Pemerintah Pakistan meminta bantuan jejaring sosial Facebook dan Twitter mengidentifikasi warga Pakistan yang menghujat Islam dan menghina Nabi Muhammad SAW.
The Guardian mengabarkan Jumat (17/3/2017) permintaan itu disampaikan ke dua jejaring sosial itu oleh seorang diplomat Pakistan di Washington DC. ‘’Kami telah menyampaikan permintaan ke dua media sosial tersebut untuk mengidentifikasi warga Pakistan yang ada di dalam negeri maupun luar negeri yang mengunggah materi yang menyerang Islam,’’ ujar Chaudhry Nisar Ali Khan, Menteri Dalam Negeri Pakistan. Chaudhry juga menjelaskan, Pemerintah Pakistan telah mengidentifikasi 11 orang untuk dimintai keterangan soal penghinaan itu, dan minta negara asing untuk mengekstradisi tersangka yang berada di luar negeri.
Pihak Facebook menyatakan akan mempertimbangkan permintaan Pakistan secara hati-hati. ‘’Agar privasi dan hak-hak pengguna Facebook tetap terjaga,’’ bunyi pernyataan resmi linimasa tersebut. Pernyataan itu menambahkan bahwa pihaknya akan memberikan informasi para pengguna Facebook sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku. ‘’Pemerintah internasional diminta menyampaikan pemohonan resmi. Termasuk kasus ini,’’ bunyi pernyataan Facebook.
Facebook mengalami sejumlah kendala bila berhadapan dengan dan sistem sensor yang diterapkan ratusan negara asing. Februari lalu, Mark Zuckerberg, CEO Facebook memberikan salah satu solusi, ‘’Yakni menciptakan proses demokratis untuk menentukan standar Artificial Inteligen, AI agar permintaan itu bisa dipenuhi,’’ ujarnya.
Untuk itu, Facebook akan menanyakan para pemilik akun di seluruh dunia lewat sebuah jajak pendapat. Antara lain menanyakan isi atau konten apa yang dianggap bisa diterima di sosial media. Isi atau konten yang dianggap melanggar standar nasional atau perorangan, diberi tanda merah oleh AI dan akan dihapus secara otomatis.
Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi…
Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha,…
Sekitar 237 orang yang menjadi korban penipuan investasi bodong di AS, bisa bernafas sedikit lega.…
Datang ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya bukan hanya soal mengejar mimpi. Bagi banyak pendatang…
Komunitas Indonesia di Philadelphia kembali berduka. Nathali, seorang perempuan diaspora Indonesia berusia 72 tahun, meninggal…
"Saya tidak hanya kehilangan uang. Saya kehilangan kepercayaan kepada orang-orang yang saya anggap keluarga." Kalimat…