Categories: AchievementIndonesia

Opini Menanti Arah Nadiem Makarim

Oleh: Kemala Atmojo

Salah satu menteri baru yang banyak dibicarakan orang adalah Nadiem Makarim. Pasalnya, ia dianggap belum pernah bersentuhan langsung dengan  pengelolaan institusi pendidikan. Apalagi pendidikan tinggi kembali bergabung dengan Kemendikbud, sehingga beban bertambah berat. Dengan begitu Nadiem akan ikut menentukan bagus atau rusaknya sebagian generasi muda kita di masa mendatang.

Namun, masih terlalu dini untuk mengatakan apakah Nadiem berhasil atau gagal dalam memimpin Kemendikbud. Hingga kini yang muncul hanya wacana sepotong-sepotong mengenai pentingnya hal-hal yang perlu dipelajari oleh peserta didik. Jika konsep telah disampaikan dan kebijakan baru dikeluarkan, maka kita akan segera tahu bagaimana pemahamannya tentang pendidikan, mahzab apa yang dianut, teori apa yang dipakai, dan pemikir siapa yang dirujuk.

Apakah Nadiem akan mengikuti gagasan pendidikan Giambattista Vico yang terkenal dengan rumusan Sapientia (kebijaksanaan manusiawi); Eloquentia (kemampuan untuk mengekspresikan melalui bahasa); dan Prudentia (kebijaksanaan praktis)? Atau ia akan melirik gagasan John Dewey dengan “rekonstruksi pengalaman”-nya? Bagi John Dewey, pendidikan dan pembelajaran merupakan suatu proses interaktif yang bersifat sosial. Proses tersebut bertujuan utama untuk memampukan peserta didik menjadi pembelajar terus menerus dengan secara cerdas menanggapi dan mencari solusi atas masalah yang dihadipanya.

Lalu ada Paolo Freire yang menolak pendidikan modal bank, yakni pendidikan yang diibaratkan sebagai perbendaharaan pribadi yang disimpan dalam kepala. Dalam pola ini, guru mengisi kepala murid dengan pengetahuan. Guru menyuapi murid tanpa memperhatikan dimensi kesadaran si penerima. Maka yang terjadi adalah pembelajaran hafalan dan mengulang seperti beo. Maka Freire melawan dengan konsep Pendidikan Kritis atau pendidikan yang membebaskan. Caranya dimulai dengan mempertanyakan kenyataan yang ada dan memecahkan persoalan. Dalam model Freire, anak didik dirangsang untuk mengemukakan prerblemnya sendiri, problem masyarakatnya, tanpa didekte oleh penguasa.

Sedangkan bagi Alfred W. Whitehead, proses pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dapat membantu peserta didik memperoleh kebijaksanaan. Maksudnya adalah peserta didik dapat tumbuh seimbang antara pengetahuan mengenai hal-hal teknis dan memiliki visi yang memberikan arah dan makna pada kehidupan peserta didik. Dengan demikian tujuan pendidikan adalah terbentuknya manusia yang berbudaya dan memiliki keahlian dalam salah satu cabang pengetahuan.

 

Dari Timur ada Sri Aurobindo, yang intinya mengatakan bahwa tujuan pendidikan harus menghasilkan manusia yang santun dan bermanfaat bagi orang lain, bertanggung jawab, dan memiliki-nilai-nilai etis. Dari Indonesia ada filosof Drijarkara yang menurutnya inti sari tindakan mendidik adalah memanusiakan manusia muda ke taraf insani melalui hominisasi dan humanisasi.

Selain mereka semua, sebenarnya masih bisa diperpanjang dengan pandangan para pemikir hebat dalam dunia pendidikan seperti Francis Hutchonson, Henry A. Giroux,  Santo Ignatius, Carlos Velasquez, dan lain-lain. UNESCO juga pernah memberi rumusan empat pilar pendidikan (learning to learn, learning to live together, learning to be, dan learning through out life). Sedangkan PBB pernah mengeluarkan deklarasi agak panjang tentang pendidikan tinggi, yang salah satunya adalah agar perguruan tinggi mempertimbangkan kebutuhan untuk memenuhi pedoman etika dan keketatan ilmiah dan intelektual serta pendekatan multidisiplin dan transdisiplin.

 

Kita tahu, universitas juga mengalami berbagai perubahan. Singkatnya, universitas yang mulai berdiri di awal abad 11 (Bologna) dan abad 12 (Paris) itu lama teguh mengabdikakan diri pada pencarian kebenaran dengan mengembangkan ilmu pengetahuan demi ilmu pengetahuan. Orientasi itu kemudian berubah menjadi lebih pragmatis dengan menjadi “produsen pengetahuan” yang “bermanfaat”.

Maka universitas menjadi “bengkel” bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan yang terkait dengan perkembangan ekonomi modern, khususnya industrialisasi. Maka di Indonesia pernah muncul ungkapan link and macth yang pada dasarnya ingin agar pendidikan relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya perkembangan masyarakat industrial.

Gelombang teknologi informasi datang dan ikut mengubah model pendidikan. Misalnya, perguruan tinggi bukan lagi menjadi satu-satunya sumber informasi dan belajar. Batas-batas geografi  runtuh sehingga semua orang mendapat akses lebih besar dan informasi lebih cepat. Dan terakhir adalah gempuran para pemikir postmodernisme yang intinya menolak “metanarasi” atau “paradigma” ilmu pengetahuan yang tunggal dan abadi. Semua tahap itu berimplikasi terhadap kurikulum, namun juga tak bebas dari kritik. Lalu ke manakah Nadiem akan membawa universitas kita? Apakah Nadiem akan mementingkan pencapaian akademik, perkembangan manusiawi, atau sintesa dari keduanya?

Nadiem sangat bisa diharapkan untuk membuat birokrasi lebih simpel dan efisien. Ia juga  pasti dapat diandalkan untuk melahirkan aplikasi yang membuat peserta didik lebih mudah mengakses bahan pelajaran. Tetapi pendidikan tak sekadar urusan komputerisasi, digitalisasi, dan aplikasi. Pendidikan berkaitan langsung dengan maju mundurkan kesejahteraan, kemanusiaan, demokrasi, dan peradaban sebuah bangsa. Saya berprasangka baik, bahwa Nadiem bisa belajar dengan cepat segala aspek — termasuk filsafat — yang berkaitan dengan pendidikan. Selamat bertugas, Pak Menteri!

  • Kemala Atmojo: Penulis & Pengamat Kebudayaan/Film
.

Recent Posts

Aturan Baru “Public Charge” Digugat Sejumlah Negara Bagian

Aturan baru dapat membuat penggunaan sejumlah bantuan pemerintah ikut dipertimbangkan dalam permohonan green card. Namun,…

3 days ago

Isu Visa Revoked

Beberapa waktu terakhir, beberapa teman menerima email dengan subjek “U.S. Visa Revocation Notice…” yang dikirim…

5 days ago

Philadelphia Rilis Laporan Tingkat Kematian Ibu Hamil, Overdosis Jadi Salah Satu Penyebab Utama

Departemen Kesehatan Masyarakat Philadelphia (Philadelphia Department of Public Health/PDPH) merilis laporan terbaru mengenai tingkat kematian…

2 weeks ago

Benarkah Imigran Membebani Amerika? Di Balik Dalih Visa Trump dan Dampaknya bagi Indonesia

Pemerintahan Donald Trump menggunakan ancaman “public charge” untuk menghentikan visa imigran dari 75 negara. Namun,…

2 weeks ago

Merdeka Tennis 2026, Adu Smash dan Keakraban Komunitas Indonesia di Philadelphia

Semangat kemerdekaan tak selalu dirayakan dengan upacara atau perlombaan tradisional. Di Philadelphia, komunitas tenis Indonesia…

2 weeks ago

Perjalanan Budaya Keramik Klampok yang Melegenda

Deretan showroom keramik di sepanjang jalan nasional Kecamatan Purwareja Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah, mengalihkan pandangan…

3 weeks ago