Categories: PoliticsUncategorized

Aksi Kekerasan kelompok kulit putih Jerman terhadap imigran makin meningkat

Aksi kekerasan oleh kelompok supremasi kulit putih di Jerman meningkat sampai 40% dalam setahun terakhir ini. Deutsche Welle melaporkan Rabu (29/6/2016), laporan tahunan Layanan Intelijen Domestik Jerman, BfV menunjukkan peningkatan 42 persen.

Aksi kekerasan itu mayoritas dilakukan oleh kelompok Kanan Jauh atau kulit putih, yang biasanya menyerang wartawan, politikus dan pengungsi asing. Tercatat 1.408 aksi kekerasan terjadi sepanjang tahun 2015, hampir dua kali lipat dari 990 kasus pada 2014.

Dalam periode yang sama terjadi 75 kali aksi pembakaran terhadap pusat-pusat penampungan pengungsi. Padahal di tahun sebelumnya hanya terjadi lima kali pembakaran. Data itu dikeluarkan setelah Jerman kedatangan 1,2 imigran asing, sehingga menimbulkan sentimen anti-pendatang di antara warga Jerman.

Kementerian dalam negeri Jerman juga mengungkapkan, investigasi yang dilakukan baru-baru ini menunjukkan perkembangan kelompok teroris mendorong bangkitnya organisasi teroris Sayap Kanan. ‘’Kami minta agar pemerintah melakukan tindakan,’’ bunyi pernyataan tersebut.

Para pejabat intelijen Jerman juga menduga peranan jejaring sosial berisi hasutan dan radikalisme, menyebabkan kebencian di kalangan minoritas. Sementara itu, aksi kekerasan oleh anggota Sayap Kiri juga meningkat tajam menjadi 1608 kali aksi kekerasan dibanding hanya 995 kali di tahun 2014 lalu.

Pelayanan Intelijen Jerman juga menyebutkan ancaman oleh kelompok militan Islam juga meningkat menjadi 10 ribu kali. Laporan itu menduga sejumlah anggota jihad dan militan Islam memasuki wilayah Jerman bersama kedatangan para pengungsi Timur Tengah dan Suriah. Ancaman potensial lain, juga datang dari para individu yang menjadi radikal. Para pejuang jihad dari Suriah dan Irak memasuki Jerman, termasuk kelompok sel-sel tidur yang selama ini tidak terpantau.

 

IL

Recent Posts

Perempuan dan Masa Depan Diplomasi

Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang…

2 weeks ago

Wajar Bukan Berarti Benar

Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan…

3 weeks ago

Anak Jaksel Berkarier di The New York Times

Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…

4 weeks ago

40 Hari Mengenang James F. Sundah, Beasiswa Riset Hak Cipta Diluncurkan

Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…

1 month ago

Cerita Chef Diaspora Bikin Kuliner Nusantara Mendunia

Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…

1 month ago

Diaspora Global Summit 2: Dari Brain Drain Menuju Brain Gain

Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…

1 month ago