Bianca Adinegoro Pendamping Muhammad Lutfi Dubes RI di AS

Tidak banyak yang tahu bahwa Bianca Adinegoro adalah istri Muhammad Lutfi, Dubes RI di Washington DC yang baru dilantik dan menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Donald Trump pekan lalu.

Bianca Adinegoro adalah mantan model dan pemain film Indonesia di tahun 1990-an. Wanita berwajah cantik kelahiran 1973 ini pernah main di film Kuldesak pada 1998, bersama Oppie Andaresta, Ryan Hidayat, Wong Aksan, Tio Pakusadewo, Sophia Latjuba, Torro Margens dan Dik Doank.

Bianca Adinegoro adalah cucu dari wartawan nasional Adinegoro. Sastrawan dan wartawan kawakan Indonesia yang memperdalam pengetahuan mengenai jurnalistik, geografi, kartografi, dan geopolitik di Jerman dan Belanda (1926-1930). Sampai kini namanya diabadikan menjadi salah satu anugerah tertinggi karya jurnalisme Indonesia.

Bianca di kediamannya di Jakarta.

Dalam wawancaranya dengan Majalah TEMPO, Bianca mengungkapkan peranan suami yang cukup penting. “Suamipun harus berfungsi sebagai kritikus,” ucapnya. “Maksudnya supaya kami bisa jujur terbuka tidak ada yang ditutup-tutupi untuk kebaikan dan kemajuan di masa mendatang.”

Mendampingi suami di Gedung Putih, Washington DC.

Mantan model ini menjelaskan untuk urusan penampilan misalnya sang suami selalu menyarankan jangan berpacu pada gaya atau label. “Suamiku bilang pakaian atau sepatu aku mesti mengutamakan sisi kenyamanan dan menyelaraskan dengan tempat, suasana dan waktu.”

Bersama ibunda dan saudarinya.

Bianca memaparkan saat ia mesti menemani suami, sesuai komitmen kritikan jujur yang terlontar dari pedampingnya, iapun mesti memperhatikan soal penamapilan dan tata cara atau etika pergaulan.

“Saya sangat terbantu dengan keterbukaan dan kejujuran kritik yang dilontarkannya,” kata wanita yang di saat menghadiri acara pesta tak resmi seperti peragaan busana selalu menyelaraskan dengan dress code yang diminta.

Baca juga: M. Lutfi Dubes RI di Washington DC, USA

Bersama suaminya M. Lutfi.

Diakuinya keterbukaan dan kejujuran kritik suami membuatnya tidak lagi mengedepankan asas yang tidak penting. “Misalnya untuk penampilan, kini saya selalu berdasarkan kepantasan, kenyamanan dan tempat. Saya jadi lebih peka mengutamakan alasan fungsional,” dalihnya pelan.  (Tempo/DP)

.

View Comments

Recent Posts

Aturan Baru “Public Charge” Digugat Sejumlah Negara Bagian

Aturan baru dapat membuat penggunaan sejumlah bantuan pemerintah ikut dipertimbangkan dalam permohonan green card. Namun,…

3 days ago

Isu Visa Revoked

Beberapa waktu terakhir, beberapa teman menerima email dengan subjek “U.S. Visa Revocation Notice…” yang dikirim…

5 days ago

Philadelphia Rilis Laporan Tingkat Kematian Ibu Hamil, Overdosis Jadi Salah Satu Penyebab Utama

Departemen Kesehatan Masyarakat Philadelphia (Philadelphia Department of Public Health/PDPH) merilis laporan terbaru mengenai tingkat kematian…

2 weeks ago

Benarkah Imigran Membebani Amerika? Di Balik Dalih Visa Trump dan Dampaknya bagi Indonesia

Pemerintahan Donald Trump menggunakan ancaman “public charge” untuk menghentikan visa imigran dari 75 negara. Namun,…

2 weeks ago

Merdeka Tennis 2026, Adu Smash dan Keakraban Komunitas Indonesia di Philadelphia

Semangat kemerdekaan tak selalu dirayakan dengan upacara atau perlombaan tradisional. Di Philadelphia, komunitas tenis Indonesia…

2 weeks ago

Perjalanan Budaya Keramik Klampok yang Melegenda

Deretan showroom keramik di sepanjang jalan nasional Kecamatan Purwareja Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah, mengalihkan pandangan…

3 weeks ago