Deretan showroom keramik di sepanjang jalan nasional Kecamatan Purwareja Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah, mengalihkan pandangan pengendara. Ratusan produk tembikar yang terpajang cukup memanjakan mata.
Salah satu showroom berlabel “Usaha Karya” kini dikelola Supriyanti. Bukan sekadar menjual, toko itu menyatu dengan pabrik yang setiap hari berproduksi.

Di bagian belakang bangunan, beberapa pekerja berbagi tugas. Mereka sibuk mengolah tanah liat menjadi aneka produk keramik bernilai seni tinggi, seperti pot bunga, guci, peralatan dapur, hingga alat minum seperti poci.
Usaha Karya adalah satu di antara segelintir pabrik keramik Klampok yang masih bertahan di tengah gempuran globalisasi.

“Dulu banyak, sekarang yang eksis tinggal beberapa,” kata Yanti, sapaan akrabnya, Selasa, 12 Agustus 2026.
Di balik megahnya deretan showroom tersebut, terekam jejak kejayaan industri pribumi lintas generasi.
Dahulu, saat pusat kota masih sepi, Kecamatan Purwareja Klampok sudah menjadi kawasan yang ramai dengan aktivitas ekonomi.
Di wilayah ujung barat Kabupaten Banjarnegara ini, pabrik-pabrik keramik dengan pemilik pribumi telah lebih dulu berdiri.
Keahlian Menyebar
Industri rakyat itu dipelopori oleh Kandar Atmomiharjo. Ia mendirikan pabrik keramik bernama Meandallai sekitar tahun 1957. Nama Meandallai kerap diartikan sebagai singkatan dari “Mendidik Anak dalam Lapangan Industri”.
Kandar tak mengunci pengetahuannya atau memonopoli bisnis keramik untuk dirinya sendiri.

Ia mempekerjakan warga lokal sehingga keahliannya menyebar ke banyak orang.
Seiring perjalanan waktu, satu per satu pekerja Kandar yang sudah lihai membuat keramik memutuskan keluar, lalu mendirikan usaha sendiri.
Salah satunya Masrun Hadi, perintis pabrik Usaha Karya yang sampai sekarang masih bertahan dan diteruskan Supriyanti.
Ada pula Suparyo, perintis Pabrik Keramik Mustika, yang usahanya diteruskan anak-anaknya hingga kini.
Proses Rumit
Sebagai karya seni, keramik dibuat melalui proses dengan tingkat kerumitan tinggi.
Bahan yang digunakan adalah tanah liat pilihan. Tanah dari alam tak langsung dipakai, melainkan harus lebih dulu direndam sehari semalam. Bahan tersebut lantas disaring dan dikeringkan hingga siap dibentuk sesuai keinginan.

Salah satu caranya menggunakan teknik putar dengan meja putar.
Teknik khas tersebut tetap dipertahankan untuk menciptakan karya berbentuk silinder, seperti vas atau guci.
Bahan setengah jadi itu kemudian diukir dengan motif tertentu atau sesuai pesanan. Setelah dikeringkan kembali, produk tersebut masih harus dibakar pada suhu sangat tinggi.
Ribuan tembikar ditumpuk di dalam tungku raksasa dan dibakar pada suhu sekitar 1.000 hingga 1.100 derajat Celsius.
Proses pembakaran tembikar ini bisa berlangsung seharian untuk mendapatkan hasil optimal.
“Pembakaran di suhu 1.100 derajat Celsius,” katanya.
Kekuatan keramik Klampok terletak pada motif kawung dengan ukiran yang tegas dan presisi.
Keramik ini menggabungkan tanah lokal berkualitas dengan teknik ukir tradisional peninggalan era kolonial.
“Keramik Klampok terkenal sebagai terakota yang halus dan keras,” katanya.
Lebih Buruk dari Pandemi
Sayang, kejayaan industri keramik Klampok selama puluhan tahun itu kini tengah diuji. Usaha rakyat tersebut menghadapi tantangan berat sejak pandemi Covid-19 pada 2020.
Selepas pandemi Covid-19 yang memicu resesi global, situasi ekonomi tak kunjung normal. Bahkan, tekanan ekonomi sekarang semakin terasa. Daya beli masyarakat menurun tajam. Konsumen lebih berhati-hati membelanjakan uang.
Apalagi, produk kerajinan keramik tidak termasuk kebutuhan vital, kecuali bagi kalangan tertentu yang sudah mapan dan menyukai seni atau keindahan.

“Perekonomian kita kan sedang gak baik-baik saja. Cari uang susah. Mereka yang berpenghasilan akan menggunakan uangnya lebih hati-hati,” katanya.
Yanti membandingkan omzetnya sekarang dengan sebelum pandemi.
Dulu, saat kondisi ekonomi masih normal, ia bisa menjual puluhan ribu set produk keramik setiap bulan, khususnya poci pesanan beberapa perusahaan teh ternama di Indonesia.
“Sekarang sebulan paling 1.000 set,” katanya.
Menjaga Amanah
Namun, kerasnya badai ekonomi tak membuat asanya goyah. Bisnis keramik, bagi dia, bukan semata soal berburu cuan. Keramik Klampok adalah arsip peradaban sekaligus manifestasi identitas budaya yang mendalam.
Keahlian membuat karya seni yang rumit ini tetap terjaga karena diwariskan secara turun-temurun.
Yanti sendiri adalah generasi kedua yang mewarisi usaha keramik dari orang tuanya, almarhum Masrun Hadi. Yanti menganggap usahanya bukan warisan bisnis semata, melainkan amanah yang mesti dijaga.
“Ini amanah dari orang tua. Saya juga cinta terhadap pekerjaan seni ini,” katanya.
Yanti berusaha dengan berbagai cara agar usahanya terus bertahan. Ia menyesuaikan produk dengan tren pasar hingga mengubah model pemasaran mengikuti perkembangan zaman.
Selain menjual langsung di toko (offline), ia juga memasarkan produknya melalui platform digital atau marketplace. Yanti juga rela berbagi keuntungan dengan para reseller yang membantu menjual produknya.
Selain itu, Yanti selalu menjaga kualitas produknya agar tetap memiliki nilai jual.
Warisan Budaya
Keramik Klampok resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia Tahun 2026 berdasarkan hasil Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada Juli 2026.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Banjarnegara, Heni Purwono, menilai keramik Klampok menjadi bagian penting dari perkembangan industri kerajinan di Indonesia.
Keramik Klampok merupakan wujud perjalanan ekonomi dan kebudayaan Banjarnegara yang telah berlangsung hampir satu abad.
Ia mengungkapkan, perjalanan sejarah keramik di Klampok tidak lepas dari peran tokoh besar Banjarnegara, Soemitro Kolopaking Poerbonegoro, Bupati Banjarnegara sekaligus anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1945.
Soemitro dikenal sebagai salah satu perintis awal industri kerajinan keramik Klampok pada era 1930-an.
Soemitro Kolopaking sempat membawa sampel tanah dari Banjarnegara ke Balai Pusat Keramik di Bandung.
Hasilnya, kualitas tanah tersebut dinilai sangat baik dan cocok digunakan sebagai bahan baku keramik.
“Harganya lebih murah 20 persen dibanding keramik impor dari Jepang,” katanya.
Van Goudoever dalam harian De Locomotief Semarang tahun 1939 dan J. Van Baal dalam bukunya Mensen in Verandering (1967) juga mencatat bahwa Soemitro menemukan teknik pencampuran bubuk batu baterai untuk menghasilkan keramik yang lebih kuat dan mengilap.
Temuan ini menjadi tonggak penting bagi perkembangan industri keramik di Klampok.
Era kejayaan keramik Klampok kemudian berlanjut melalui peran Kandar Atmomiharjo yang mendirikan pabrik keramik besar bernama Meandallai.

