Gambar Aung San Suu Kyi Dicopot dari Oxford University

Perguruan Tinggi Oxford, Inggris mencopot lukisan diri Aung San Suu Kyi dari dinding Oxford yang menghadap pintu masuk, sebelum mahasiswa baru mengawali kuliahnya, Jumat (29/9/2017). The Guardian mengabarkan, pengelola Oxford University mengungkapkan alasannya: ‘’Pihak perguruan tinggi menerima hadiah lukisan baru awal bulan lalu, sehingga lukisan Aung San Suu Kyi harus disimpan di gudang,’’ bunyi pernyataan resmi St. Hugh, pihak pengelola Oxford University.

 

Alasan itu tentu saja tak dapat dipercaya. Banyak pihak menduga, lukisan yang dipasang sejak 2012 – saat Aung San Suu Kyi meraih gelar doktor kehormatan – itu erat hubungannya dengan krisis pengungsi Rohingya di Myanmar. Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian itu, dinilai tak berbuat apa-apa untuk mencegah militer Myanmar melakukan pembasmian ratusan ribu etnis Rohingya yang kini melarikan diri ke Bangladesh dan negara-negara tetangga lainnya.

The Swan, koran Kampus Oxford mengungkapkan keputusan mencopot lukisan itu disepakati badan pengelola Oxford, St. Hugh, termasuk rektornya, Dame Elish Angiolini. Namun, langkah itu dinilai pengecut oleh kelompok Kampanye Burma Inggris yang meminta agar lukisan itu tetap dipasang. ‘’Itu tindakan pengecut yang dilakukan St. Hugh. Kenapa mereka tidak terus terang bahwa Aung San Suu Kyi mendukung militer Burma melakukan pembersihan etnis. Kenapa mereka tidak minta Suu Kyi agar menghormati hak-hak asasi manusia,’’ kata Mark Farmaner, ketua kelompok tersebut.

Lukisan Aung San Suu Kyi dibuat tahun 1997 oleh pelukis Chen Yanning yang memberikannya sebagai hadiah bagi Michael Aris, suami Suu Kyi. Saat Aris meninggal tahun 1999, lukisan diri Suu Kyi itu dipasang dekat gerbang masuk perguruan tinggi itu di St. Margaret Road, Utara Oxford. Dewan Oxford dikabarkan akan melakukan pemungutan suara pekan depan, guna mencoret nama Aung San Suu Kyi sebagai pahlawan kebebasan London, saat ia menjadi tahanan politik Myanmar, 1997.

Universitas Oxford memutuskan tidak akan menarik kembali gelar kehormatan Suu Kyi. Perguruan tinggi Inggris yang terkenal di dunia itu, hanya mengutarakan keprihatinannya atas perlakuan Myanmar terhadap etnis Rohingya. ‘’Kami berharap agar alumnus Oxford Aung San Suu Kyi memimpin Pemerintah Myanmar untuk menghapus diskriminasi dan sikap opresifnya. Sehingga dunia tahu bahwa Myanmar menghormati kehidupan seluruh warganya,’’ bunyi pernyatan Oxford University.

.

Recent Posts

Perawat Asal Indonesia Ditangkap ICE Saat Hendak Berlibur ke Disneyland

Monica Ryadi telah tinggal di Amerika Serikat sejak berusia 9 tahun dan mendapat perlindungan Withholding…

3 days ago

Home Is Where the Heart Is

Ketika Diaspora Memilih Indonesia untuk Menjalani Masa Pensiun Keinginan untuk pulang biasanya datang perlahan. Mula-mula…

6 days ago

Aturan Baru “Public Charge” Digugat Sejumlah Negara Bagian

Aturan baru dapat membuat penggunaan sejumlah bantuan pemerintah ikut dipertimbangkan dalam permohonan green card. Namun,…

2 weeks ago

Isu Visa Revoked

Beberapa waktu terakhir, beberapa teman menerima email dengan subjek “U.S. Visa Revocation Notice…” yang dikirim…

3 weeks ago

Philadelphia Rilis Laporan Tingkat Kematian Ibu Hamil, Overdosis Jadi Salah Satu Penyebab Utama

Departemen Kesehatan Masyarakat Philadelphia (Philadelphia Department of Public Health/PDPH) merilis laporan terbaru mengenai tingkat kematian…

4 weeks ago

Benarkah Imigran Membebani Amerika? Di Balik Dalih Visa Trump dan Dampaknya bagi Indonesia

Pemerintahan Donald Trump menggunakan ancaman “public charge” untuk menghentikan visa imigran dari 75 negara. Namun,…

4 weeks ago