Untuk pertama kalinya, ‘Kota Terlarang’ atau Forbiden City di Beijing, dibuka malam hari untuk umum sejak 94 tahun lalu. Kota terlarang yang menjadi kompleks perumahan para raja China itu dibuka Selasa 19 Februari 2019 lalu, bersamaan dengan berakhirnya liburan Tahun Baru Imlek.
The Washington Post mengabarkan, dinding istana dihiasi dengan ribuan lentera merah dan menerangi kawasan istana raja-raja China. Sementara itu pertunjukan drama tari digelar oleh Peking Opera bekerjasama dengan Orkes Tradisional Nasional China. Sebuah gambar gulungan kertas kuno berjudul ‘Seribu Sungai dan Pegunungan Li’ ditayangkan di atap istana.
Hanya 3 ribu pengunjung istimewa, menikmati acara langka itu, sementara jutaan warga China lainnya menikmati lewat layar televisi. Mereka yang hadir di antaranya 2.500 undangan khusus yang terdiri atas para pekerja teladan, pengantar surat teladan, tukang pembersih gorong-gorong, pegawai, tentara dan duta besar negara sahabat. 500 pengunjung lainnya adalah mereka yang memenangkan sayembara.
Sedangkan 3 ribu pengunjung tambahan lainnya memperoleh karcis masuk pada malam kedua pada Rabu 20 Februari 2019. ”Mereka bisa pamer pernah masuk ke kawasan itu pada malam hari,” bunyi cuitan seseorang di Weibo. Maklum, pada malam hari, para undangan khusus dapat melihat hantu atau makhluk halus yang konon hanya bergentayangan pada saat matahari tenggelam.
Kawasan Forbidden City biasanya ditutup pukul 17.00 waktu setempat. Para tamu VIP akhirnya dapat masuk ke kawasan itu pada malam hari, bersamaan dengan jamuan makan malam yang digelar Presiden Xi Jinping saat menjamu Presiden Donald Trump pada tahun 2017.
The Forbidden City adalah istana dan tempat tinggal kekaisaran Dinasti Ming dan Qing yang berkuasa antara tahun 1420 dan 1912, masa-masa terakhir jaman kekaisaran berkuasa di China. Kota Terlarang kemudian menjadi Museum Istana pada 1925 dan dinyatakan sebagai salah satu Peninggalan Bersejarah Dunia oleh UNESCO pada taun 19980-an.
Kini Museum Istana menjadi pusat wisata China. Kawasan yang selama ini dibuka untuk umum pada siang hari itu, kini lebih banyak diakses umum. Kurator Shan Jixiang ingin menjadikan seni tradisional China lebih mudah dinikmati masyarakat luas. Kini 80 persen dari kawasan itu bisa dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri. Shan Jixiang menargetkan 85 persen kawasan itu bisa dikunjungi pada tahun 2020 mendatang. (DP)
Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…
Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…
Sekitar 237 orang yang menjadi korban penipuan investasi bodong di AS, bisa bernafas sedikit lega.…
Datang ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya bukan hanya soal mengejar mimpi. Bagi banyak pendatang…
Komunitas Indonesia di Philadelphia kembali berduka. Nathali, seorang perempuan diaspora Indonesia berusia 72 tahun, meninggal…
"Saya tidak hanya kehilangan uang. Saya kehilangan kepercayaan kepada orang-orang yang saya anggap keluarga." Kalimat…