Kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Amerika Serikat pada Februari 2026 menandai fase baru dalam hubungan strategis Indonesia dan AS, dengan fokus pada investasi, industri mineral kritis, energi, serta teknologi manufaktur dan semikonduktor.
Dalam agenda resmi di Washington, Presiden Prabowo dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump untuk membahas penguatan hubungan bilateral, kerja sama ekonomi, serta posisi Indonesia dalam lanskap geopolitik Indo-Pasifik.
Selain agenda politik, kunjungan ini juga diwarnai langkah konkret dari sektor bisnis.
Pada sesi Business Summit US-ASEAN Business Council (US-ABC), Presiden Prabowo menyaksikan penandatanganan 11 nota kesepahaman (MoU) antara perusahaan Indonesia dan Amerika Serikat dengan total nilai komitmen mencapai USD38,4 miliar.
Kesepakatan tersebut mencakup berbagai sektor strategis, antara lain:
Spektrum sektor yang luas ini menunjukkan fokus Indonesia untuk memperkuat rantai pasok industri sekaligus menarik investasi teknologi tinggi.
Dalam forum bisnis, Presiden Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi mitra ekonomi strategis bagi Amerika Serikat.
Ia menyampaikan bahwa Indonesia membuka peluang investasi besar serta berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi, pengembangan industri hilirisasi, dan keamanan investasi jangka panjang.
Menurut pemerintah Indonesia, total komitmen kerja sama tersebut diharapkan memperkuat:
Dalam pernyataan lain, Prabowo juga menegaskan Indonesia ingin melihat kehadiran Amerika Serikat yang kuat di Indonesia, terutama dalam kerja sama ekonomi dan investasi strategis.
Pernyataan ini mencerminkan posisi Indonesia yang berupaya menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan global di tengah meningkatnya kompetisi geopolitik, khususnya di kawasan Indo-Pasifik.
Bagi Indonesia, kemitraan dengan AS dipandang penting untuk:
Kunjungan ini menjadi sinyal bahwa hubungan Indonesia–AS tidak hanya bergerak dalam diplomasi politik, tetapi juga semakin berorientasi pada kerja sama ekonomi konkret.
Jika realisasi investasi berjalan sesuai rencana, paket kerja sama USD38,4 miliar ini berpotensi menjadi salah satu komitmen ekonomi bilateral terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi komunitas Indonesia di luar negeri, termasuk diaspora di Amerika, penguatan hubungan ekonomi ini juga dapat membuka peluang baru dalam perdagangan, pendidikan teknologi, serta kolaborasi industri lintas negara.
–Artikel ini disusun berdasarkan informasi dari Sekretariat Kabinet RI, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, serta pemberitaan media nasional.-
Menua Itu Soal Tempat, Bukan Sekadar Umur. “Menua bukan hanya proses biologis. Ia sangat dipengaruhi…
Organisasi advokasi pemilih Asian and Pacific Islander American Vote (APIAVote) menyatakan keprihatinan atas lolosnya SAVE…
Banyak nada pesimis dan rasanya jauh panggang dari api! Bagaimana tidak, sejak Golden Visa Indonesia…
Immigration and Customs Enforcement (ICE) kembali menjadi sorotan publik. Lembaga federal yang selama bertahun-tahun dikenal…
Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengumumkan penghentian sementara pemrosesan visa imigran untuk warga dari 75…
Lebih dari 10.000 pencari suaka di New York berisiko dideportasi pada tahun 2025 tanpa pernah…