DW.COM — Mencintai Indonesia sungguh bukan pekerjaan mudah. Setelah bertahun-tahun menjalani era demokrasi yang “berisik” dan seringkali menjengkelkan, ada baiknya Anda membaca sebuah novel yang mungkin bisa mengingatkan kembali arti menjadi bagian dari sebuah proyek bernama Indonesia.
Tahun 1982, Leila S. Chudori pergi kuliah ke Kanada, negeri multikultural yang damai dengan standar hidup yang jauh lebih “menjanjikan“. Enam tahun hidup di negeri yang “tertib“ tak membuat Leila kehilangan selera atas tanah airnya. Ia memilih pulang: kembali ke tempat yang chaos, sumpek dan penuh persoalan.
“Karena tanah air ini sungguh remuk luka, penuh persoalan… Manusia Indonesia? Manusia yang gemar duit dan malas bekerja, yang gemar bergunjing hanya untuk kesenangan sehari-hari, yang main tembak, yang mempermainkan hukum…“ tulis Leila dalam peringatan 40 hari kepergian ayahnya.
“Tetapi, seperti kata Ayah pula, Indonesia juga memiliki matahari yang hangat. Ada banyak orang yang baik, yang peduli, yang bekerja tanpa mengeluh, banyak yang terus menerus berpeluh tanpa pamrih agar sekedar sejengkal-dua-jengkal tanah air ini membaik.”
Leila selalu pergi dan pasti kembali. Setelah beberapa tahun “menghilang“, Leila yang ditulis KOMPAS sebagai anak emas sastra Indonesia, kembali.
Karya terbarunya adalah “Pulang”, sebuah novel memikat dengan latar belakang politik pasca `65 dan berpuncak pada reformasi `98. Tentang mereka yang tersisih dari Republik: para eksil dan keturunannya yang ditampik, tapi tak pernah lelah mencari makna tentang bagaimana mencintai sebuah negeri bernama Indonesia.
Baca selengkapnya di www.dw.com
oleh: Nuria Soeharto Setelah tayang perdananya di Forum Papua Barat, di Auckland, Selandia Baru, pada…
Bagi ratusan ribu imigran muda yang dikenal sebagai Dreamers, Amerika selama bertahun-tahun terasa seperti rumah,…
Washington D.C. - On Monday, May 4th at the National Press Club, journalists, reporters, and…
On Friday, May 8th, at Xfinity Live! Casino & Hotel, business leaders, community members, and…
On Wednesday, May 6th, at Ballers Philadelphia, a social sports club in Fishtown, tech entrepreneurs…
Ketika banyak kota tuan rumah FIFA World Cup 2026 mulai menaikkan tarif transportasi umum demi…