Protesters hold signs during a protest against the election of President-elect Donald Trump, Wednesday, Nov. 9, 2016, in downtown Seattle. (AP Photo/Ted S. Warren)
Puluhan ribu massa melakukan aksi demonstrasi anti-Donald Trump di sejumlah kota AS, seperti Los Angeles, Chicago, Los Angeles, Atlanta, Philadelphia dan New York serta Washington DC.
NBC News mengabarkan, aksi tersebut digelar bertepatan dengan ‘Hari Presiden AS’, Senin (20/2/2017). Tapi, sebaliknya, mereka menamakan aksi itu dengan ‘Aksi Bukan Presiden Saya’. Di kota New York, ribuan demonstran berdemo di depan Trum International Hotel, Manhattan hingga ke ujung Central Park sambil menyanyikan ‘We Shall Overcome’’.
Banyak demonstran membawa poster bertuliskan ‘’Bukan Presiden Saya’’ atau ‘Lawan’ dan meneriakkan ‘No Ban’ menentang perintah eksekutif Trump yang melarang kedatangan warga Muslim dari 7 negara. Juga ‘No Wall’ rencana pembangunan tembok pembatas Mexico dan AS. ‘’Saya prihatin, negara kita dibawa ke mana,’’ tutur Sayief Leshaw, perempuan 22 tahun yang datang bersama pacarnya.
Sementara itu, adu mulut terjadi antara pendukung Trump dan kelompok anti-Trump di taman Columbus Circle, Washington DC. Ada pula yang membawa poster ‘’Selamat Hari Presiden bagi Presiden Rusia Vladimir Putin’’ dan ‘My President? Nyet’ (bahasa Rusia bukan presiden saya). Mereka menggambarkan kedekatan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Pemandangan yang sama juga terjadi di Los Angeles City Hall, yang dihadiri oleh ratusan pengunjuk rasa menentang Trump, sambil meneriakkan ‘Lawan! Lawan! Lawan’’. Bahkan demonstrasi anti-Trump juga digelar di halaman Palace of Westminster, London, parlemen Inggris. Sebanyak 1,85 juta warga Inggris menanda tangani petisi menuntut agar undangan kunjungan Trump yang disampaikan PM Inggris Theresa May segera dibatalkan. ‘’Kita bisa menyaksikan betapa kelirunya warga AS memilih Trump. Sama halnya kekeliruan Inggris keluar dari Uni Eropa, Brexit!’’ tutur salah seorang anggota parlemen dalam debat yang berlangsung sore waktu setempat.
Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…
Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…
Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…
Sekitar 237 orang yang menjadi korban penipuan investasi bodong di AS, bisa bernafas sedikit lega.…
Datang ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya bukan hanya soal mengejar mimpi. Bagi banyak pendatang…
Komunitas Indonesia di Philadelphia kembali berduka. Nathali, seorang perempuan diaspora Indonesia berusia 72 tahun, meninggal…