Categories: Politics

Anggota Kongres AS dilarang merekam kegiatan dalam gedung Parlemen

Anggota Kongres Partai Republik mengusulkan sebuah peraturan baru yang memberi vonis anggota Kongres memotret atau merekam kegiatan di dalam gedung parlemen AS.

Newsweek melaporkan Rabu (28/12/2016), rancangan peraturan yang sedang disusun itu, menyebutkan petugas polisi parlemen akan memberi denda $ 500 bagi anggota parlemen yang melanggar. Bila tetap bandel, anggota parlemen itu akan dikenai denda sampai $ 2.500 yang langsung dipotong dari gajinya. Polisi parlemen juga dapat memberikan rekomendasi kepada para anggota Komisi Etis bila menemukan anggota parlemen yang keras kepala.

Rancangan peraturan baru yang didukung Ketua Parlemen Paul Ryan itu diperkenalkan, setelah kasus mogok dan leyeh-leyeh di lantai parlemen pada Juni 2016 lalu. Waktu itu, sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat melakukan protes dengan duduk di lantai, setelah gagal mengusulkan agar peraturan pemilikan senjata diperketat. Usulan itu disampaikan setelah terjadi penembakan Kelab Malam Pulse, Orlando, Florida.

Para anggota Kongres Republik melarang stasiun parlemen C-SPAN menyiarkan protes duduk yang dimotori John Lewis dari Georgia tersebut. Namun adegan itu dapat disiarkan ke sejumlah stasiun televisi karena dipancarkan secara langsung dari kamera para anggota Kongres Demokrat.

Sejak itu Kongres yang dikuasai Republik, melarang penggunaan media elektronik di dalam gedung parlemen. Namun banyak anggota Kongres membandel. Di antaranya, Drew Hammill, jurubicara pemimpin minoritas Kongres, Nancy Pelosi yang tetap mengusulkan pengetatan penggunaan senjata api. ‘’Kelompok Republik masih saja melobi anggota lainnya untuk membatalkan dan menolak pemeriksaan latar belakang pengguna senjata,’’ kata Drew Hammill.

Sementara itu, Eric Swalwell anggota Kongres Demokrat dari California tetap bertekad akan merekam dan menyiarkan kegiatan di gedung parlemen ke media massa. Demikian juga Elizabeth Esty, anggota Demokrat lainnya yang menuduh Paul Ryan tidak fair. ‘’Seharusnya dia memusatkan perhatian pada pelarangan penggunaan senjata api, ketimbang mengurusi kami-kami,’’ katanya.

Kongres akan membahas peraturan baru itu setelah masa reses berakhir pada 3 Januari 2017.

IL

Recent Posts

Perempuan dan Masa Depan Diplomasi

Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang…

2 weeks ago

Wajar Bukan Berarti Benar

Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan…

2 weeks ago

Anak Jaksel Berkarier di The New York Times

Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…

4 weeks ago

40 Hari Mengenang James F. Sundah, Beasiswa Riset Hak Cipta Diluncurkan

Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…

1 month ago

Cerita Chef Diaspora Bikin Kuliner Nusantara Mendunia

Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…

1 month ago

Diaspora Global Summit 2: Dari Brain Drain Menuju Brain Gain

Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…

1 month ago