WASHINGTON, DC - AUGUST 10: U.S. President Barack Obama speaks at an Iftar dinner celebrating Ramadan in the State Dining Room of the White House August 10, 2012 in Washington, DC. The invited guests include elected officials, religious and grassroots leaders in the Muslim American community, leaders of diverse faiths and members of the diplomatic corps . (Photo by Olivier Douliery-Pool/Getty Images)
Presiden Donald Trump tidak menggelar acara Iftar, atau buka bersama mengakhiri bulan Ramadan dengan umat Muslim di Gedung Putih. BBC.com mengabarkan Senin (26/6/2017), padahal acara buka bersama itu digelar setiap tahun dan tradisi itu dilakukan Gedung Putrih sejak 20 tahun terakhir.
Menurut kantor berita Reuters, Menteri Luar negeri AS Rex Tillerson yang menolak untuk memberi rekomendasi kepada Departemen Luar Negeri urusan agama dan urusan global, penyelenggara acara tersebut. Sebaliknya, Menlu Rex Tillerson hanya mengucapkan ‘’Selamat bagi seluruh Umat Muslim yang merayakan Idul Fitri,’’ bunyi pernyataan resminya.
Ucapan selamat juga diungkapkan Presiden Donald Trump kepada Umat Muslim. ‘’Atas nama seluruh rakyat Amerika, Melania dan saya mengirimkan ucapan yang hangat bagi umat Muslim yang merayakan Idul Fitri,’’ bunyi pernyataan resmi Trump. Orang nomor satu AS itu pernah dikecam karena menggunakan retorika anti-Muslim. Pada saat berkampanye dalam Pilpres 2016, Trump meminta agar masjid-masjid di AS dipasangi kamera pengintai.
Buka bersama Iftar digelar di Gedung Putih pernah dilakukan oleh Mendiang Thomas Jefferson pada 1805 untuk tamunya dari Tunisia. Kemudian acara itu dihidupkan kembali oleh Hillary Clinton, saat menjadi ibu negara pada 1996. Sejak tahun 1999, Gedung Putih menyelenggarakan acara Iftar sebagai upacara tradisional tiap tahun yang dihadiri para pemuka agama Islam, diplomat dan para anggota parlemen AS.
Acara menggelar Iftar di Gedung Putih sempat tampil di halaman situs departemen Luar negeri. Namun acara berjudul ‘Thomas Jefferson’ Iftar’ itu dihapus namun masih dicatat sebagai arsip dalam situs tersebut.
SaveSave
SaveSave
Datang ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya bukan hanya soal mengejar mimpi. Bagi banyak pendatang…
Komunitas Indonesia di Philadelphia kembali berduka. Nathali, seorang perempuan diaspora Indonesia berusia 72 tahun, meninggal…
"Saya tidak hanya kehilangan uang. Saya kehilangan kepercayaan kepada orang-orang yang saya anggap keluarga." Kalimat…
oleh: Nuria Soeharto Setelah tayang perdananya di Forum Papua Barat, di Auckland, Selandia Baru, pada…
Bagi ratusan ribu imigran muda yang dikenal sebagai Dreamers, Amerika selama bertahun-tahun terasa seperti rumah,…
Washington D.C. - On Monday, May 4th at the National Press Club, journalists, reporters, and…