Ramadan kali ini, di usiaku yang hampir 60 tahun, mengingatkanku akan perkembangan pemahamanku tentang makna puasa. Perjalanan itu tidak linear, namun jelas telah membentuk diriku.
Aku belajar berpuasa sejak usia SD. Pada masa itu, puasa merupakan latihan menahan diri: tidak makan, tidak minum, tidak marah, tidak menangis. Intinya, tidak menginginkan apa pun. Menahan diri sejak matahari terbit sampai terbenam selama satu bulan penuh. Pada usia yang masih polos itu, puasa terasa lugas. Mudah, sederhana, bahkan menyenangkan. Aku menjalaninya karena semua orang di sekitarku juga melakukannya.
Ritualnya pun semarak, penuh kegembiraan. Bangun pukul tiga pagi untuk membantu ibu menyiapkan sahur, membangunkan ayah dan abangku pukul empat, lalu makan bersama dalam keadaan setengah mengantuk. Sore dan malam hari juga punya keseruannya sendiri. Berbuka di rumah ditemani hangatnya obrolan dan kebersamaan, lalu tarawih hingga kantuk menyerang. Menjelang Idulfitri, kami bermobil menempuh perjalanan panjang delapan jam ke luar kota untuk berkumpul dengan keluarga besar, bertemu sepupu, tante, om, kakek, dan nenek. Tawa dan cerita mengalir di sela-sela hidangan yang seakan hadir tanpa henti. Bertahun-tahun lamanya, puasa bagiku tak lebih dari perayaan komunal. Mudah, sederhana, membahagiakan.
Seiring bertambahnya usia, puasa pun menjadi lebih bernuansa, menjadi sebuah disiplin pribadi. Aku menemukan kemampuan untuk melepaskan diri dari hasrat fisik. Duduk saat jam makan siang bersama teman-teman non-Muslim tanpa tergoda, atau bertahan bekerja di lapangan di bawah teriknya matahari tropis tanpa menyerah pada rasa haus. Puasa menjadi semacam ritual kekuatan batin, ujian atas kemauan dan pengendalian diri.
Kemudian, ada satu masa ketika puasa terasa betul-betul personal, sebagai bentuk penebusan diri, cermin untuk menatap ke dalam. Saat itu, puasa adalah latihan menahan bukan hanya lapar dan haus, tetapi juga gairah, emosi, dan keterikatan yang berlebihan. Ramadan merupakan bulan refleksi, berdamai dengan kekurangan diri, meredam keinginan-keinginan impulsif yang sering tak terkendali.
Belakangan, sudut pandangku kembali bergeser. Nilai-nilai humanisme mulai ikut berbicara. Aku mulai mempertanyakan makna puasa, atau ritual apa pun dalam keagamaan, dalam upaya mencapai pencerahan spiritual. Aku melihat kebaikan tulus dari mereka yang mengaku tak beriman, dan sebaliknya, ketidakjujuran dari mereka yang mengaku saleh. Pengamatan-pengamatan itu membuatku mengevaluasi ulang tujuan puasa. Benarkah ia jalan menuju surga, kalau surga memang ada? Ataukah ia sesuatu yang lebih membumi, lebih manusiawi?
Lima belas tahun terakhir, ketika usia dan pengalaman ikut membentuk cara pandang sekaligus kondisi kesehatanku, aku melihat puasa sebagai bentuk detoksifikasi, fisik dan mental. Aku seperti merangkum semua pelajaran yang kupetik selama ini. Bagiku, puasa tak lagi semata-mata terikat pada agama. Puasa menjadi bagian dari jaringan sistem keyakinan yang berkelindan dengan praktik budaya dan cara hidup. Puasa mengandung disiplin dan kerendahan hati.
Kini, menoleh ke belakang, aku bersyukur. Berbagai refleksi ini mengingatkanku betapa dalam dan berlapisnya makna Ramadan. Aku menjalani puasa dengan hati dan jiwa yang lebih tenang.
-Nuria Soeharto-

Nuria Soeharto menyelesaikan S1 Sastra Prancis dan S2 Antropologi Komunikasi di Universitas Indonesia, serta S3 Antropologi Teknologi Informasi dan Komunikasi di Université de Paris-8, Prancis. Lebih dari 20 tahun berkiprah di bidang media untuk berbagai organisasi kemanusiaan internasional. Selama 12 tahun ia tinggal, belajar, serta bekerja di Prancis, Kosovo, Palestina, dan Swedia. Kembali ke Jakarta pada 2017, sembari menemani ibunya yang mengalami demensia, ia menerbitkan delapan buku memoar.

