Isu biaya hidup, inflasi, dan imigrasi kerap mendominasi pemberitaan media di Amerika Serikat. Di tengah berbagai persoalan tersebut, bagaimana pandangan komunitas Asian American, Native Hawaiian, and Pacific Islander (AAPI) terhadap kondisi sosial dan politik saat ini?
Sebuah studi bertajuk By the Numbers: Voices of Community yang dilakukan oleh AAPI Data bekerja sama dengan Associated Press dan NORC mengungkapkan sejumlah kekhawatiran utama yang dihadapi komunitas AAPI. Lima isu teratas yang paling menjadi perhatian adalah biaya hidup dan inflasi, lapangan kerja dan perekonomian, layanan kesehatan, pelestarian demokrasi, serta imigrasi. Prioritas ini mengalami perubahan dari waktu ke waktu, dengan isu imigrasi sempat menempati posisi teratas pada Januari 2025. Kenaikan harga barang akibat kebijakan tarif serta meningkatnya tekanan finansial diduga turut memengaruhi perubahan ini.

Meskipun posisinya menurun dalam daftar prioritas, imigrasi tetap menjadi isu yang sangat relevan bagi warga AAPI. Survei menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh orang dewasa AAPI tidak menyetujui cara pemerintahan Donald Trump menangani isu imigrasi. Selain itu, enam dari sepuluh responden menolak taktik penegakan hukum seperti pengerahan militer atau Garda Nasional untuk menangkap dan mendeportasi imigran, penggunaan masker oleh agen saat penangkapan, serta penangkapan imigran di tempat kerja. Dibandingkan dengan publik secara umum, warga AAPI lebih cenderung menilai bahwa kebijakan deportasi terhadap imigran tidak berdokumen telah melampaui batas (67% dibanding 49%).
Menurut Manjusha Kulkarni, salah satu pendiri Stop AAPI Hate sekaligus Direktur Eksekutif AAPI Equity Alliance, perubahan sikap ini tidak lepas dari meningkatnya konsumsi berita di kalangan komunitas AAPI, baik melalui media lokal maupun media sosial. Tayangan kekerasan yang melibatkan agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE)—termasuk terhadap lansia dan penyandang disabilitas—membangkitkan trauma kolektif karena mengingatkan pada kekerasan negara yang pernah dialami di negara asal banyak imigran.

Temuan utama dari studi ini menunjukkan bahwa warga AAPI sangat peduli terhadap kondisi negara dan arah kebijakan pemerintah. Penurunan tingkat persetujuan terhadap pemerintahan saat ini memang terjadi dengan kecepatan yang berbeda-beda, namun arah opini publik bergerak konsisten ke satu arah: ketidakpuasan yang semakin meningkat.
Di balik kekhawatiran tersebut, terdapat sisi positif yang patut dicatat. Studi ini menegaskan bahwa komunitas AAPI adalah komunitas yang aktif, responsif terhadap kebijakan publik, dan peduli terhadap kesejahteraan demokrasi. Warga AAPI merespons ajakan untuk bertindak dan terbuka terhadap kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan mereka.
Komunitas ini menuntut adanya sistem imigrasi yang berfungsi dengan adil dan manusiawi, tanpa memisahkan keluarga dan menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat. Warga AAPI menyadari pentingnya peran mereka dalam menuntut akuntabilitas pemerintah serta mendorong para pembuat kebijakan agar benar-benar merespons kebutuhan komunitas.
-Kintan Silvany-

