Categories: AchievementEconomy

Banyak warga Indonesia Ikut Nikmati Kemajuan Ekonomi AS

Di tengah krisis politik dalam dan luar negeri, Presiden Donald Trump berhasil membawa kemakmuran bagi Amerika Serikat. Hal itu dibuktikan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi sebesar 4,1 %.

 

‘’Dalam kuartal kedua, GDP (Growth Domestic Product) mengalami kenaikan 4,1%,’’ kata Presiden Trump di Gedung Putih, Jumat 27 Juli 2018. ‘’Kemajuan cukup pesat sejak 13 tahun lalu, dengan rata-rata per tahunnya 3%,’’ tambahnya. Setiap satu angka, kata Trump, berarti mewakili angka $ 3 triliun dan 10 juta lapangan kerja. ‘’Jika hal ini terus berlangsung, maka kemajuan ekonomi AS dua kali lipat dibandingkan Pemerintahan Presiden Bush dan Obama. ‘’Defisit perdagangan luar negeri AS bisa ditekan hingga $ 52 miliar,’’ Trump bangga.

Pernyataan orang nomor satu AS itu memang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa bulan belakangan, toko-toko di sejumlah pusat perbelanjaan banyak membuka lowongan pekerjaan.

Akun Facebook sejumlah komunitas Indonesia di setiap negara bagian juga menawarkan hal yang sama. Banyak restoran dan rumah makan di Pantai Timur dan Barat membuka lapangan pekerjaan menjadi ‘Koki Hibachi’ atau ‘Koki Shushi’ serta pelayan rumah makan. Dua jenis pekerjaan yang banyak diisi warga Indonesia di AS. 

Para pengusaha makanan menawarkan gaji setinggi $ 5000 per bulan, plus tips, dan $ 3000 sebulan bagi pelayan. Selain itu, mereka diberi faslitas kamar dan apartemen dan makanan secara gratis.  ‘’Kalau dihitung dengan kurs Rupiah sekarang, maka sebulan bisa mengantongi Rp 70 juta/bulan,’’ tulis seorang juru masak di akun Facebooknya. Jumlah itu mengalahkan gaji pokok Presiden RI yang hanya Rp 50 juta per bulan.

Demikian juga yang dialami sejumlah warga Indonesia di Philadelphia. Mereka yang bekerja sebagai pengantar makanan dan koki masak di sebuah rumah sakit anak-anak dan balita, pegawai tetapnya digaji rata-rata $ 25 per jam. Sedangkan pegawai paruh waktu sekitar $ 20 per jam dengan jumlah jam kerja terbatas. Dalam sebulan, pegawai tetap rata-rata bisa mengantongi $ 5000 atau sekitar Rp 70 juta/bulan.

Karena itu, jangan heran bila seorang ibu asal Jawa Barat mampu mengirimi putrinya yang kuliah di Jakarta, sekitar Rp 14 juta per minggu. ‘’Selain untuk keperluan kuliah, uang itu diputar untuk usaha peternakan sapi dan kambing,’’ kata ibu berusia 50-an tahun yang akrab dipanggil Teteh itu.

 

Nasib serupa juga dialami sejumlah warga Indonesia yang berdiam di Washington DC dan sekitarnya. Hanya bekerja sebagai pengantar koran dan pengemudi Uber atau Lyft (dua penyelenggara taksi pribadi), mereka mampu hidup mandiri. ‘’Rata-rata saya hanya tidur dua atau tiga jam saja,’’ tutur Suwiryo, salah seorang warga Indonesia asal Jawa Tengah.

Bahkan seorang pemuda yang baru saja menikah, mampu mencicil rumah seharga $ 350 ribu di bilangan Maryland, hanya menjalankan taksi pagi hingga siang hari. ‘’Rezeki harus diterima seadanya. Jangan ngoyo,’’ tutur pemuda yang biasa dipanggil ‘Mr T’ yang sekali-kali menjadi penjaga sebuah Laundromat.

Lain lagi cerita Mbak Rita, seorang pramuwisma yang telah memiliki rumah mirip istana di kampungnya. Rita yang menjadi pramuwisma pengusaha pompa bensin di Maryland itu, mampu menyantuni keluarga miskin di tanah air. Baru saja ia mengundang dua teman karibnya untuk sama-sama membeli tas merk Tory Burch berwarna merah. Mereka masing-masing membeli arloji merk Michael Kors, sebelum mejeng bareng di sebuah pusat perbelanjaan di Virginia.

Nasib baik juga dialami Widodo. Pemuda Jawa Timur yang bekerja sebagai pengantar makanan sebuah restoran China ini, telah memiliki dua buah apartemen. Widodo yang berperawakan kecil itu, baru saja membuka usaha Cuci Mobil di kampungnya di Jawa Timur. ‘’Alhamdulilah lancar usahaku,’’ tulisnya di akun Facebooknya dan memasang gambar usahanya dengan deretan mobil antre untuk dicuci.

Etos kerja yang gigih, bekerja keras, rajin menabung dan nasib baik, menjadikan mereka berhasil. Dan hal itu bisa terwujud di sebuah negara kapitalis bernama Amerika Serikat. (DP)

ga('create', 'UA-47487224-2', 'auto'); ga('send', 'pageview');

.

Recent Posts

Ketakutan dan Penipuan: Wajah Lain Krisis Imigrasi di Philly

Di tengah meningkatnya penegakan hukum imigrasi di Amerika Serikat, muncul ancaman lain yang tak kalah…

3 days ago

Bali Cafe Indo Brings Indonesian Flavors to Las Vegas

The Consul for Economic Affairs at the Consulate General of the Republic of Indonesia in…

4 days ago

Bayang Deportasi di Balik DACA

Di balik istilah hukum yang terdengar teknis, tersimpan kegelisahan yang sangat nyata bagi ratusan ribu…

6 days ago

Dari Saksi ke Tahanan: Kisah Lansia Indonesia di Philly

Di balik peristiwa penangkapan oleh agen U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) di luar Philadelphia…

1 week ago

The Sandwich Generation in Exile: Antara Karier di Amerika dan Bakti di Indonesia

Opini: Akmal Nasery Basral* Bagi diaspora Indonesia di Amerika Serikat, ada satu suara yang paling ditakuti…

4 weeks ago

Power Up Philly: Philadelphia Perluas Akses Digital untuk Warga

Pada Sabtu, 28 Maret, City of Philadelphia menggelar Power Up Philly: Community Tech Expo, salah…

1 month ago