Categories: Uncategorized

Ojek Khusus bagi Para Difabel karya Triyono

BBC Indonesia — Sebuah layanan ojek dirintis di Yogyakarta untuk menyediakan sarana transportasi yang nyaman untuk para difabel. Unik, karena para pengendaranya pun orang-orang yang punya kebutuhan khusus. “Susah cari angkot, susah banget,” kata Muryati seorang penjahit yang sudah berkursi roda sejak kecil.

Siang itu, BBC Indonesia sengaja mengikuti Muryati ke jalan besar di kota Yogyakarta untuk mengetahui apakah ada bus yang berhenti untuk mengangkutnya. Ada tiga bus, Muryati melambai, tapi semua lewat begitu saja. “Mereka alasannya tidak ada krunya, jadi penumpang biasanya naik saja. Tapi kalau difabel seperti kita jelas kesulitan. Bosan, sedih, kecewa jadi satu.”

Transportasi umum yang tidak ramah menjadi tantangan besar bagi para difabel untuk beraktivitas. Sebagian memilih ojek yang lebih praktis, tetapi jasa ini tergolong mahal bagi mereka yang pendapatannya pas-pasan. “Pernah saya habis satu juta untuk satu bulan. Tekor: penghasilan saya cuma Rp500 ribu,” kata Pardiono, tuna netra yang bekerja sebagai tukang pijat.

Ojek difabel di Yogyakarta (galaberita.com)

Berangkat dari kebutuhan ini, Triyono seorang pengusaha berusia 35 tahun, merintis layanan ojek untuk para difabel. Triyono sendiri diserangpolio ketika kecil dan kemudian harus menggunakan dua tongkat untuk berjalan. Dia mengerti betul bagaimana susahnya ‘bertarung di jalan raya’.

“Hanya segelintir (bus) yang mau (berhenti). Belum lagi ketika kita turun, belum sempat kaki menginjak, (bus) sudah jalan. Berapa puluh yang jatuh? Saya juga pernah juga jatuh. Dari mana segi nyamannya untuk kita?” katanya.

Satu-satunya di dunia

Difa City Tour dan Transport dirintis Triyono sejak Desember tahun lalu dan kini telah mengoperasikan 15 motor – yang dimodifikasi dengan tambahan bangku di samping. Layanannya tidak hanya terbatas untuk mengantar jemput para difabel, tetapi juga bisa mengantar orang-orang biasa dan turis untuk berkeliling Yogyakarta.

Muryati mengaku tertolong karena dia tak perlu turun dari kursi roda untuk melakukan perjalanan. Ada motor yang bisa langsung mengangkut kursi roda miliknya. “Awalnya takut, karena biasanya saya naik ojek bisa pegangan pengendara. Kalau ini, saya di samping dan kadang melaju kencang, tapi lama-lama terbiasa juga.” (selengkapnya klik di sini www.bbc.com)

IL

Recent Posts

Perempuan dan Masa Depan Diplomasi

Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang…

1 day ago

Wajar Bukan Berarti Benar

Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan…

3 days ago

Anak Jaksel Berkarier di The New York Times

Lahir dari ayah Amerika dan ibu Panama, Nick Swyter tumbuh besar di Jakarta, menjelajahi jalan-jalan…

2 weeks ago

40 Hari Mengenang James F. Sundah, Beasiswa Riset Hak Cipta Diluncurkan

Empat puluh hari setelah kepergian komposer dan pencipta lagu legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, sebuah…

3 weeks ago

Cerita Chef Diaspora Bikin Kuliner Nusantara Mendunia

Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…

4 weeks ago

Diaspora Global Summit 2: Dari Brain Drain Menuju Brain Gain

Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…

1 month ago