Presiden Trump Adu Mulut dengan Dua Petinggi Demokrat di Gedung Putih

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berdebat penuh emosi dengan sejumlah petinggi Partai Demokrat di Gedung Putih, Selasa (11/12) waktu setempat, dan bahkan mengancam akan melakukan government shutdown jika mereka tidak bersedia menyepakati anggaran miliaran dolar untuk membangun tembok di perbatasan Meksiko.

Presiden dan para petinggi Kongres dari kubu oposisi itu rencananya hendak berfoto bersama di Ruang Oval Gedung Putih. Yang terjadi malah mereka bertengkar di depan awak media dari berbagai negara. Chuck Schumer, politikus senior Demokrat di Senat, dan Nancy Pelosi yang bakal menjadi Ketua Parlemen  terang-terangan menyampaikan ke Trump dia tak punya peluang mencairkan dana US$ 5 miliar untuk membangun tembok perbatasan itu.

Merasa tersinggung, Trump mengulangi ancamannya untuk membalas dengan menolak menandatangani RUU belanja federal sampai batas waktu 21 Desember. “Ya, jika kami tidak mendapat yang kami inginkan entah bagaimana caranya, saya akan menutup pemerintahan (government shutdown),” ujarnya. “Saya bangga menutup pemerintahan demi keamanan perbatasan.” Schumer keberatan, sedangkan Pelosi menyarankan bahwa debat seperti itu seharusnya tidak terjadi di depan jurnalis.

Namun Trump tidak bisa mengendalikan amarahnya. Pemimpin AS itu mengambil dua lembar kartu memo dan membacakan angka-angka yang menurutnya membuktikan keberhasilan menangkal kehadiran imigran gelap di perbatasan yang sudah memiliki pagar tinggi. “Ini sudah sangat efektif,” ujarnya.

Usai pertemuan, Pelosi lalu mengatakan bahwa statistik itu tidak akurat. “Apa yang disampaikan presiden dengan kartunya di sana tadi bukanlah fakta. Kita harus bicara berdasarkan bukti tentang apa yang sudah berhasil, bagaimana uangnya dibelanjakan, dan bagaimana efektivitasnya.” kata Pelosi. Sementara, Schumer bicara lebih keras lagi di luar Gedung Putih usai peristiwa itu. “Ledakan emosi seperti ini, yang sepertinya memang dia luapkan, tidak akan memberinya tembok seperti yang diinginkan dan menyinggung banyak orang,” ujarnya.

Pelosi juga sempat menyampaikan ke sesama politisi Demokrat di Kongres bahwa desakan Trump untuk membangun tembok “seolah-olah mewakili sikap kejantanan bagi dia, seolah-olah kejantanan memang bisa dikaitkan dengan dia.” Namun Trump kemudian melunakkan nadanya soal insiden tersebut, deengan mengatakan pertemuan berlangsung “penuh persahabatan” dan bahwa dia “menghormati mereka berdua”. (Beritasatu.com)

.

Recent Posts

AS Bongkar Jaringan Scam Asia Tenggara

Di balik pesan WhatsApp yang terdengar ramah, atau tawaran investasi yang terlihat “terlalu bagus untuk…

2 days ago

Ketakutan dan Penipuan: Wajah Lain Krisis Imigrasi di Philly

Di tengah meningkatnya penegakan hukum imigrasi di Amerika Serikat, muncul ancaman lain yang tak kalah…

6 days ago

Bali Cafe Indo Brings Indonesian Flavors to Las Vegas

The Consul for Economic Affairs at the Consulate General of the Republic of Indonesia in…

1 week ago

Bayang Deportasi di Balik DACA

Di balik istilah hukum yang terdengar teknis, tersimpan kegelisahan yang sangat nyata bagi ratusan ribu…

1 week ago

Dari Saksi ke Tahanan: Kisah Lansia Indonesia di Philly

Di balik peristiwa penangkapan oleh agen U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) di luar Philadelphia…

2 weeks ago

The Sandwich Generation in Exile: Antara Karier di Amerika dan Bakti di Indonesia

Opini: Akmal Nasery Basral* Bagi diaspora Indonesia di Amerika Serikat, ada satu suara yang paling ditakuti…

4 weeks ago