Mantan Ibu Negara AS, Barbara Bush wafat di usia 92 tahun pada Selasa malam (17/4/2018). The New York Times mengabarkan, hal itu diumumkan oleh Jim McGrath, jurubicara keluarga George Bush lewat akun Twitternya. Sebelumnya, pihak keluarga Presiden George Bush mengeluarkan pernyataan yang ‘’Memutuskan, tidak lagi memberikan pengobatan medis lagi dan lebih memusatkan perhatian agar lebih nyaman bagi Ibu Barbara Bush,’’ bunyi pernyataan pihak keluarga George Bush.
Sejak Desember 2013, Barbara Bush menderita pneumonia, sesak nafas manula, dan pernah menjalani operasi penyakit maag dan operasi jantung pada 2008. Sebagai istri presiden AS ke-41 dan ibunda presiden AS ke-43, Barbara Bush adalah wanita kedua dalam sejarah AS yang menyaksikan anaknya menjadi pemimpin AS mengikuti ayahnya. Wanita pertama AS adalah Abigail Adams, istri Presiden John Adams dan ibunda Presiden John Quincy Adams.
Selama masa kampanye Pilpres 2016 lalu, Barbara Bush tidak segan-segan mengkritik Donald Trump, lawan politik Jeb Bush, putranya yang juga mencalonkan diri sebagai capres dari Partai Republik. ‘’Perlakuannya terhadap kaum wanita sangat buruk, juga bagi kalangan militer,’’ kata Barbara Bush dalam wawancara dengan CNN. ‘’Saya tak mengerti kenapa banyak orang yang memilihnya,’’ ujar ibu negara mengomentari Donald Trump yang juga calon dari Partai Republik.
Barbara Bush lahir dengan nama Barbara Pierce pada 8 Juni 1925, dari pasangan Marvin Pierce dan Pauline Robinson. Ayahnya seorang pengusaha penerbitan yang kelak menjadi presiden penerbit kondang McCall publishing Co. Salah seorang kakenya bernama Franklin Pierce adalah presiden AS ke-14.
Barbara bertemu dengan George Bush pada 1941 di sebuah acara Dansa Bersama di malam Natal di Round Hill Country Club di Greencwich, Connecticut. Setelah berhasil masuk kuliah di Smith College, Barbara sempat mengejutkan ibunya, gara-gara ia bekerja paruh waktu di sebuah pabrik baut dan mur. Barbara kemudian menikah dengan George Bush di Rye pada 6 Januari 1945, walaupun usianya belum mencapai 20 tahun.
Dalam bukunya berjudul ‘’Barbara Bush: A Memoir’’ yang terbit 1994, Barbara Bush mengungkapkan bahwa ia pernah menderita depresi berat pada 1976. Yakni setelah George Bush kembali dari posisinya sebagai Dubes di China dan diangkat sebagai Direktur Badan Pusat Intelijen, CIA.
Setelah menjadi ibu negara, Barbara mendirikan Barbara Bush Foundation for Family Literacy. ‘’Saya ingin dikenal sebagai seorang istri, ibu dan nenek,’’ tulis Barbara Bush pada 1988. ‘’Itulah saya. Dan saya ingin dikenal sebagai seseorang yang peduli pada rakyat dan bekerja keras setiap hari agar Amerika terbebas dari buta huruf,’’ kata Barbara Bush.
Datang ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya bukan hanya soal mengejar mimpi. Bagi banyak pendatang…
Komunitas Indonesia di Philadelphia kembali berduka. Nathali, seorang perempuan diaspora Indonesia berusia 72 tahun, meninggal…
"Saya tidak hanya kehilangan uang. Saya kehilangan kepercayaan kepada orang-orang yang saya anggap keluarga." Kalimat…
oleh: Nuria Soeharto Setelah tayang perdananya di Forum Papua Barat, di Auckland, Selandia Baru, pada…
Bagi ratusan ribu imigran muda yang dikenal sebagai Dreamers, Amerika selama bertahun-tahun terasa seperti rumah,…
Washington D.C. - On Monday, May 4th at the National Press Club, journalists, reporters, and…