Rebel commander Khabir Malik, right, of the Moro National Liberation Front, which has an autonomy deal with the government, talks to his comrades at their camp in the volatile island of Jolo, Sulu province in southern Philippines, Monday Feb. 4, 2013. Malik said Monday, it attacked Abu Sayyaf gunmen after the al-Qaida-linked militants refused to free hostages, sparking fierce jungle clashes that left up to 22 combatants dead in the southern Philippines. There was no word on whether the hostages were hurt in the fighting, but they remained in the grip of the Abu Sayyaf militants, police said. (AP Photo/Nickee Butlangan)
Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengancam hendak memakan hati anggota kelompok militan ISIS yang tertangkap. Harian South China Morning Post mengabarkan Jumat (7/7/2017), hal itu diungkapkan Duterte setelah kelompok Abu Sayyaf, pendukung ISIS, memenggal kepala dua pelaut Vietnam di Pulau Mindanao, Selatan Filipina Rabu lalu.
‘’Saya akan memakan hati kalian bila itu yang kalian kehendaki,’’ kata Duterte. ‘’Beri saya garam dan cuka, dan saya akan memakannya di depan kalian,’’ ujar pemimpin Filipina itu. Duterte yang berkunjung ke Mindanao itu, berpidato di depan para petugas keamanan setempat. ‘’Saya tidak pilih-pilih kok. Semua saya makan. Bahkan jika tidak tertelan pun saya tetap makan,’’ tuturnya.
Pemerintah Filipina tengah menumpas gerombolan Abu Sayyaf, yang semakin menunjukkan gigi di Filipina. Sejak Mei lalu, kelompok militan itu berhasil mengambil alih Marawi, kota mayoritas Islam di Filipina. Tercatat 400 orang tewas dan 260 ribu penduduk kehilangan tempat tinggal dalam konflik bersenjata antara tentara Filipina dengan kelompok Abu Sayyaf.
Angkatan bersenjata Filipina melakukan serangan udara, bahkan mengebom Kota Marawi dua kali dalam sehari untuk menghancurkan basis militer kelompok Abu Sayyaf. Duterte berjanji tidak akan melakukan negosiasi dengan kelompok militan yang disebutnya sebagai kelompok teroris itu.
Pasukan AS membantu di darat, walaupun tidak secara langsung terlibat pertempuran dengan militan Abu Sayyaf. Sejauh ini belum ada tanda-tanda kelompok militan Islam itu akan meletakkan senjata.
SaveSave
SaveSave
SaveSave
Di balik pesan WhatsApp yang terdengar ramah, atau tawaran investasi yang terlihat “terlalu bagus untuk…
Di tengah meningkatnya penegakan hukum imigrasi di Amerika Serikat, muncul ancaman lain yang tak kalah…
Di balik istilah hukum yang terdengar teknis, tersimpan kegelisahan yang sangat nyata bagi ratusan ribu…
Di balik peristiwa penangkapan oleh agen U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) di luar Philadelphia…
Opini: Akmal Nasery Basral* Bagi diaspora Indonesia di Amerika Serikat, ada satu suara yang paling ditakuti…