Dave Jephcott, warga Australia Berbahasa Jawa medok

Inilah Dave Jephcott, warga Australia yang dijuluki Londo Kampung. Tumbuh Besar di Surabaya sejak umur 2 tahun, Dave menimba banyak pengalaman lucu. Mulai dari ngamen, hingga menambah wawasan bahasa Jawanya. Dosen bahasa Inggris di salah satu perguruan tinggi di Surabaya itu, menikah dengan Santi Novia, warga Surabaya. Mari kita simak saat Dave Jephcott saat jalan-jalan di Melbourne, Australia. Juga video liputan sebuah stasiun televisi di Surabaya.

Menyaksikan berbagai videonya mungkin banyak orang heran dan bertanya, kok bisa logat Suroboyo-an Dave begitu kental? Rupanya, dia tinggal di Surabaya sejak usianya masih 2 tahun. ”Benar, tepatnya sejak tahun 1989. Enam bulan pertama kami sekeluarga tinggal di Bandung karena di sana ada sekolah bahasa Indonesia yang terkenal. Ayah yang akan menjadi dosen di Surabaya ingin belajar secepatnya,” kisahnya.

Menjalani home schooling bersama kakaknya, Nathan, Dave menyebut masa kecilnya di Surabaya sebagai saat-saat terindah dalam hidupnya. ”Banyak sekali kenangan main bersama anak-anak kampung dan mempelajari bahasa mereka sambil mencoba permainan-permainan tradisional. Mulai dari patek lele, kelereng, layangan, keong, dolip-dolipan dan banyak lainnya,” katanya.

Bukan saja permainan tradisional, Dave juga mengenal lagu-lagu dangdut. ”Saya dan kakak saya sejak remaja suka main gitar dan bass. Karena di Surabaya dan Jawa Timur lagu dangdut itu populer sekali, kami mengajak teman-teman tetangga untuk main lagu-lagu dangdut bersama, cuma untuk senang-senang saja. Saya kurang suka sih mendengarkan lagu dangdut, tapi kalau diaransemen dan dimainkan dengan band sangat menyenangkan,” imbuhnya.

Setiap dua tahun sekali, selama sekitar enam bulan Dave dan keluarganya kembali ke kampung halaman mereka di Australia. Meski begitu ia dan kakaknya tetap menjalani pendidikan homeschooling. ”Mungkin karena itu sampai sekarang saya tidak punya logat khas Australi kalau berbicara bahasa Inggris, melainkan logat Amerika. Kalau pulang kampung malah ditanya sama orang Australia, ’Kamu dari mana?’ hahhaha,” tiru Dave, seru.

Merasa separuh jiwanya terikat di Surabaya, Dave memilih menetap seorang diri saat seluruh keluarga lainnya kembali tinggal di Australia. ”Surabaya terasa lebih seperti tempat asal saya daripada di Melbourne. Dan di Australia jumlah orang yang bisa bahasa Jawa sedikit sekali, jadi sudah kangen banget ngomong Jawa. Untunglah saya dapat kesempatan menjadi guru bahasa Inggris di Indonesia,” syukurnya. (wanitaindonesia.com)

.

Recent Posts

Philadelphia Rilis Laporan Tingkat Kematian Ibu Hamil, Overdosis Jadi Salah Satu Penyebab Utama

Departemen Kesehatan Masyarakat Philadelphia (Philadelphia Department of Public Health/PDPH) merilis laporan terbaru mengenai tingkat kematian…

2 days ago

Benarkah Imigran Membebani Amerika? Di Balik Dalih Visa Trump dan Dampaknya bagi Indonesia

Pemerintahan Donald Trump menggunakan ancaman “public charge” untuk menghentikan visa imigran dari 75 negara. Namun,…

4 days ago

Merdeka Tennis 2026, Adu Smash dan Keakraban Komunitas Indonesia di Philadelphia

Semangat kemerdekaan tak selalu dirayakan dengan upacara atau perlombaan tradisional. Di Philadelphia, komunitas tenis Indonesia…

1 week ago

Perjalanan Budaya Keramik Klampok yang Melegenda

Deretan showroom keramik di sepanjang jalan nasional Kecamatan Purwareja Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah, mengalihkan pandangan…

1 week ago

Indonesia Tak Masuk Daftar 75 Negara yang Kena Pembatasan Visa Imigran Trump

Kebijakan yang sempat menghentikan penerbitan immigrant visa bagi warga 75 negara akhirnya dibatalkan hakim federal…

3 weeks ago

Kisah Piping Si Pemburu Ombak

Apa yang dirisaukan para peselancar? Jawabnya pasti, ”Tak ada ombak besar!” Semakin ganas ombak, adrenalin…

4 weeks ago