Kisah Pilu Sopiyah Sukadi Korban KDRT di Falls Church, Virginia

Kisah kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT, pernah dialami Sopiyah Sukadi. Wanita kelahiran Madiun, Jawa Timur ini menjadi korban aksi kekerasan yang dilakukan Carlos Edgardo Mejia.

Pria asal San Pedro Sula, Honduras itu dikenalnya pada tahun 2000, pada waktu Sopiyah menjadi baby sitter. Keduanya bertemu saat Sopiyah momong anak balita di sebuah taman di Falls Church, Virginia. ‘’Saat bertemu pertama kali Carlos tampak tampan dan saya jatuh hati,’’ tutur Sopiyah yang sudah memiliki seorang putri dari suaminya terdahulu namun meninggal di tanah air karena sakit.

Bersama mantan suaminya, Carlos Edgardo Mejia (koleksi pribadi)

Pada Oktober 2002 pasangan ini pun menikah resmi di catatan sipil dan tinggal bersama keluarga Carlos di Falls Church. ‘’Awalnya kami hidup bahagia karena kami masing-masing bekerja. Dia bekerja sebagai pekerja konstruksi dan saya mengasuh orang tua,’’ ujar Sopiyah yang waktu itu berusia 30 tahun dan Carlos berusia 33 tahun. 

Carlos yang berbadan kekar mulai menunjukkan tanda-tanda kekerasan setelah Sopiyah melahirkan putri mereka, Fredesvinda Sukadi Mejia, dua tahun kemudian. ‘’Padahal sebelumnya tidak mabuk dan baik,’’ kata Sopiyah. Setiap hari Carlos minum bir berbagai merk, mulai Budweiser, Corona atau Heineken. Hampir setiap pulang kerja, lelaki asal Honduras itu membawa berbotol-botol bir dan mabuk bersama teman-temannya.

Bersama mantan suaminya, Carlos Mejia (koleksi pribadi)

Lama kelamaan Sopiyah pun jengah. Ia memberi peringatan keras agar berhenti mabuk. Malah ada kalanya bir atau anggur yang baru dibeli suaminya langsung dibuang di tempat sampah. Hal inilah yang tampaknya membuat Carlos marah dan membentak istrinya hingga ketakutan. ‘’Saya juga nggak bisa tidur karena menyetel lagu Spanyol keras-keras,’’ tuturnya.

Baca juga: Angelina Jolie dan Akta Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Carlos juga melakukan pemukulan, setiap kali bir atau minuman lainnya dibuang pada tahun 2004. ‘’Tangan, kaki dan anggota badan lainnya jadi sasaran,’’ kata Sopiyah yang bertahan demi masa depan putrinya. Bahkan Carlos pernah menggigit kaki putrinya.

Yang lebih gila lagi, Carlos tidur bersama pelacur kulit putih di kamar mereka. ‘’Saya memergokinya pada saat saya ingin melihat rekaman putri saya di kamera kami. Ternyata di situ suamiku mabuk bersama perempuan bule itu,’’ kata Sopiyah seraya menjelaskan, suaminya tengah bekerja.

Sopiyah akhirnya bertekad keluar dari rumah malam hari. ‘’Kopor saya dilempar Carlos,’’ kata Sopiyah bercerita. Ia pun melarikan diri menerabas kegelapan sambil melihat-lihat tetangganya yang bisa dihampiri untuk mendapatkan pertolongan.

Akhirnya Sopiyah menuju ke rumah Joann Cautier, wanita kulit hitam yang tinggal dua blok dari rumahnya. ‘’Udaranya sangat dingin dan saya tidak pakai baju hangat. Cuma seragam baby sitter. Saya menyeret kopor sambil menggendong Vinda,’’ jelasnya. Di tempat itulah Sopiyah mendapat bantuan sepenuhnya, termasuk kesaksian Joann Cautier, atas perilaku kasar mantan suaminya.

Hingga kini Sopiyah tak mau bertemu dengan mantan suaminya. Gugatan cerai telah dilayangkan dan permohonannya dikabulkan hakim setempat, dua pekan setelah keluar dari apartemennya. 

Awalnya Carlos tidak mau bercerai. Dia sempat memukul kaca rumah Joan hingga pecah karena ingin ketemu putrinya. Bahkan pernah mabuk sambil membawa palu untuk menghancurkan rumah tetangganya, sambil berteriak: ‘’Sopi open the door, I want to see my baby Vinda,’’ tuturnya. Tapi akhirnya Carlos bersedia menanda tangani surat cerai.

Bersama keluarga barunya. (koleksi pribadi)

Sopiyah kini telah menikah lagi pada tahun 2012, dan hidup bahagia bersama Rosidian Novandri. Mereka tinggal di Arlington, Virginia bersama dua putrinya, yakni: Febrian Elip Rohana, putri pertama dari suami pertamanya yang meninggal dunia karena sakit, dan Redesvinda Sukadi Mejiadi. (DP)

 

.

View Comments

  • Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.

  • Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.

Recent Posts

Perempuan dan Masa Depan Diplomasi

Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang…

6 days ago

Wajar Bukan Berarti Benar

Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan…

1 week ago

Anak Jaksel Berkarier di The New York Times

Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…

3 weeks ago

40 Hari Mengenang James F. Sundah, Beasiswa Riset Hak Cipta Diluncurkan

Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…

4 weeks ago

Cerita Chef Diaspora Bikin Kuliner Nusantara Mendunia

Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…

4 weeks ago

Diaspora Global Summit 2: Dari Brain Drain Menuju Brain Gain

Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…

1 month ago