‘’Mereka telah membawa bendera. Namun karena posisi mereka jauh dari lintasan lari, mereka tidak cukup cepat memberikan bendera Indonesia ke tangan Lalu, saat ia dinyatakan sebagai pemenang,’’ tulis Miranti di akun Facebooknya. Wiwiek Setyawati Firman, Duta besar RI untuk Finlandia bahkan menuturkan, pihaknya telah membawa sejumlah bendera untuk dibagikan kepada warga Indonesia yang menyaksikan pertandingan internasional itu.

‘’Bahkan bendera di ruang kerja saya, yang biasa dipasang bersebelahan dengan bendera Finlandia saya bawa sekalian,’’ tutur Wiwiek Setiyawati sambil menyebutkan hanya ada 30 warga Indonesia yang berdiam di Tampere, Finlandia.

Dubes RI Finlandia, Wiwiek Setyawati bersama Lalu M. Zohri (Kedubes RI Finlandia)

Warga Indonesia yang menonton pertandingan itu pun tidak banyak, karena berlangsung pada hari kerja. Lebih-lebih, tiket kereta api bila berangkat dari ibu kota Helsinki menuju ke tempat pertandingan, cukup mahal. ‘’Pulang pergi butuh biaya 100 Euro ditambah harga karcis masuk stadion 12 euro (hampir Rp 2 juta),’’ kata Dubes Wiwiek yang harus membeli karcis sendiri, karena tidak disediakan panitia.

Sialnya lagi, ternyata mendapat tempat duduk di sisi lapangan yang sangat jauh dari lintasan lari. ‘’Sehingga harus menonton lewat layar raksasa saja,’’ tutur Wiwiek. ‘’Yang punya akses sebagai delegasi hanya 4 orang, 2 atlet dan 2 pelatih,’’ sambung Wiwiek.

 

Selang beberapa menit pasca pengumuman pemenang final 100 meter putra, tampak Lalu M Zohri bersujud atas kemenangannya, kembali bangun melihat ke kiri dan ke kanan. Apakah ia mencari bendera? ”Saya mencari pelatih,“ ujar Lalu pelan saat berhasil dihubungi lewat videocall whatsapp Dubes Wiwiek.

Dubes RI Finlandia, Wiwiek Setyawati bersama Tim PB PASI (Kedubes RI Finlandia)

Hendri Firzani, Humas PB PASI menyatakan saat pengumuman kemenangan Zohri, 3 delegasi berlari dari posisi mereka ke pojok terdekat dengan lintasan lari, di tribun mereka duduk,untuk memberikan bendera. ”Jarak dari tribun ke lintasan lari memang cukup jauh. Pemenang di posisi kedua dan ketiga asal Amerika sudah keburu mengajak Lalu berfoto bersama dengan Lalu M Zohri,” tutur Hendri Ferzani menambahkan.

Lalu M. Zohri & Pramusaji di Hard Rock Cafe (Kedubes RI Finlandia)

Twitter Asosiasi Atletik Polandia sempat mencuit bahwa Zohri dipinjami bendera Polandia yang dibalik untuk berfoto. Kalaupun hal ini benar, bukan kah ini hal yang manis, sportif dan kekeluargaan sebagai masyarakat atlet dunia?

Cerita lain yang tak kalah menariknya adalah sosok Lalu Mohammad Zohri. Pemuda sederhana yang tak pernah absen sholat lima waktu itu, tidak mau makan roti Finlandia dan salad yang disuguhkan panitia lomba.

Pada hari  pertandingan final, Zohri ngotot menunggu kiriman nasi dan lauk dari Kedubes RI. Ia tak mau makan makanan yang disediakan hotel tempat menginap. Hal ini sempat membuat tim PB PASI dan Kedubes RI di Finlandia khawatir tentang kondisi Zohri.

Menjaga stamina kedua atlet yang berlaga, Dubes Wiwiek selalu berkonsultasi dengan suaminya, seorang dokter spesialis , tentang makanan sehat yang dapat disajikan. Ia pun berbelanja sendiri ke supermarket untuk menjamin apa yang dikirimkan untuk Zohri dan Moan adalah bahan makanan terbaik.

Begitu pula saat memenangkan pertandingan final, apa yang diidamkan Lalu Zohri? “Ingin makan nasi dengan Pelecing Kangkung”. Duta Besar dan KBRI mengundang seluruh delegasi ke Wisma Duta di Helsinki, untuk makan malam, dengan menu yang lebih longgar dibandingkan pada hari-hari pertandingan, tentu saja ditambah dengan Pelecing Kangkung.

 Kini wajah Lalu M Zohri langsung dikenali saat jalan jalan di Helsinki. Bahkan para pramusaji di Hard Rock Cafe Helsinki langsung menyapanya “Hey! Indonesia? You are the world champion!”. Ia mendapat hadiah segelas besar es krim dengan kembang api di atasnya. Para pramusaji HRC yang berparas cantik itu pun minta berfoto dengannya. (DP & Miranti Hirschmann)

 

.

Recent Posts

Lampion Merah di Museum Benteng Heritage

Oleh: Renville Almatsier Lampion merah bergantungan sepanjang gang sempit yang pendèk sekitar Museum Benteng Heritage…

7 days ago

Puasa, Dari Waktu Ke Waktu

Ramadan kali ini, di usiaku yang hampir 60 tahun, mengingatkanku akan perkembangan pemahamanku tentang makna…

1 week ago

Update Kasus Ponzi Diaspora Indonesia Senilai $24,5 Juta

Masih ingat kasus ponzi yang pelakunya diaspora dan WNI yang tinggal di New York? Kasus…

2 weeks ago

Prabowo dan AS Capai Komitmen Investasi USD38,4 Miliar

Kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Amerika Serikat pada Februari 2026 menandai fase baru dalam…

3 weeks ago

Senior Centers di Indonesia

Menua Itu Soal Tempat, Bukan Sekadar Umur. “Menua bukan hanya proses biologis. Ia sangat dipengaruhi…

4 weeks ago

SAVE America Act dan Ancaman bagi Pemilih AAPI

Organisasi advokasi pemilih Asian and Pacific Islander American Vote (APIAVote) menyatakan keprihatinan atas lolosnya SAVE…

1 month ago