Sebelas penyelundup manusia dituduh terlibat dalam kasus tewasnya 71 pengungsi yang diselundupkan dalam peti kemas dan disimpan di perbatasan dengan Austria, 2015 lalu.
The New York Times mengabarkan Kamis (4/5/2017), jasad ke-71 pengungsi itu ditemukan membusuk di sebuah tempat parkir. Sementara kesebelas pelakunya terdiri dari berbagai warganegara, seperti Lebanon, Afghanistan, Bulgaria. Dakwaan jaksa menyebutkan pula, sebelumnya 67 pengungsi juga mendapat perlakuan sama, namun berhasil selamat dan melarikan diri setelah membuka paksa pintu peti kemas truk pengangkutnya.
Kasus ini, merupakan kasus pertama yang diproses hingga ke pengadilan. Seorang warga Afghanistan berinisial L dituduh sebagai pemimpin jaringan penyelundup manusia. L yang beroperasi sejak Februari hingga Agustus 2015, berhasil menangguk keuntungan hingga $ 300 ribu, dari para pengungsi yang ingin mengungsi ke Eropa dan negara lain.
Dalam dakwaan jaksa, dituturkan pula cerita tragis yang dialami ke-71 korban – terdiri dari 59 lelaki, 8 perempuan dan 4 bocah dari Irak, Suriah, Afghanistan dan Iran. Pada 26 Agustus 2015, kawanan organisasi kriminal itu mengangkut para pengungsi di dalam peti kemas dekat Morahalom, dekat perbatasan Hungaria dan Serbia. ‘’Setengah jam kemudian, para korban memukul-mukul dinding peti kemas dan menangis karena kehabisan nafas di dalam peti kemas,’’ tutur seorang pelaku bernama L. ‘’Meski kami bisa berhenti dan membukanya, namun bos kami tidak menghendaki hal itu, dan melajukan truknya agar cepat sampai tujuan,’’ sambungnya.
Kawanan penyelundup manusia itu, membiarkan truk berisi manusia itu di sebuah lapangan parkir, dan baru ditemukan petugas polisi 27 Agustus 2015 lalu. Dari nomor kendaraan dan identitas truk itu, polisi akhirnya menangkap ke-11 pelaku penyelundup manusia itu.
Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…
Sekitar 237 orang yang menjadi korban penipuan investasi bodong di AS, bisa bernafas sedikit lega.…
Datang ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya bukan hanya soal mengejar mimpi. Bagi banyak pendatang…
Komunitas Indonesia di Philadelphia kembali berduka. Nathali, seorang perempuan diaspora Indonesia berusia 72 tahun, meninggal…
"Saya tidak hanya kehilangan uang. Saya kehilangan kepercayaan kepada orang-orang yang saya anggap keluarga." Kalimat…
oleh: Nuria Soeharto Setelah tayang perdananya di Forum Papua Barat, di Auckland, Selandia Baru, pada…