Categories: Events

Kaum Supremasi Kulit Putih AS Kagumi Keberhasilan Taliban!!!

Kelompok supremasi kulit putih AS dan ekstrimis anti-pemerintah menyatakan kagum dengan keberhasilan Taliban mengusir tentara AS dari Afghanistan. Sementara kelompok kanan jauh menyatakan sentimen anti pengungsi warga Afghan yang ditampung di AS.

Kantor berita CNN mengabarkan Rabu 1 September 2021, ”Mereka, termasuk kelompok ekstrim menilai aksi Taliban sebuah kesuksesan dan dianggap bisa menjadi model untuk menyulut perang saudara di AS,” tutur John Cohen, Kepala Kantor Departemen Keamanan, Intelijen dan Analisis Dalam Negeri AS, dalam wawancara Jumat pekan lalu.

Dalam kesempatan itu, Cohen mengungkapkan Kementerian Dalam Negeri (DHS) juga menggelar diskusi tertutup tentang ”Konsep Pengganti” – sebuah teori bahwa relokasi imigran Afghanistan ke AS, bakal menyebabkan kaum kulit putih Amerika akan kehilangan otoritas dan kontrol di AS. ”Ada keprihatinan bahwa hal itu akan menyulut aksi kekerasan terhadap komunitas imigran, komunitas agama tertentu, bahkan terhadap mereka yang baru ditampung di sini,” lanjut John Cohen.

Hasil analisa terbaru SITE Inteligence Group, sebuah organisasi non-pemerintah AS yang memantau kegiatan online kaum supremasi kulit putih dan organisasi jihad mengungkapkan komunitas ekstrim sayap kanan seakan dibangkitkan kembali dengan peristiwa di Afghanistan. ”Entah oleh keinginan mereka untuk meniru sepak terjang Taliban, atau retorika yang disulut oleh invasi kaum pengungsi Afghanistan,” bunyi analisa itu.

John Cohen (ABC News)

Sebuah kutipan dari The Proud Boys to Fascist Pipeline Telegram menyebutkan, ”Kelompok Taliban itu, setidaknya melatih orang-orangnya untuk mengambil alih pemerintahannya, dan menerapkan agama nasional sebagai hukum dan mengeksekusi mereka yang membangkang,” bunyi kutipan tadi.

”Seandainya para penduduk kulit putih di Barat, memiliki keberanian yang sama dengan Taliban, maka kita tidak akan diperintah kaum Yahudi seperti sekarang ini,” lanjut kutipan yang dipasang di SITE Intelligence Group. Ini adalah kelompok organisasi non-pemerintah AS yang memantau kegiatan kaum supremasi putihdan organisasi Jihad.

Ketakutan terhadap Islam atau Islamophobia dan Xenopobhia disuarakan kaum supremasi Kulit Putih dan aktivis anti-Muslim. ”Mereka menyatakan keamanan umum dan nasional terancam karena mereka melihat para pengungsi dianggap sebagai sebagai kriminal atau teroris,” tutur Joanna Medelson, associate director of Anti-Defamation League’s Center on Extremism.

Sentimen kaum kulit putih itu, juga mulai dirasakan di Eropa dan negara Barat lainnya. Sejak Februari, menurut Dewan Keamanan PBB, jumlah pengungsi Afghanistan mencapai 308 ribu pengungsi. ”Jauh melebihi jumlah Taliban yang berkisar antara 58 ribu hingga 100 ribu,” tulis laporan CNN.

Hal yang sama juga dirasakan pada tahun 2010-an manakala saat dunia kebanjiran pengungsi Libya dan Suriah. Kala itu terjadi penyerangan teror di beberapa gereja Kristen dan Pittsburgh, tulis SITE. Tak cuma itu. Komentar dan di ajang forum tertutup, banyak peserta diskusi yang berniat melakukan aksi kekerasan, termasuk mengeluarkan ancaman ke Refugee Asistance Organizations di Florida. Perlu waspada dan hati-hati. (DP)

.

View Comments

  • Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.

  • I don't think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.

  • Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.

Recent Posts

Perempuan dan Masa Depan Diplomasi

Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang…

3 days ago

Wajar Bukan Berarti Benar

Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan…

6 days ago

Anak Jaksel Berkarier di The New York Times

Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…

2 weeks ago

40 Hari Mengenang James F. Sundah, Beasiswa Riset Hak Cipta Diluncurkan

Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…

4 weeks ago

Cerita Chef Diaspora Bikin Kuliner Nusantara Mendunia

Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…

4 weeks ago

Diaspora Global Summit 2: Dari Brain Drain Menuju Brain Gain

Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…

1 month ago