Philadelphia Praise Center Kini Memiliki PAX Center

Nyanyian Michael Buble terdengar dari pengeras suara yang dipasang di halaman gereja kuno di Jalan 18th Street, Philadelphia. Sejumlah pemimpin agama Indonesia di Philadelphia tampak menyalami Pastor Aldo Siahaan, pemimpin Gereja Philadelphia Praise Center di beranda depan, dengan wajah gembira.

Pastor Aldo Siahaan & stafnya (DP)

Itulah suasana pembukaan PAX Center gedung besar dan luas yang dikelola oleh Philadelphia Praise Center, Sabtu pekan lalu. Para tamu diberi kesempatan meninjau ruang utama beratap tinggi, yang dilengkapi dengan peralatan musik dan piano kuno dan jajaran bangku yang terbuat dari kayu. ‘’Gereja ini berusia 200 tahun milik gereja Lutheran yang kami beli bulan Juli lalu dan direnovasi Agustus,’’ tutur Pastor Aldo Siahaan pemimpin PPC dengan bangga. Nilainya? ‘’Sekitar $ 2,1 juta yang didapat dari pinjaman lunak sebuah lembaga keuangan Philadelphia, dengan bunga rendah,’’ tuturnya kepada Indonesianlantern.com

Bagi umat PPC, hari itu merupakan hari istimewa. Setelah menempati gereja lama, letaknya tak jauh dari gereja baru itu sejak tahun 2006, baru tahun ini PPC menempati gereja yang cukup luas. Betapa tidak? Mereka yang beribadah di gereja lama yang hanya menampung 100 umat setiap pekan itu, kini bisa mengikuti ibadah di gereja baru dengan kapasitas 300 kursi. Peralatan musiknya juga lengkap, selain peralatan musik modern, kini tersedia pula orgen tua berusia ratusan tahun, dan balkon paduan suara cukup luas dengan alat musik tiup raksasa.

Bagian utama Gereja PPC.

Tak cuma itu. Di bagian atas, tersedia penitipan dan sekolah bocah balita usia 3-5 tahun yang dilengkapi dengan lapangan bermain, kelas dan olahraga. Ruang itu bersebelahan dengan kapel (gereja kecil) cukup luas dengan kapasitas 50 tempat duduk yang kini digunakan oleh kelompok gereja warga Amerika Latin bernama Casa de Oracion, Philadelphia. Setiap hari Minggu sekitar 50 umatnya berdoa bersama di kapel yang apik dan rapi. Terlihat lilin dan karangan bunga di altar kecil yang siap digunakan hari Minggu.

Kapel Casa de Oracion

Tentu saja, hal itu, tak bisa dijumpai di gereja lama PPC yang dibeli dari sebuah kelab malam milik warga kulit hitam di jalan 18th Street. Baca: Perjuangan Pastor Aldo Siahaan Membangun Gereja Philadelphia Praise Center.

Ruang PAX Cafe.

Yang lebih menggembirakan, di kawasan baru Gereja PPC, berdiri bangunan tiga lantai yang diberi nama Gedung Pax House. Di ruang bawah bangunan itu tersedia Pax Cafe yang bisa juga jadi ruang serba guna, tempat umat dan pengurus gereja PPC melakukan tatap muka ngobrol-ngobrol ringan. Setiap Minggu tersedia makanan ringan dan kopi gratis yang disumbangkan oleh jemaat, dan Trader Joe’s sebuah perusahaan produser makanan yang memiliki jaringan nasional.

Robert J. Worotikan (kiri) bersama Pastor Aldo (koleksi pribadi)

Di sana pula hadir Robert Johnson Worotikan, seorang chef  Indonesia yang dinobatkan sebagai Butler terbaik tahun 2007 oleh The International Guild of Professional Butler. Hampir setiap pekan Robert menyumbangkan kebolehannya menyusun menu makanan terdiri dari berbagai jenis makanan AS dan Eropa bagi umat PPC di lantai bawah gedung itu.

Di ruang tingkat dua diisi dengan ruang kerja para pengurus gereja dan lantai tiga disediakan untuk menampung para pengungsi atau imigran tanpa identitas yang baru tiba dan tidak memiliki tempat berteduh atau Temporary housing for Refugee and Immigrants. ‘’Awal Agustus lalu kami kedatangan beberapa immigrants,’’ ujar Pastor Aldo Siahaan.

Acara kebaktian di PAX Center (PPC)

Jika kini setiap pekan gerejanya didatangi 400 umatnya untuk beribadah, maka sejak dibuka Agustus silam, berapa besar persembahan umat yang diberikan kepada PPC? Menurut Aldo, gerejanya tidak menuntut persembahan khusus apapun dari umatnya. Tidak seperti organisasi agama lain, PPC hanya menyerahkan kepada umatnya untuk memberikan persembahan sesuai hati setiap orang.

Orgen kuno berusia lebih dati 100 tahun.

‘’Kotak persembahan itu tersedia di dekat pintu keluar, tanpa tanda apapun. Setiap umat dipersilakan memberi semampunya,’’ tutur Aldo, lulusan SMA 1 Budi Utomo Jakarta itu. ‘’Kami tidak menentukan berapa persen dari penghasilannya. Terserah masing-masing anggota gereja,’’ kata Aldo. Ia masih mengemudikan mobil tua hasil sumbangan umatnya beberapa tahun silam. (DP)

.

Recent Posts

Dari Saksi ke Tahanan: Kisah Lansia Indonesia di Philly

Di balik peristiwa penangkapan oleh agen U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) di luar Philadelphia…

17 hours ago

The Sandwich Generation in Exile: Antara Karier di Amerika dan Bakti di Indonesia

Opini: Akmal Nasery Basral* Bagi diaspora Indonesia di Amerika Serikat, ada satu suara yang paling ditakuti…

2 weeks ago

Power Up Philly: Philadelphia Perluas Akses Digital untuk Warga

Pada Sabtu, 28 Maret, City of Philadelphia menggelar Power Up Philly: Community Tech Expo, salah…

3 weeks ago

Lampion Merah di Museum Benteng Heritage

Oleh: Renville Almatsier Lampion merah bergantungan sepanjang gang sempit yang pendèk sekitar Museum Benteng Heritage…

2 months ago

Puasa, Dari Waktu Ke Waktu

Ramadan kali ini, di usiaku yang hampir 60 tahun, mengingatkanku akan perkembangan pemahamanku tentang makna…

2 months ago

Update Kasus Ponzi Diaspora Indonesia Senilai $24,5 Juta

Masih ingat kasus ponzi yang pelakunya diaspora dan WNI yang tinggal di New York? Kasus…

2 months ago