Categories: AchievementEconomy

Ratusan Rumah Seharga $ 1.00 Dapat Dibeli di Kota-kota AS

Anda dapat membeli rumah seharga $ 1.00 di sejumlah kota di Amerika Serikat. Di Kota Gary, Indiana; St. Louis, Missouri tercatat ada 500 rumah yang masing-masing dapat dibeli hanya dengan satu dolar saja.

Tak hanya itu. Situs insider.com mengungkapkan, rumah seharga sekitar Rp 14 ribu bisa dibeli di kota-kota seperti Buffalo di negara bagian New York dan Detroit, Michigan. Dua kota yang pernah menjadi jantung ekonomi Amerika itu, kini berubah menjadi ‘Rust Belt’ atau ‘Sabuk Karatan’, setelah industri baja terpuruk di tahun 1980-an.

Seiring dengan menurunnya industri manufaktur, kota-kota Sabuk Karatan kehilangan potensi ekonomi, dan penduduknya mulai bermigrasi ke kota lain. Rumah-rumah kosong pun berderet karena pemerintah lokal tak mampu menghancurkannya. ”Rumah-rumah kosong menyebar bagai penyakit menular,” tulis laporan Lincoln Institute of Land Policy and Center for Community Progress.

Untuk membenahi hal itu, sejumlah Pemda menjual properti kosong itu seharga $ 1.00. Harapannya agar pemilik baru, bisa memperbaiki atau merenovasi rumah mereka. Prasyarat yang ditentukan, pembeli ‘Rumah Satu Dolar’ diwajibkan tinggal di rumahnya selama tiga tahun dan memperbaiki rumahnya dalam waktu 18 bulan.

Syarat itu diterapkan lewat Urban Homestead Program di Buffalo, New York. Setiap calon pembeli diwajibkan memiliki pendapatan minimal $ 3 ribu atau sekitar Rp 40 juta sebulan. Ini gaji rata-rata karyawan kelas menengah di AS.

Sayang, para pembeli biasanya kabur setelah menghabiskan $ 400 sebelum melakukan renovasi. Maklum, selain $ 1.00 pembeli diharuskan membayar ongkos administrasi $ 25.00 dan membeli asuransi sebesar $ 250 dan mengikuti kelas konsultasi cara mengelola rumah.

Lebih-lebih menurut Departemen Pembangunan Komunitas di Indiana, biaya renovasi sebuah rumah berkisar $ 20 ribu sampai $ 30 ribu. Sedangkan harga rumah di Gary sekitar $ 46 ribu.

Hampir seluruh properti di kota-kota Gary, Indiana, St Louis, dan Buffalo rata-rata rusak parah. Jendelanya rontok, dindingnya terkelupas, atapnya bocor dan peralatan rumah tangga banyak yang karatan akibat lama ditinggal penghuninya. Sehingga tidak layak huni. Akibatnya, kota-kota itu bukan cuma disebut ‘Sabuk Karatan’ tetapi juga jadi ‘Kota Hantu’. (DP)

.

Recent Posts

Anak Jaksel Berkarier di The New York Times

Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…

7 days ago

40 Hari Mengenang James F. Sundah, Beasiswa Riset Hak Cipta Diluncurkan

Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…

2 weeks ago

Cerita Chef Diaspora Bikin Kuliner Nusantara Mendunia

Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…

2 weeks ago

Diaspora Global Summit 2: Dari Brain Drain Menuju Brain Gain

Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…

3 weeks ago

Dari Nol di Negeri Orang: Pelajaran Hidup dari Berbagai Pekerjaan di Amerika

Datang ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya bukan hanya soal mengejar mimpi. Bagi banyak pendatang…

4 weeks ago