Walkot Jim Kenney: Philadelphia Masih Aman bagi Imigran tanpa dokumen

Kota Philadelphia masih dinyatakan sebagai ‘Sanctuary City’ sehingga para pendatang asing tanpa dokumen masih merasa terlindung tinggal di kota yang dikenal sebagai ‘Brotherly Love’ tersebut. Hal itu ditegaskan oleh Jim Kenney, Walikota Philadelphia saat bertemu dengan para pemuka agama dan tokoh masyarakat Indonesia di Philadelphia, pekan lalu. ‘’Polisi Philadelphia tidak memberitahu imigran gelap pada petugas imigrasi, ICE,’’ tutur Pastor Aldo Siahaan, pemimpin Gereja Kristen Mennonite Indonesia di Philadelphia.

Pertemuan yang diselenggarakan di Paradise Garden, West Ritner, Philadelphia tersebut cukup ramai, karena dihadiri sejumlah pemuka agama Kristen, Islam dan Katolik serta tokoh-tokoh masyarakat Indonesia, juga pengurus Diaspora Indonesia di Philadelphia. Dalam pertemuan secara tertutup, Walikota Jim Kenney menjelaskan beberapa topik pembahasan penting yang disampaikan para tokoh masyarakat Indonesia. Di antaranya, Philadelphia tetap menjadi Sanctuary City.

‘’Kota Philadelphia tetap melindungi para imigran asing, walaupun tidak memiliki dokumen resmi,’’ tutur Jim Kenney. Di samping itu, Jim Kenney bersedia berbicara dengan Komisaris Polisi Richard Ross Jr., Kapolda Philadelphia tentang ‘Live Stop’.

Jim Kenney berjanji akan mengusulkan jajaran kepolisian Philadelphia agar tidak langsung menilang atau menderek kendaraan para imigran asing yang tertangkap tidak membawa Surat Izin Mengemudi. Maklum, tindakan menderek kendaraan menyebabkan banyak imigran mengeluarkan dana cukup besar untuk membebaskan kendaraannya dari tempat penampungan milik Dinas Lalu Lintas Philadelphia.

Dalam kesempatan itu, para tokoh masyarakat Indonesia juga meminta dukungan pihak Kotamadya Philadelphia, bagi program ‘My Home Philadelphia’. Program ini adalah sebuah program membersihkan jalan di sekitar gereja-gereja dan masjid Indonesia yang umumnya terletak di Selatan Philadelphia. Di samping itu, pihak Kotamadya Philadelphia diminta untuk menyediakan taman di depan Museum of Art, Philadelphia agar bisa digunakan bagi kegiatan mayarakat Indonesia di Philadelphia. ‘’Sejauh ini, tanggapan Walikota Jim Kenney sangat positif,’’ tutur Sinta Penyami Storms, pemimpin grup tari Modero Group.

Topik lain yang tak kalah pentingnya, adalah permintaan agar Kantor Walikota Philadelphia menyediakan pusat komunitas atau Community Center. Permintaan itu ditanggapi cukup serius oleh Jim Kenney yang menyatakan, ‘’Bila ada tempat atau gedung milik Kota Philadelphia yang tersedia, ada kemungkinan warga Indonesia bisa memiliki pusat komunitas sendiri,’’ kata Jim Kenney. ‘’Pusat Komunitas ini bisa juga digunakan oleh kelompok komunitas lainnya,’’ tutur Aldo Siahaan.

Demikianlah, hasil pertemuan tertutup yang digelar pada 23 Agustus 2017 lalu. Mendengar pernyataan Walikota Jim Kenney yang menggembirakan itu, diharapkan warga Indonesia bisa kembali tenang bekerja dan berkarya di Philadelphia. (DP. Video: Indonesian Community Connection; Foto-foto: Paradise Garden).    

 

.

Recent Posts

Lampion Merah di Museum Benteng Heritage

Oleh: Renville Almatsier Lampion merah bergantungan sepanjang gang sempit yang pendèk sekitar Museum Benteng Heritage…

1 week ago

Puasa, Dari Waktu Ke Waktu

Ramadan kali ini, di usiaku yang hampir 60 tahun, mengingatkanku akan perkembangan pemahamanku tentang makna…

2 weeks ago

Update Kasus Ponzi Diaspora Indonesia Senilai $24,5 Juta

Masih ingat kasus ponzi yang pelakunya diaspora dan WNI yang tinggal di New York? Kasus…

2 weeks ago

Prabowo dan AS Capai Komitmen Investasi USD38,4 Miliar

Kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Amerika Serikat pada Februari 2026 menandai fase baru dalam…

4 weeks ago

Senior Centers di Indonesia

Menua Itu Soal Tempat, Bukan Sekadar Umur. “Menua bukan hanya proses biologis. Ia sangat dipengaruhi…

4 weeks ago

SAVE America Act dan Ancaman bagi Pemilih AAPI

Organisasi advokasi pemilih Asian and Pacific Islander American Vote (APIAVote) menyatakan keprihatinan atas lolosnya SAVE…

1 month ago